Connect with us

Business

Rumor Gojek Caplok Blue Bird, Tiga Pilar Rilis Saham Baru

Published

on


gojek

Finroll.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 0,35% ke level 6.362,62 pada perdagangan Rabu kemarin (3/7/2019) setelah sempat hari berturut-turut menguat.

Kinerja IHSG senada dengan seluruh bursa saham utama kawasan Asia yang sedang kompak ditransaksikan di zona merah: indeks Nikkei turun 0,53%, indeks Shanghai turun 0,94%, indeks Hang Seng terkoreksi 0,07%, indeks Straits Times mimus 0,12%, dan indeks Kospi anjlok 1,23%.

Sebelum perdagangan Kamis ini (4/7/2019) dibuka, ada baiknya kembali mencermati aksi dan peristiwa emiten sebagaimana dihimpun dalam pemberitaan CNBC Indonesia:

1.Rumor Gojek Caplok 20% Saham, Bos Blue Bird: Kami Terbuka…
Direktur Utama PT Blue Bird Tbk (BIRD) Noni Sri Ayati Purnomo buka suara mengenai kabar yang beredar di kalangan pelaku pasar terkait dengan rencana Gojek mencaplok 20% saham Blue Bird.

Rumor Gojek masuk ke Blue Bird sebetulnya sudah mengemuka sejak Mei lalu. Kala itu, Gojek yang memiliki valuasi US$ 10 miliar (data The Global Unicorn Club, CBInsights) sempat dikabarkan akan masuk lewat penerbitan saham baru atau rights issue. Dalam perkembangan terbaru, Gojek dikabarkan bakal membeli 20% dan sudah menunjukkan penasihat investasi, Morgan Stanley untuk mengatur proses ini.

Noni Purnomo menyatakan, sebagai perusahaan publik, pada dasarnya Blue Bird selalu terbuka bagi siapa saja yang berminat membeli saham perseroan. Namun, mengenai rumor di pasar mengenai Gojek, pihaknya belum menerima konfirmasi dari Gojek.

“Karena kami perusahaan publik, kami terbuka kepada siapa saja yang ingin membeli saham Blue Bird, tetapi kan musti ditanyakan, saya baca juga da keinginan dari pihak Go-Jek, baiknya ditanya pihak yang berkeinginan,” kata Noni di Jakarta, Rabu (3/7/2019).

2.Data Center Diakuisisi Princeton, Saham EXCL Ditutup Amblas
Harga saham operator telekomunikasi PT XL Axiata Tbk (EXCL) ditutup amblas pada perdagangan Rabu ini (3/7/2019) di level Rp 2.860/saham, atau minus hingga 3,38%. Koreksi ini terjadi di tengah informasi bahwa Data Center milik perseroan diakuisisi mayoritas oleh Princeton Digital Group.

Data Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat, saham EXCL ditransaksikan sebesar Rp 22,75 miliar dengan volume perdagangan 7,89 juta saham. Secara year to date, saham EXCL menguat 44,44% kendati asing mengurangi ramai menjual saham EXCL pada periode ini mencapai Rp 686 miliar di semua pasar. Kemarin, investor asing melepas (net sell) Rp 8,84 miliar di pasar reguler.

Dalam keterangan resminya, Princeton Digital Group (PDG) mengakuisisi kepemilikan mayoritas di portofolio bisnis Data Center XL Axiata di Indonesia, dengan komitmen sebesar US$ 100 Juta untuk pertumbuhan modal. Nilai tersebut setara dengan Rp 1,41 triliun.

3.Trada Alam Rilis 100 Miliar Saham Baru
Emiten pertambangan mineral PT Trada Alam Minera Tbk (TRAM) bakal melakukan penambahan modal melalui penerbitan saham baru dengan memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) atau rights issue guna membayarkan utang perusahaan.

Tak tanggung-tanggung, jumlah saham baru yang akan diterbitkan mencapai 201,43% dari modal ditempatkan dan disetor perusahaan.
Mengacu laporan keuangan per Maret 2019, total kewajiban TRAM mencapai Rp 2,79 triliun, terbagi atas kewajiban jangka pendek Rp 1,67 triliun dan jangka panjang Rp 1,21 triliun.

Jika ditelisik lebih dalam, utang terbesar berasal dari utang bank jangka pendek Rp 368 miliar, utang usaha pihak ketiga Rp 211 miliar, utang MTN (medium term notes) Rp 399,62 miliar, dan utang bank dan lembaga keuangan Rp 281 miliar.

4.Butuh Investor Lagi, Tiga Pilar Lepas 1,56 Miliar Saham Baru
Setelah menyelesaikan seluruh proses Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) anak usahanya, PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk (AISA) atau TPS Food bakal mencari investor baru untuk menyuntikkan modal ke perusahaan.

