Connect with us

Entertainment

Resolusi Dinda Kanya Dewi Untuk Tahun 2019 “Ingin Keluar Dari Zona Nyaman”

Published

on


Resolusi Dinda Kanya Dewi Untuk Tahun 2019 “Ingin Keluar Dari Zona Nyaman” %

Finroll.com — Tahun 2018 akan berakhir dalam beberapa jam lagi dan tahun 2019 datang menyambut dengan gegap gempita. Biasanya setiap orang memiliki resolusi atau tujuan yang akan ditunaikan sebagai sebuah jalan baru di tahun yang baru.

Tidak terkecuali bagi akrtis cantik Dinda Kanya Dewi. Untuk tahun 2019, perempuan berusia 31 tahun ini mau melakukan hal baru dan keluar dari zona nyaman lho.

“Jadi 2019 itu agak enggak terlalu punya angan-angan. Paling lebih ke travelling, terus pengen melakukan sesuatu yang keluar dari comfort zone, misalnya naik gunung,” ujarnya ketika ditemui di kawasan Thamrin, Jakarta, Senin (31/12).

Aktris yang bermain di film Milly & Mamet ini pun mengaku sudah lama ingin naik gunung. Namun ia baru menemukan teman-teman yang bisa dipercaya untuk menemani pendakian.

Baca Lainnya: Westlife Akhirnya Kembali Dengan Melakukan Rekaman Yang Akan Dirilis 2019 Mendatang

“Penasaran aja sih. Tahun 2019 mau di realisasikan karena udah ketemu teman yang jago terus udah nanya-nanya, ini gue harus beli apa dulu nih,” sambungnya.

Terkait dengan keinginannya naik gunung itu, Dinda mengaku masih menemui masalah terutama pada penyesuaian waktu di tengah kesibukannya berperan dalam sinetron.

“Cuma masalahnya waktu aja, belum tahu naik gunung apa. Tergantung temen saya ini. Jadi nanti dia yang milih gunung yang enggak terlalu tinggi atau gimana. Papandayan kek atau apa, Indonesia aja dulu lah. Itu impian aku,” tutupnya.

Sumber: Antara

Advertisement Valbury

Entertainment

Film Pertama Sukses, Sekuel Bird Box Masuk Tahap Pengembangan

Published

on

Finroll – Jakarta, Usai meraih kesuksesan dua tahun lalu, Netflix dilaporkan menggarap sekuel film Bird Box yang kini sudah masuk tahap pengembangan.

Kabar ini dikonfirmasi langsung oleh novelis yang karyanya menjadi inspirasi Bird Box, Johs Malerman, dalam wawancara khusus dengan Inverse.

“Saya tidak bisa berkata banyak, tapi saya bisa mengonfirmasi bahwa (sekuel) itu dalam tahap pengembangan. Kadang terasa aneh dengan segala kerahasiaan ini, tapi saya bersemangat,” ujar Malerman seperti dikutip NME.

Malerman enggan mengungkap lebih jauh kisah sekuel Bird Box. Namun, ia mengisyaratkan bahwa sekuel tersebut kemungkinan bakal diambil dari sinopsis kelanjutan novelnya, Malorie, yang akan dirilis bulan ini.

Film Bird Box pertama yang diadaptasi dari novel Malerman mengangkat kisah seorang ibu (Sandra Bullock) ketika berupaya menyelamatkan diri sendiri dan anak-anaknya dari rentetan peristiwa aneh.

Kala itu, banyak orang seperti kerasukan makhluk aneh yang membuat mereka merasakan ketakutan hingga menjadi gila dan akhirnya bunuh diri.

Dari forum audio, Bullock akhirnya mengetahui bahwa manusia baru dapat dirasuki jika mereka melihat makhluk tersebut. Ia pun menutup matanya dan anak-anaknya dengan kain dan berupaya kabur sejauh mungkin.

