Connect with us

Pasar Modal

Saham & Rupiah Bergejolak, Sri Mulyani: Bukan Kondisi Biasa

Published

on


Kementerian Keuangan bersama otoritas terkait yang terhimpun dalam Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) terus memonitor pergerakan pasar saham dan nilai tukar rupiah yang kemarin sempat bergejolak.

FINROLL.COM — Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, di Jakarta, mengakui, kondisi pasar saham dan nilai tukar pada perdagangan awal pekan ini, Senin (9/3/2020) terkoreksi tajam dan bergerak di luar kewajaran atau extraordinary terimbas sentimen negatif meluasnya virus Corona di berbagai negara dan kejatuhan harga minyak dunia.

“Kita betul-betul mengamati perkembangan yang terjadi sekarang ini. Perkembangan di pasar saham dan pasar nilai tukar, forex dan surat berharga negara itu semua menjadi perhatian kita perlu untuk yang terus kita ikuti dan waspadai, karena memang pergerakannya ini diakui seluruh dunia extra-ordinary, di luar kebiasaan,” terang Bendahara Negara, Selasa (10/3/2020).

Sri mengakui, jatuhnya pasar saham domestik sebesar 6,6% ke posisi 5.136,81 kemarin, Senin (9/3/2020), senada dengan penurunan bursa saham Wall Street, London, Jerman, Australia dan bursa saham regional. “Semua memberikan warning kepada kita bahwa ini bukan kondisi biasa,” tegasnya.

Kementerian, kata Sri Mulyani bersama-sama dengan Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), terus melakukan pemantauan pengaruh pergerakan di pasar keuangan ini terhadap stabilitas sistem keuangan Indonesia.

Mantan Direktur Eksekutif Bank Dunia ini menyebutkan, OJK telah menempuh kebijakan pengamanan meredam pelemahan IHSG lebih dalam melalaui kebijakan auto rejection asimetris. Artinya, saham yang volatilitasnya di atas 10% langsung terkena auto reject.

“Kemudian relaskasasi buyback saham tanpa ada RUPS, ini untuk mengembalikan rasionalitas pasar,” ujarnya.

“Sekarang ada ketidakamanan dan ketidaknyamanan karena virus atau kemudian perang minyak antara Saudi dan Rusia, mereka memunculkan ketidakamanan dan kenyamananan itu dengan mengalihkan investasi ke instrumen yang dianggap paling aman,” tandasnya.

Sumber Berita : CNBC INDONESIA

Pasar Modal

Pada Akhir Perdagangan Sesi I Hari Ini, IHSG pertahankan penguatan ke level 4.639

Published

on

Finroll – Jakarta, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 41,97 poin atau 0,91% ke 4.639,40 pada akhir perdagangan sesi I hari ini, Senin (11/5).

Sebanyak 224 saham naik, 138 saham turun dan 146 saham stagnan.

Hanya satu sektor saham yang berada di zona merah yakni sektor pertambangan yang turun 0,13%. Sedangkan sembilan sektor saham lainnya berhasil menjadi penopang penguatan IHSG.

Sektor-sektor saham dengan kenaikan tertinggi adalah sektor konstruksi yang naik 2,62%, sektor aneka industri naik 2,14% dan sektor perkebunan naik 1,34%.

Total volume perdagangan saham di bursa hingga sesi I hari ini mencapai 3,33 miliar saham dengan total nilai Rp 2,92 triliun.

Top gainers LQ45 hingga sesi I hari ini adalah:

  • PT Matahari Departement Store Tbk (LPPF) naik 19,20%
  • PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) naik 7,05%
  • PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) naik 5,88%

Top losers LQ45 hingga sesi I hari ini adalah:

  • PT Vale Indonesia Tbk (INCO) turun 0,97%
  • PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL) turun 0,63%
  • PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) turun 0,56%

Investor asing mencatatkan penjualan bersih Rp 182,28 miliar di seluruh pasar.