Penambahan modal ini akan dilakukan perusahaan dengan skema penerbitan saham baru tanpa memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (non-HMETD) alias private placement.

Berdasarkan prospektus yang dirilis perseroan pada Rabu ini (3/7/2019), TPS Food bakal menerbitkan sebanyak-banyaknya 1,56 miliar saham baru. Jumlah itu setara dengan 32,77% dari modal yang ditempatkan dan disetor penuh perusahaan, dengan nominal Rp 200/saham.

Advertisement

Makro Ekonomi

Harga Batu Bara Masih Naik, Kuat Sampai Kapan?

Published

on

By

Finroll.com, Jakarta – Harga batu bara kembali ditutup naik pada perdagangan kemarin, Rabu (20/11/2019). Penguatan harga batu bara mengindikasikan adanya technical rebound dan belum dibarengi dengan perbaikan dari sisi fundamentalnya sehingga berpotensi kembali terkoreksi.

Harga batu bara kontrak ICE Newcastle ditutup di US$ 71,05/ton pada perdagangan kemarin atau naik 1% dibanding periode perdagangan sebelumnya.

Pekan lalu tepatnya pada 13 November 2019, Beijing mengumumkan untuk kembali mengetatkan kebijakan impor batu baranya. Beijing mengatakan secara lisan mengumumkan kepada semua otoritas pabean untuk menghentikan impor batu bara karena melebihi jumlah yang ditargetkan.

Beberapa pelabuhan di China telah mengimplementasikan kebijakan tersebut. Pelabuhan di provinsi Jiangsu Cina timur – termasuk Jiangyin, Zhenjiang dan Zhangjiagang – telah menghentikan berlabuhnya kapal-kapal dengan muatan batu bara, kata para pelaku pasar, melansir Argusmedia.

Impor batu bara China pada periode Januari-Oktober mencapai 276,24 juta ton naik 9,6% dibanding tahun lalu. Jika dibanding dengan total impor batu bara China tahun 2018 yang mencapai 281,23 juta ton, impor 10 bulan tahun 2019 hanya terpaut 4,99 juta ton.

Impor batu bara di negara-negara lain juga mengalami penurunan. Impor batu bara termal Jepang dan Korea Selatan sejak 1-19 November turun masing-masing menjadi 6,5 juta ton dan 4,9 juta ton dari sebelumnya 9,8 juta ton dan 6,5 juta ton pada November tahun lalu.

Impor batu bara India pada periode yang sama juga mengalami penurunan. Mengutip data Refinitiv, impor batu bara India mencapai 7,7 juta ton dari periode yang sama November tahun lalu sebesar 11,4 juta ton. Stok batu bara di seluruh pembangkit listrik di India naik menjadi 22,7 juta ton.

Harga batu bara kontrak futures ICE Newcastle berpotensi menguji titik resistensi terdekatnya di level US$ 71,75/ton – US$ 72,7/ton. (CNBCIndonesia)

Continue Reading

Ekonomi Global

AS-China Buntu, Harga Minyak Mentah Anjlok

Published

on

By

Finroll.com, Jakarta – Harga minyak mentah terkoreksi pagi ini, Kamis (21/11/2019). Hubungan AS-China yang kembali merenggang memunculkan kekhawatiran perlambatan permintaan minyak.

Pada 09.40 WIB, harga minyak mentah kontrak Brent turun 0,29% ke level US$ 62,23/barel. Di waktu yang sama harga minyak mentah acuan AS, West Texas Intermediate (WTI) juga turun 0,18% ke level US$ 56,91/barel.

Pergerakan harga minyak mentah digerakkan oleh faktor permintaan dan pasokan yang dipengaruhi oleh kondisi ekonomi dan politik global.

Dari sisi permintaan, kesepakatan dagang AS-China yang dikabarkan mundur hingga tahun depan memicu kekhawatiran permintaan minyak akan melambat dan membuat harga minyak tertekan.

Pembicaraan dagang antara AS-China tampak buntu, walau pun diskusi terus berlangsung dan dinilai berjalan konstruktif. Keyakinan ini diungkapkan Reuters melalui narasumber eksklusifnya yang berada di lingkaran Gedung Putih.

Tekanan China yang terus meminta agar AS menghapuskan lebih banyak tarif impor membuat pembicaraan mandek.

Bukan hanya itu, para pakar perdagangan dan sumber-sumber Reuters mengatakan negosiasi kini menjadi lebih rumit.

Trump menilai mengurangi bea masuk, seperti harapan China, membutuhkan kompensasi yang lebih besar.

 Sehingga harus ada hal yang lebih dari sekedar isu kekayaan intelektual dan transfer teknologi inti serta ekspor pertanian yang diajukan pemerintahan AS.

