Connect with us

Business

Sapuhi: Masih Banyak PPIU Yang Melanggar Perundang-Undangan

Published

on


Finroll.com — Arfi Hatim, Direktur Bina Umrah dan Haji Khusus Kementerian Agama (Kemenag)  membenarkan bahwa pihaknya kembali mencabut izin terhadap 3 PPIU (Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah) karean diaanggap telah terbukti melakukan pelanggaran perundang-undangan.

“Ketiga PPIU yang telah dicabut izinnya adalah PT. Zeinta Intan Kalimantan, PT. Yasmira Wisata Utama, dan PT. As Syirbani Mandiri Wisata. Ketiganya juga sudah dikeluarkan dari daftar PPIU Berizin di aplikasi umrah cerdas,” ungkap Arfi di Jakarta, beberapa waktu yang lalu.

“Ada yang karena melakukan pelanggaran berupa peminjaman legalitas kepada Non PPIU. Ada yang tidak menyediakan tiket kepulangan, dan tidak memulangkan jemaah umrah sesuai dengan masa berlaku visa di Arab Saudi,”ujarnya.

Kepala Subdit Perizinan, Akreditasi dan Bina PPIU Direktorat Bina Umrah dan Haji Khusus M. Ali Zakiyudin menambahkan, selain cabut izin, Kemenag juga telah menjatuhkan sanksi peringatan tertulis kepada empat PPIU lainnya.

Sanksi ini diberikan disebabkan keempat PPIU tersebut terbukti melakukan pelanggaran berupa penundaan jadwal keberangkatan, penerbangan dengan dua kali transit atau lebih,  tidak membuatkan identitas/kartu tanda pengenal jemaah umrah sesuai ketentuan, serta operasional kantor perwakilan yang tidak sesuai ketentuan.

“Jika kesalahan yang berakibat peringatan tertulis ini terulang, maka sanksi akan ditingkatkan menjadi pembekuan. Yaitu, tidak boleh beroperasi, paling lama dua tahun,” ungkap Zaki.

Sebelumnya, Kasubdit Pengawasan Umrah Noer Aliya Fitra (Nafit), sejak awal 2019, Kemenag total telah menjatuhkan sanksi kepada 12 PPIU. Sebanyak lima PPIU dicabut izinnya. Sebelumnya, dua PPIU yang dicabut izinnya adalah PT. Joe Pentha Wisata dan PT. Bumi Minang Pertiwi. Sementara tujuh PPIU menerima sanksi peringatan tertulis.

“Penjatuhan sanksi ini menjadi pembelajaran bagi PPIU lainnya agar selalu mengikuti regulasi penyelenggaraan ibadah umrah,” tuturnya.

Menanggapi pencabutan izin sejumlah PPIU, Syam Resfiadi (Ketua Umum SAPUHI) angkat bicara. Menurut Syam, temuan pelanggaran oleh ketiga PPIU tersebut hanya segelintir bagian dari PPIU lain yang dalam prekteknya memang menyalahi aturan.

“Kalo saya melihat, seharusnya ada lebih banyak lagi PPIU lain yang dicabut izin operasinya karena pada prakteknya banyak yang menyalahi aturan yang berlaku,” ungkap Syam.lewat sambungan ponsel, (Selasa 11/12).

Disinggung terkait indikasi pencabutan izin ketiga PPIU yang dimaksudkan, CEO PT Patuna Mekar Jaya ini menambahkan, ada beberapa hal tentunya, salah satunya persaingan bisnis di industri umrah yang  belakangan kian bersaing dengan kehadiran.

“Umrah ini kan beda dari bisnis-bisnis lain karena sifatnya ibadah dengan membantu orang lain untuk menjalankan ibadah, jadi tidak sekedar mengejar keuntungan duniawi tapi juga akherat,” sambung Syam.(sumber Zonaekbis.com)

 

Advertisement Valbury

Ekonomi Global

Perang Minyak : Trump Sebut Rusia & Arab Saudi Gila

Published

on

By

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyebut perang minyak yang terjadi sekarang memukul AS. Bahkan ia tak segan menyebut Rusia dan Arab Saudi gila karena pertarungan minyak yang dilakukan keduanya.

