Connect with us

Entertainment

Review ‘Gundala’: Awal yang Menjanjikan untuk Film Superhero Indonesia

Published

on


Finroll.com – Sancaka kecil (Muzakki Ramdhan) hidup dalam situasi yang mencekam di negaranya. Ia anak dari seorang pekerja pabrik sekaligus aktivis.

Suatu ketika, ayah Sancaka menjadi pemimpin demo di pabrik tempatnya bekerja. Namun, alih-alih mendapat keadilan—sebagaimana yang menjadi tuntutan oleh para pendemo—ia justru tewas bersimbah darah di hadapan anaknya.
Saat menyaksikan peristiwa itu, sebuah petir menyambar tubuh Sancaka dan membuatnya pingsan.

Setahun berselang, Sancaka masih dirundung duka atas kepergian sang ayah. Di tengah kesedihannya, kenyataan pahit lainnya terpaksa ia telan. Sang ibu pergi meninggalkannya dan tak kunjung kembali.

Sancaka kemudian terpaksa meninggalkan rumah dan bekerja serabutan demi menghidupi diri sendiri. Tak jarang ia menjadi sasaran tindak kekerasan dari anak jalanan lainnya.

Suatu hari, Sancaka mendapat bantuan dari Awang (Fariz Fajar) yang mengajarkannya ilmu bela diri. Dengan belajar ilmu bela diri, ia diharapkan untuk bisa melindungi diri sendiri dalam menghadapi ganasnya kehidupan.

Tak hanya itu, Awang juga memberi nasihat pada Sancaka untuk tidak mencampuri urusan orang lain. Pesan itu diingat oleh Sancaka hingga ia dewasa dan membuatnya menjadi sosok yang tak peka terhadap lingkungan.

Sancaka dewasa (Abimana Aryasatya) bekerja sebagai petugas keamanan di sebuah perusahaan percetakan koran. Ia bekerja bersama Agung (Pritt Timothy) di kantor tersebut.

Pada suatu waktu, seorang maling yang tengah dikejar oleh massa meminta bantuan pada Sancaka agar bisa masuk ke kantornya untuk bersembunyi. Namun, ia tak peduli, terlebih mengingat maling itu dianggapnya tak perlu ditolong.

Maling tersebut justru ditolong oleh Agung, yang kemudian membawanya ke kantor polisi. Agung lalu mengingatkan Sancaka untuk mulai peduli pada lingkungan sekitar.

Sementara itu, Sancaka tinggal di sebuah rumah susun. Ia bertetangga dengan Wulan (Tara Basro) dan adiknya yang bernama Tedy.

Setiap hari, kediaman Wulan selalu didatangi oleh preman. Awalnya, Sancaka tak peduli dengan apa yang terjadi. Namun, lama-kelamaan, hatinya mulai tergerak untuk menolong perempuan itu.

Film ‘Gundala’ diadaptasi dari komik ciptaan Hasmi yang dirilis pada 1960-an. Sebelumnya, ‘Gundala’ juga sudah pernah difilmkan dan tayang pada 1981.

Joko Anwar, sebagai nakhoda film ‘Gundala’, membuat sejumlah perubahan di film tersebut demi menyesuaikan zaman. Kalian bisa menyaksikannya sendiri di bioskop untuk mengetahui perbedaannya.

Aksi Abimana Aryasatya sebagai Sancaka di film ‘Gundala’ patut diacungi jempol. Ia mampu merepresentasikan sosok laki-laki dengan latar belakang menyedihkan, yang memiliki dilema untuk menjadi seorang biasa atau bangkit menjadi pahlawan untuk mereka yang tertindas.

Hanya saja, di beberapa adegan laga, Abimana masih terlihat berpikir untuk melancarkan koreografi laganya.

Apresiasi perlu diberikan juga pada Muzakki Ramdhan, pemeran Sancaka kecil. Ekspresinya sebagai anak jalanan yang tertindas tampak cukup natural. Ia pun mampu mengeksekusi adegan laga dengan baik.