Selain Bullock, film itu juga dibintangi sederet aktor lainnya, seperti Trevante Rhodes, John Malkovich, dan Machine Gun Kelly. Film ini membawa kesuksesan besar bagi Netflix dengan rekor penonton terbanyak dalam seminggu penayangan.

Malorie sendiri berlatar waktu 12 tahun setelah novel pertama. Dengan demikian, anak-anak yang ada dalam film tersebut sudah masuk usia remaja.

Sinopsis buku itu juga mengungkap bahwa monster yang ada dalam novel pertama kini “berubah menjadi sesuatu yang lebih menakutkan.”

Sumber : CNN Indonesia

Continue Reading

Entertainment

September 2020, Marvel Rilis Komik Pertama Ultraman

Published

on

Finroll – Jakarta, Marvel Comics baru-baru ini membagikan gambaran awal komik pertama Ultraman yang menjadi kolaborasinya bersama Tsuburaya Productions, bertepatan dengan peringatan #UltramanDay.

Gambaran awal itu berupa sampul beserta bocoran halaman pembuka komik yang bertajuk “The Rise of Ultraman #1” lewat situs resmi Marvel. Selain itu, turut diumumkan bahwa komik ini bakal diterbitkan pada September mendatang.

“Di seluruh dunia, Ultraman adalah ikon dan karakter yang diakui dengan baik sebagaimana Spider-Man atau Iron Man, jadi ketika ada kesempatan bagi kami untuk memperkenalkan mitos-mitosnya kepada generasi baru, seperti yang terlihat melalui lensa Marvel, kami tidak ingin menyepelekan tanggung jawab itu,” kata Tom Brevoort, selaku Editor Eksekutif Marvel, dalam sebuah pernyataan.

“Untuk penggemar seri klasik pada 1966, akan ada banyak teka-teki yang akan Anda kenali. Tetapi bagi mereka yang belum pernah mengetahui cerita Ultraman sebelumnya, seri ini akan dimulai dari awal – menggambarkan pertarungan epik yang cocok untuk zaman modern,” tambahnya dikutip dari ComicBook.

Marvel menyatukan penulis Kyle Higgins (dikenal dengan karya Mighty Morphin Power Rangers, Winter Soldier), Mat Groom (Self/Made), bersama dengan seniman kenamaan Francesco Manna (Avengers, Fantastic Four), Michael Cho (Captain America), dan Gurihiru (The Unstoppable Wasp) untuk petualangan baru di semesta Ultraman dan membawa penggemar kembali ke hari-hari kegelapan, di mana Kaiju yang menakutkan mengintai.

“Dengan merilis seri Marvel Rise of Ultraman, Tsuburaya Productions dan mitra kami di Marvel Comics membawa Ultraman melangkah maju ke panggung global,” kata Takayuki Tsukagoshi, selaku CEO Tsuburaya.

Dia menambahkan bahwa penggarapan Marvel akan kisah Ultraman ini dibuat dengan menjunjung penuh rasa hormat, kualitas, dan kreativitas yang menghasilkan alur cerita dengan memperluas dunia karakter tersebut.

Pada November 2019, Marvel Comics dan pemegang lisensi Ultraman Tsuburaya Productions mengungkapkan kolaborasi eksklusif mereka. Rencana produksi komik barunya kemudian disampaikan pada Maret lalu di Chicago Comic & Entertainment Expo (C2E2) ketika Editor-in-Chief Marvel C.B. Cebulski meluncurkan rincian seri 2020, termasuk The Rise of Ultraman.

“Sebagai salah satu waralaba paling populer di dunia, Ultraman telah menyatukan beberapa fandom paling bersemangat dalam budaya pop hari ini, dan kami tidak sabar untuk menyampaikan kisahnya kepada lebih banyak penggemar di seluruh dunia,” kata Cebulski kala itu.

Karakter pahlawan super Ultraman pertama kali muncul pada Juli 1966 lewat serial televisi.