FINROLL.COM — Dalam wawancara dengan Fox, Trump mengatakan keberatannya atas perang harga minyak Rusia dan Arab Saudi. “Benar-benar melukai industri energi AS,” tegasnya dikutip dari AFP, Selasa (31/3/2020).

“Ini adalah pertarungan antara Arab Saudi dan Rusia … dan mereka berdua menjadi gila,” kata Trump lagi.

Meski demikian, selang beberapa waktu setelahnya Trump pun dikabarkan menelepon langsung Presiden Rusia Vladimir Putin. Dalam perbincangan itu, keduanya membahas beberapa hal, di antaranya soal harga minyak.

Dalam pernyataan pers, Gedung Putih menyampaikan pentingnya stabilitas harga minyak di pasar energi global. Trump juga mengatakan akan mengkaji sanksi yang sebelumnya diberikan ke Rusia, yang sebelumnya diberikan pada sejumlah perusahaan asal negeri Beruang Putih itu.

Sementara itu, perang harga minyak antara Rusia dan Arab Saudi diperkirakan masih akan berlangsung lama. Mengutip dari AFP, Arab Saudi mengumumkan bakal menggenjot ekspor minyak mereka menjadi 10,6 juta barel sehari mulai Mei mendatang.

“Pihak kerajaan berencana menaikkan ekspor minyak sebanyak 600 ribu barel sehari mulai Mei, sehingga total ekspor menjadi 10,6 juta barel sehari,” ujar seorang pejabat kementerian Arab Saudi.

Hal ini menunjukkan Arab Saudi bakal menjadi eksportir minyak teratas karena tak setop menggenjot ekspor mereka yang semula berlaku di April, lalu ditambah lagi untuk Mei.

Total tambahan sejak mereka mengumumkan rencana tersebut kini menjadi 3,6 juta barel sehari. Angka yang sangat signifikan mengingat kondisi pasar global saat ini dan turunnya harga minyak dunia.

Harga minyak tengah menghadapi ujian. Mengutip dari Reuters, harga minyak dunia kini berada di level terendahnya sejak 2002 lalu.

Merosot hampir 8%, dipicu oleh kebijakan shutdown atau lockdown beberapa negara. Di mana kebijakan ini diperkirakan masih akan berlangsung dalam beberapa bulan ke depan.

Minyak Brent kini berada di level US$ 22,5 per barel atau merosot 65% dalam setahun ini. Turunnya harga minyak ini pun menghantam beberapa mata uang negara seperti rubel Rusia, peso Meksiko, dan rupiah Indonesia sampai 2%.

Continue Reading

Ekonomi Global

Data Ekonomi Tiongkok Membaik, Rupiah Menguat

Indeks manufaktur Tiongkok mulai meningkat dan mengindikasikan adanya ekspansi, meski ada pandemi corona. Hal ini membuat rupiah menguat terhadap dolar AS.