‘Gundala’ bisa menjadi angin segar buat para pencinta film-film superhero yang mengidamkan sentuhan lokal. Hanya saja, ‘Gundala’ tentu bukan film yang pas untuk dibandingkan dengan film-film Marvel Cinematic Universe (MCU) dan DC Extended Universe (DCEU) lantaran ada banyak perbedaan di antaranya.

Meskipun jagoan utamanya sama-sama menggunakan kostum, ‘Gundala’ lebih banyak menampilkan adegan bertarung dari jarak dekat ketimbang ketika Sancaka menggunakan kekuatan petirnya. Hal itu, bisa jadi, karena Gundala masih dalam pencarian jati diri.

Selain itu, seperti telah diketahui, berbagai teknologi canggih menjadi pemandangan yang menyegarkan dalam film-film MCU dan DCEU. Nah, lain halnya dengan ‘Gundala’ yang justru memuat sensasi mitos dan klenik, yang sudah tak asing lagi dengan masyarakat Indonesia.

Film berdurasi dua jam tiga menit ini bisa dibilang cukup berat lantaran Joko Anwar ‘memainkan’ permasalahan politik dan kekuasaan di dalamnya. Namun, jangan khawatir dulu, ditampilkan pula elemen komedi segar yang penempatannya pas dan berhasil terasa menghibur.

‘Gundala’ juga tak bersifat sadis dan berdarah-darah. Oleh sebab itu, film tersebut cocok untuk disaksikan bersama keluarga.

‘Gundala’ akan menjadi gerbang pembuka untuk film-film Jagat Sinema Bumilangit. Film ‘Sri Asih’ kini tengah dipersiapkan sebagai lanjutan.

Film ‘Gundala’ sudah tayang dan bisa disaksikan di bioskop mulai hari ini, Kamis (29/8).

Advertisement Valbury

Entertainment

Papa T Bob Meninggal Sebelum Penggalangan Dana Terlaksana

Published

on

Finroll – Jakarta, Kerabat mendiang Papa T Bob mengakui mereka berencana mengadakan penggalangan dana untuk membantu perawatan musisi tersebut. Namun pencipta lagu anak-anak itu meninggal lebih dulu sebelum rencana itu terlaksana.

Salah satu kerabat Papa T Bob dan penulis lagu anak-anak, Kak Nunuk, menjelaskan kondisi Papa T Bob semakin memburuk belakangan ini. Ia meninggal karena komplikasi sakit diabetes.

“Kondisi Papa T Bob sudah memburuk. Kami, kerabat Papa T Bob, sedang merencanakan malam donasi lewat kanal YouTube Ruben Onsu pada tanggal 23 Juli,” kata Nugroho Setiadi alias Kak Nunuk kepada CNNIndonesia.com melalui sambungan telepon, Jumat (10/7).

Kak Nunuk belum tahu apakah penggalan dana akan tetap berlangsung lantaran Papa T Bob sudah meninggal. Pasalnya acara tersebut berkaitan dengan banyak kerabat Papa T Bob.

Lebih lanjut, kak Nunuk tidak tahu pasti sejak kapan Papa T Bob sakit diabates. Namun sekitar tiga tahun lalu Papa T Bob sempat mengeluhkan penyakitnya pada Kak Nunuk.

“Beliau sakit diabetes sudah parah. Sudah lari ke jantung dan kemana-mana, yang pasti sudah parah sekali,” kata Kak Nunuk.

Berdasarkan informasi yang diketahui Kak Nunuk, Papa T Bob tidak selalu dirawat di rumah sakit karena masalah ekonomi. Oleh karena itu kerabat Papa T Bob berencana menggelar penggalangan dana.

Antara memberitakan Papa T Bob meninggal dunia pada Jumat (10/7) pukul 10.35 WIB. Jenazah Papa T Bob juga rencananya akan dikebumikan di Bintaro, namun belum ada keterangan waktu yang pasti karena keluarga masih berunding.

Papa T Bob sebelumnya diketahui sempat dirawat di rumah sakit pada April lalu akibat penyakit komplikasi yang disebabkan oleh diabetes yang ia derita. Namun pada Juni, disebutkan bahwa kondisi Papa T Bob membaik dan menjalani rawat jalan.