Saham-saham dengan penjualan bersih terbesar asing adalah PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) Rp 50,9 miliar, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) Rp 47,9 miliar dan PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) Rp 26,4 miliar.

 

Sumber : Kontan

Continue Reading

Keuangan

Rupiah Unjuk Gigi di Tengah Pelonggaran Aktivitas Masyarakat

Published

on

By

Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.912 per dolar AS pada pembukaan perdagangan pasar spot Senin (11/5). Mata uang Garuda ini menguat 7,5 poin atau 0,05 persen dari Rp14.912 per dolar AS pada perdagangan sebelumnya.

Rupiah terlihat bergerak menguat bersama beberapa mata uang lainnya di Asia. Tercatat, Won Korea Selatan menguat 0,37 persen, baht Thailand 0,21 persen, dan peso Filipina 0,23 persen.

Sementara, sejumlah mata uang Asia lain berada di teritori negatif. Misalnya, Ringgit Malaysia terkoreksi 0,24 persen dan yuan China 0,03 persen.

Kemudian, mata uang utama negara maju kompak menguat dari mata uang Negeri Paman Sam. Dolar Australia menguat 0,38 persen, rubel Rusia 0,25 persen, poundsterling Inggris 0,17 persen, dolar Kanada 0,14 persen, euro Eropa 0,08 persen, dan franc Swiss 0,1 persen.

Analis sekaligus Kepala Riset Monex Investindo Ariston Tjendra memproyeksi rupiah bergerak di kisaran Rp14.800-Rp15.150 per dolar AS har ini.

Menurutnya, rupiah akan menguat lantaran pasar merespons positif kegiatan ekonomi yang kembali bergerak di sejumlah negara setelah kasus virus corona mulai melandai.

“Dengan aktifnya kembali perekonomian diharapkan kondisi ekonomi bisa segera membaik,” tutur Ariston kepada CNNIndonesia.com.

Walaupun begitu, bukan berarti situasi ini akan berlangsung permanen. Ariston menilai pasar masih terus mewaspadai perkembangan kasus penyebaran virus corona di global.

“Pasar juga melihat dampak buruknya terhadap kondisi ekonomi yang bisa kembali menekan harga aset berisiko,” pungkas Ariston.

Continue Reading

Pasar Modal

Lion Air Tunda IPO $500 Juta Gara-Gara Bursa Global Anjlok

Published

on

By

Lion Air Indonesia telah menunda rencana penawaran umum perdana (IPO) lantaran terjadi pelemahan tajam bursa global, sumber mengatakan pada Jumat (28/02), di kala penyebaran virus covid-19 memicu kekhawatiran pandemi global.

FINROLL.COM —Dilansir Reuters Jumat (28/02) petang, keputusan IPO senilai $500 juta dari salah satu maskapai bertarif rendah terbesar di Asia ini diharapkan bakal diketahui nasibnya pada akhir Februari setelah bank-bank terkait menyelesaikan pemaparan rencana kepada investor di pusat keuangan global awal bulan ini.

Dua sumber mengatakan Lion Air, yang akan meluncurkan IPO pada awal Maret, akan mempertimbangkannya kembali hanya ketika pasar dalam keadaan stabil.

Maskapai penerbangan ini telah merencanakan IPO selama sekitar lima tahun.

Minggu ini, harga saham global anjlok parah di tengah kekhawatiran dampak ekonomi global yang berkelanjutan ketika virus covid-19 menyebar ke luar Cina. Sekitar 12 negara melaporkan kasus virus pertama dalam 24 jam terakhir.

Maskapai ini telah memangkas kapasitas penerbangan karena lemahnya permintaan diterpa gangguan virus pada pembatasan perjalanan internasional yang menghambat sektor ini.

Lion Air adalah bagian dari Lion Air Group, yang memiliki perusahaan patungan maskapai penerbangan di Malaysia dan Thailand, fasilitas pemeliharaan pesawat dan bisnis pengiriman. (INVENSTING.COM)

Continue Reading
Advertisement

Advertisement

Trending