Tokoh tersebut diceritakan sebagai manusia yang berasal dari planet lain. Ia datang ke Bumi karena sedang memburu monster yang bernama Bemular.

Dengan alat khusus, Ultraman bisa berubah menjadi seukuran raksasa selama tiga menit. Ia memiliki kostum berwarna silver dengan beberapa garis merah.

Di dada Ultraman terdapat lampu yang akan berkedip dan berbunyi bila durasi tiga menit ia sebagai raksasa akan habis.

Karakter Ultraman yang menjadi bagian dari budaya pop Jepang terus berkembang dari masa ke masa. Hampir di setiap dekade selalu ada serial Ultraman.

The Rise of Ultraman #1 dijadwalkan rilis pada 9 September mendatang.

Sumber : CNN Indonesia

Continue Reading

Entertainment

Papa T Bob Meninggal Sebelum Penggalangan Dana Terlaksana

Published

on

Finroll – Jakarta, Kerabat mendiang Papa T Bob mengakui mereka berencana mengadakan penggalangan dana untuk membantu perawatan musisi tersebut. Namun pencipta lagu anak-anak itu meninggal lebih dulu sebelum rencana itu terlaksana.

Salah satu kerabat Papa T Bob dan penulis lagu anak-anak, Kak Nunuk, menjelaskan kondisi Papa T Bob semakin memburuk belakangan ini. Ia meninggal karena komplikasi sakit diabetes.

“Kondisi Papa T Bob sudah memburuk. Kami, kerabat Papa T Bob, sedang merencanakan malam donasi lewat kanal YouTube Ruben Onsu pada tanggal 23 Juli,” kata Nugroho Setiadi alias Kak Nunuk kepada CNNIndonesia.com melalui sambungan telepon, Jumat (10/7).

Kak Nunuk belum tahu apakah penggalan dana akan tetap berlangsung lantaran Papa T Bob sudah meninggal. Pasalnya acara tersebut berkaitan dengan banyak kerabat Papa T Bob.

Lebih lanjut, kak Nunuk tidak tahu pasti sejak kapan Papa T Bob sakit diabates. Namun sekitar tiga tahun lalu Papa T Bob sempat mengeluhkan penyakitnya pada Kak Nunuk.

“Beliau sakit diabetes sudah parah. Sudah lari ke jantung dan kemana-mana, yang pasti sudah parah sekali,” kata Kak Nunuk.

Berdasarkan informasi yang diketahui Kak Nunuk, Papa T Bob tidak selalu dirawat di rumah sakit karena masalah ekonomi. Oleh karena itu kerabat Papa T Bob berencana menggelar penggalangan dana.

Antara memberitakan Papa T Bob meninggal dunia pada Jumat (10/7) pukul 10.35 WIB. Jenazah Papa T Bob juga rencananya akan dikebumikan di Bintaro, namun belum ada keterangan waktu yang pasti karena keluarga masih berunding.

Papa T Bob sebelumnya diketahui sempat dirawat di rumah sakit pada April lalu akibat penyakit komplikasi yang disebabkan oleh diabetes yang ia derita. Namun pada Juni, disebutkan bahwa kondisi Papa T Bob membaik dan menjalani rawat jalan.

Lahir pada 22 Oktober 1960, Papa T Bob merupakan pencipta lagu anak-anak kenamaan Indonesia terutama era 90an. Sejumlah lagu hit anak-anak seperti Diobok-obok, Anak Ajaib, Katanya, Bolo-Bolo, Si Nyamuk Nakal, Dudidam, serta Si Lumba-lumba merupakan karyanya.

Pencipta lagu bernama asli Erwanda Lukas ini dikenal dengan aturan harus melihat sang artis terlebih dahulu sebelum menciptakan lagu. Hal itu dilakukan supaya bisa membayangkan lagu yang pantas dibawakan dan sesuai dengan karakter sang artis.

Sumber : CNN Indonesia

Continue Reading
Advertisement

Advertisement
Advertisement

Trending