Lahir pada 22 Oktober 1960, Papa T Bob merupakan pencipta lagu anak-anak kenamaan Indonesia terutama era 90an. Sejumlah lagu hit anak-anak seperti Diobok-obok, Anak Ajaib, Katanya, Bolo-Bolo, Si Nyamuk Nakal, Dudidam, serta Si Lumba-lumba merupakan karyanya.

Pencipta lagu bernama asli Erwanda Lukas ini dikenal dengan aturan harus melihat sang artis terlebih dahulu sebelum menciptakan lagu. Hal itu dilakukan supaya bisa membayangkan lagu yang pantas dibawakan dan sesuai dengan karakter sang artis.

Sumber : CNN Indonesia

Continue Reading

Entertainment

Train to Busan 2, Peninsula Akan Tayang Agustus 2020 di Indonesia

Published

on

Finroll – Jakarta, Film Train to Busan 2: Peninsula bakal tayang di Indonesia pada Agustus 2020. Hal tersebut diumumkan CBI Pictures selaku distributor film Peninsula, Kamis (9/7), atau beberapa hari setelah bioskop di Indonesia menyatakan siap buka pada akhir Juli 2020.

“Poster resmi #TrainToBusan presents #Peninsula hanya di bioskop pada Agustus 2020,” tulis CBI Pictures melalui akun resmi Twitternya pada Kamis (9/7).

Pengumuman itu disampaikan bersama dengan unggahan poster resmi berbahasa Indonesia untuk sekuel dari film horor terlaris sepanjang sejarah Korea Selatan tersebut.

“Empat tahun setelah Train to Busan. Bertahan hidup sampai akhir,” tulisan di poster Peninsula.

Apabila tak ada perubahan, hal itu menandai penayangan di Indonesia hanya berselang kurang dari satu bulan pemutaran perdana Peninsula di Korea Selatan pada 15 Juli.

Sebelumnya, NEW selaku distributor film sudah mengumumkan bahwa hak tayang Peninsula suda terjual ke 185 negara, termasuk Taiwan, Thailand, Jepang, Inggris, Prancis, dan Italia. Capaian Peninsula ini melampaui pendahulunya, Train to Busan, yang sebelumnya terjual ke 160 negara dan kawasan.

Penayangan Peninsula di Taiwan dan Hong Kong bahkan akan dilakukan bersamaan dengan perilisan perdana di Korea Selatan pada 15 Juli. Sehari kemudian, film tersebut akan tayang di Malaysia.

Peninsula menjadi salah satu film yang paling dinantikan tayang pada 2020. Film ini tetap disutradarai Yeon Sang-ho namun akan memiliki pergantian total seluruh pemain.

Sekuel dari Train to Busan ini akan dibintangi Kang Dong-won (1987: When the Day Comes), Lee Jung-hyun (The Battleship Island), Kwon Hae-hyo, Kim Min-hae (Psychokinesis), serta Lee Ye-won.

Mereka menjadi sekelompok orang yang menjalankan misi dan terpaksa kembali ke Korea Selatan atau yang kini dikenal sebagai Peninsula setelah wabah zombi menyerang empat tahun lalu.

Dalam menjalankan misi, mereka juga menyelamatkan orang-orang yang masih bertahan hidup tapi terjebak di Semenanjung Korea.

Mereka juga harus bertempur melawan zombi yang semakin ganas dari sebelumnya. Ia juga harus bertempur dengan kelompok militer yang tak pernah dibayangkan.

Peninsula semakin menjadi sorotan setelah terpilih untuk meramaikan Cannes Film Festival 2020.

Terpisah, Dinas Pariwisata DKI Jakarta sudah mengizinkan bioskop Jakarta kembali beroperasi pada pekan ini. Dalam SK dengan nomor 140 Tahun 2020 tersebut, tertulis bahwa pemutaran film di bioskop diperbolehkan beroperasi mulai 6-16 Juli 2020.

SK tersebut juga menyebutkan bahwa pembukaan kembali tempat hiburan di Jakarta mesti mengikuti sejumlah protokol dan mensyaratkan penandatanganan pakta integritas di lokasi yang bisa dilihat oleh pengunjung.