Published

on

By

Nilai tukar rupiah dibuka menguat 0,09% ke level Rp 16.155 per dolar Amerika Serikat (AS) hari ini. Salah satu faktor pendorongnya yakni data ekonomi Tiongkok yang membaik.
FINROLL.COM — Vice President Monex Investindo Futures Ariston Tjendra mengatakan, pasar merespons positif perbaikan ekonomi Tiongkok di tengah pandemi corona. “Terutama dari data indeks aktivitas manufaktur dan non-manufaktur Tiongkok versi pemerintah untuk Maret,” katanya kepada Katadata.co.id, Selasa (31/3).
Data tersebut melebihi ekspektasi pasar. Indeks aktivitas manufaktur Negeri Panda misalnya, mencapai 52 atau melebihi prediksi 44,9 dan meningkat dibanding Februari 35,7. Begitu juga indeks non-manufaktur melampaui perkiraan pasar 42,1 yakni mencapai 52,3.
Dikutip dari Xinhua, angka di atas 50 mengindikasikan adanya ekspansi. Angka di bawah 50 mencerminkan kontraksi. Pencapaian itu menunjukkan ekonomi Tiongkok mulai pulih, setelah berhasil mengatasi pandemi corona.
“Pulihnya ekonomi Tiongkok bisa membantu perekonomian negara partnernya yang membutuhkan material dan pasar Tiongkok,” ujar Ariston. Selain karena data ekonomi Tiongkok, indeks saham AS menguat. Kedua data itu memberikan sentimen positif terhadap rupiah hari ini.
Meski begitu, menurut Tjendra, meluasnya penyebaran virus corona masih bisa menjadi sentimen negatif. Ia pun memperkiran rupiah akan bergerak ke level support Rp 16.200 dengan resisten di Rp 16.400 per dolar AS.
Selain rupiah, dolar Singapura naik 0,06%, dolar Taiwan 0,14%, dan won Korea Selatan 0,12% berdasarkan data Bloomberg. Peso Filipina dan yuan Tiongkok masing-masing menguat 0,15%, ringgit Malaysia 0,01%, dan baht Thailand 0,05%. Ada beberapa mata uang Asia lainnya yang melemah. Di antaranya yen Jepang turun 0,71%, dolar Hong Kong 0,01%, dan rupee India 0,98%. (GPH)
Sumber Berita : Katadata.co.id
Continue Reading

Keuangan

China Bangkit, Rupiah Ikut Terungkit

Published

on

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih melemah di kurs tengah Bank Indonesia (BI). Namun di pasar spot, rupiah bergerak menguat.

Pada Selasa (31/3/2020), kurs tengah BI atau kura acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate/Jisdor berada di Rp 16.367. Rupiah melemah 0,19% dibandingkan posisi hari sebelumnya.

Sementara di pasar spot, rupiah juga menguat. Pada pukul 10:00 WIB, US$ setara dengan Rp 16.300 di mana rupiah menguat 0,15%. Penguatan mata uang tidak hanya terjadi di Indonesia. Mayoritas mata uang Asia juga berhasil menguat di hadapan dolar AS.

Kebangkitan China Semakin Nyata

Pagi ini datang kabar gembira (dan agak mengejutkan) dari China. Biro Statistik Nasional Negeri Tirai Bambu melaporkan Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur periode Maret sebesar 52. Melonjak drastis dibandingkan bulan sebelumnya yaitu 35,7 sekaligus menjadi catatan terbaik sejak September 2017.

Lonjakan PMI menunjukkan industri manufaktur China sudah bangkit setelah dihantam virus corona. PMI menggambarkan pembelian bahan baku/penolong dan barang modal yang digunakan untuk proses produksi pada masa mendatang. Input sudah meningkat, dan akan menjadi peningkatan output. China memang mulai menggeliat dan bisa bangkit dari serangan virus corona. Akhir pekan lalu, pemerintah China sudah mencabut karantina wilayah (lockdown) di Kota Wuhan, yang merupakan episentrum penyebaran virus corona.

Seiring aktivitas yang sudah pulih, industriawan berani menumpuk bahan baku/penolong dan barang modal untuk menggenjot produksi. Hasilnya adalah PMI yang meroket.

Tidak hanya manufaktur, PMI sektor jasa juga melejit dari 29,8 menjadi 52,3. Ini semakin mempertegas bahwa aktivitas ekonomi di Negeri Panda sudah sembuh.

Pelajaran yang bisa dipetik adalah, virus corona memang ganas tetapi sekalinya bisa ditaklukkan maka semua masalah selesai dan ekonomi akan segera pulih. Tidak seperti perang dagang, yang proses menuju perdamaian butuh hitungan tahun dan berfase-fase. (GPH)

Sumber Berita : CNBCindonesia.com

Continue Reading
Advertisement

Advertisement

Trending