Pada 11 Oktober lalu, Presiden AS Donald Trump dan Menteri Keuangan Steven Mnuchin mengatakan bahwa kesepakatan dagang akan ditandatangani lima minggu dari pertemuan tersebut.

Tapi sayangnya hingga kini hal tersebut belum bisa terealisasi.

Sementara itu, dari pihak China, para pejabat mengatakan bahwa Presiden China Xi Jinping dan Trump mungkin akan menandatangani kesepakatan pada awal Desember.

Itu dikarenakan China berupaya memperoleh kesepakatan sebelum 15 Desember tiba.

Pada 15 Desember, AS telah menjadwalkan untuk menerapkan tarif impor baru pada barang-barang China senilai US$ 156 miliar. Barang-barang itu termasuk barang elektronik dan dekorasi Natal.

Banyak pihak percaya, jika kesepakatan fase satu dapat ditandatangani kedua negara sebelum 15 Desember, maka tarif baru itu akan batal dikenakan.

“Jika pembicaraan benar-benar berjalan dengan baik, kenaikan itu akan ditangguhkan,” kata Christian Whiton, seorang rekan senior untuk strategi dan perdagangan di Pusat Kepentingan Nasional, dan mantan penasihat administrasi Trump dan George W. Bush.

“Jika tidak, AS akan menerapkan (tarif)-nya dan itu akan membuat perang dagang berlanjut ke tahun depan.”

Menurut ahli strategi pasar AxiTrader Stephen Innes, pergerakan harga minyak memiliki korelasi positif dengan sentimen seputar hubungan dagang AS-China. Sehingga ketika sentimen negatif yang berhembus harga minyak berpeluang besar terkoreksi seperti pagi ini. (CNBCIndonesia)

Continue Reading

Business

Kideco Raih 3 Penghargaan Indonesian Mining Association Award 2019

Published

on

Finroll.com — PT Kideco Jaya Agung (Kideco), anak perusahaan energi terintegrasi PT Indika Energy Tbk, meraih 3 penghargaan sebagai Perusahaan dengan Pembayar Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNPB) Terbaik, Perusahaan Batubara Pengguna Produk

Dalam Negeri Terbaik dan Perusahaan Batubara Pelaksana Pemberdayaan Masyarakat Terbaik 2019 oleh Indonesian Mining Association (IMA).

Menteri ESDM Arifin Tasrif dan Ketua IMA Ido Hutabarat memberikan langsung penghargaan tersebut kepada Managing Director & CEO Indika Energy, Azis Armand.

Acara ini dihadiri oleh Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, yang dalam sambutannya mengatakan industri pertambangan merupakan salah satu sektor industri yang memberikan kontribusi besar bagi negara melalui peningkatan pendapatan ekspor, peningkatan aktivitas ekonomi, pembukaan lapangan kerja dan sumber pemasukan terhadap pendapatan baik untuk pemerintah daerah maupun pemerintah pusat. Presiden juga mengatakan saat ini Indonesia tetap membutuhkan batubara untuk berbagai hal.

“Indonesia memerlukan batubara untuk berbagai keperluan diantaranya untuk pembangkit listrik,” tegas Presiden dalam pidatonya.

Sementara itu Ketua Umum IMA, Ido Hutabarat mengatakan bahwa pencapaian sektor pertambangan dan kontribusinya bagi negara patut diapresiasi karena hal ini merupakan bentuk komitmen dan hasil kerja keras perusahaan-perusahaan di sektor pertambangan.

Berdasarkan data dari Kementerian ESDM, realisasi Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dari sektor mineral dan batu bara (minerba) hingga 23 September 2019 mencapai Rp 29,26 triliun. Realisasi
tersebut baru 67,62% dari target yang ditetapkan senilai Rp 43,27 triliun.

Penghargaan IMA digelar setiap tahun sebagai bentuk apresiasi terhadap perusahaan tambang dengan kinerja terbaik dalam beberapa aspek dan sekaligus untuk memberikan motivasi pada semua pihak agar meningkatkan kinerja masing-masing.

Kideco adalah perusahaan batubara milik Indika Energy dan merupakan salah satu yang terbesar dan terefisien di Indonesia. Kideco menargetkan capaian produksi sebesar 34 juta ton pada tahun 2019, dan hingga Oktober 2019, produksi batubara Kideco telah mencapai 28,7 juta ton.

Kideco memasok batubara bersih dan ramah lingkungan untuk pembangkit listrik tenaga uap yang menjadi kunci penggerak roda ekonomi masyarakat Indonesia.

Ke depannya, Kideco bersama Indika Energy Group akan terus menjajaki peluang dan
mengoptimalkan keunggulan operasional untuk terus memberikan kontribusi terbaik bagi Indonesia,” tutur Azis Armand usai menerima penghargaan.(red)

Continue Reading
Advertisement
Advertisement

Asco Global

Trending