Sejumlah protokol kesehatan yang mesti dipatuhi ikut dilampirkan dalam SK tersebut, seperti memaksimalkan pekerja di bawah usia 45 tahun, mewajibkan pekerja dan pengunjung mengenakan masker, melakukan disinfektasi di area, dan menyediakan fasilitas cuci tangan.

Namun, pada Selasa (7/7), Gabungan Pengusaha Bioskop Indonesia (GPBSI) menyatakan siap beroperasi pada 29 Juli mendatang.

GPBSI mengambil keputusan ini merujuk pada Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Nomor 02/KB/2020 yang dirilis pada 2 Juli lalu.

Sumber : CNN Indonesia

Continue Reading

Entertainment

Nicholas Saputra hingga Eva Celia di Podcast Sandiwara Sastra

Published

on

Finroll – Jakarta, Sejumlah pesohor Indonesia, mulai dari Nicholas Saputra hingga Eva Celia, bergabung dalam proyek Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk membuat siniar atau podcast bertajuk Sandiwara Sastra.

Berdasarkan siaran pers Kemdikbud yang diterima CNNIndonesia.com, Selasa (7/7), siniar tersebut akan berisi adaptasi karya-karya sastra Indonesia.

Di tahap pertama, ada 10 karya sastra yang dapat dinikmati, yakni adaptasi dari novel “Ronggeng Dukuh Paruk” karya Ahmad Tohari, “Helen dan Sukanta” karya Pidi Baiq,  “Layar Terkembang” karya Sutan Takdir Alisjahbana, “Orang-orang Oetimu” karya Felix K. Nesi, serta “Lalita” karya Ayu Utami.

Ada pula cerpen “Berita dari Kebayoran” karya Pramoedya Ananta Toer, “Seribu Kunang-kunang di Manhattan” karya Umar Kayam, “Persekot” karya Eka Kurniawan, “Kemerdekaan” karya Putu Wijaya, dan “Mencari Herman” karya Dee Lestari.

Adaptasi tersebut akan dibawakan oleh sederet pesohor, mulai dari Nicholas Saputra, Adinia Wirasti, Ario Bayu, Arswendy Bening Swara, Asmara Abigail, Atiqah Hasiholan, Chelsea Islan, Chicco Jerikho, Christine Hakim, Happy Salma, Lukman Sardi, dan Lulu Tobing.

Akan ada pula Marsha Timothy, Mathias Muchus, Maudy Koesnaedi, Najwa Shihab, Nino Kayam, Oka Antara, Pevita Pearce, Reza Rahadian, Rio Dewanto, Vino G. Bastian, Widi Mulia, serta Tara Basro.

Selain itu, bintang muda seperti Iqbaal Ramadhan, Jefri Nichol, Kevin Ardillova, dan Eva Celia pun akan ikut sumbang suara.

Podcast itu akan disutradarai oleh aktor dan sutradara dari Teater Garasi, Gunawan Maryanto. Sementara itu, Happy Salma juga akan bertindak sebagai produser bersama Yulia Evina Bhara.

Podcast ini mengusung konsep alih wahana karya tulis ke dalam medium audio yang ditujukan untuk memperkenalkan serta menghidupkan kembali karya-karya sastra Indonesia.

“Sastra menempati posisi penting dalam pemajuan budaya dan pembentukan karakter bangsa,” ujar Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim, dalam siaran pers.

Lebih lanjut, Nadiem menyampaikan bahwa podcast ini merupakan bentuk inovasi dan bagian dari program Belajar dari Rumah di masa pandemi Covid-19.

“Seperti sekarang ini, pandemi memberi waktu bagi kita memetik makna dan belajar menjadi manusia kuat yang mampu menyongsong masa depan. Sandiwara Sastra bukan hanya menjadi sebuah karya seni dan inovasi. Lebih dari itu, ini adalah jalan untuk mengangkat literasi,” katanya.

Sandiwara Sastra akan disiarkan mulai Rabu (8/7) pukul 17.00 WIB. Nantinya, setiap hari Rabu akan ada episode baru. Podcast berdurasi 30 menit ini akan
disiarkan melalui Radio Republik Indonesia (RRI).

Sumber : CNN Indonesia

Continue Reading
Advertisement

Advertisement
Advertisement

Trending