Connect with us

Nasional

Sejarah Banjir Besar Jakarta, Sejak Zaman VOC Hingga 2020

Published

on


Rentetan banjir besar Jakarta telah berlangsung lama bahkan bencana itu sempat terjadi tahun 1600-an, tepatnya saat Jan Pieterszoon Coen menjabat sebagai Gubernur Jenderal VOC.

Saat itu, Coen membangun sejumlah kanal dan sodetan Kali Ciliwung. Cara ini ia tempuh untuk mengatasi banjir yang melanda Batavia (sekarang DKI Jakarta), namun tak membuahkan hasil.

Banjir besar terjadi menerjang Jakarta tahun 1918 saat pemerintahan Gubernur Jenderal VOC Johan Paul van Limburg Stirum. Dua tahun kemudian, tepatnya tahun 1920, Stirum mencanangkan Kanal Banjir Barat.

Pembangunan Kanal Banjir Barat itu dimulai dari Pintu Air Manggarai hingga Muara Angke. Saat itu, ketinggian air mencapai 1,5 meter di beberapa titik.

Menurut situs Historia, pada masa kolonial, pemerintah membentuk Department van Burgerlijke Penbare Werken (BOW) tahun 1918. Lalu diserahkan kepada Gemeentewerken atau badan yang mengurusi perhubungan dan perairan di tingkat kotapraja pada 1933.

Saat itu, pemerintah Belanda menggambarkan 25 ribu gulden (mata uang jaman penjajahan Belanda) untuk menanggulangi banjir di daerah Jembatan Lima, Blandongan, dan Klenteng.

Puncak pengendalian banjir di Jakarta diketahui terjadi pada 1913 sampai 1930. Tahun 1927, pemerintah sempat mengeluarkan 288.292 gulden.

Banjir Jakarta Tahun 1960 sampai 1970-an

Usai Indonesia dinyatakan merdeka dari penjajahan, masalah banjir kembali menjadi perhatian tahun 1965. Saat periode yang sama, pemerintah membentuk Komandao Proyek Pencegahan Banjir dan berganti nama menjadi Proyek Pengendalian Banjir Jakarta Raya tahun 1972.

Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin saat itu juga menggandeng pihak asing yaitu Netherlands Engineering Consultants untuk membangun waduk dalam kota serta pembuatan saluran baru seperti saluran Cengkareng dan Cakung.

Meski Ali telah melakukan perpanjangan saluran kolektor, normalisasi sungai sampai sodetan kali, banjir besar tetap terjadi awal 1976.

Banjir Besar Kembali Menerpa Jakarta tahun 2000-an

Saat kepemimpinan Sutiyoso (periode 1997-2007), Jakarta dilanda banjir besar tahun 2002 dan 2007. Namun, banjir tahun 2007 lah yang lebih luas dan banyak memakan korban jiwa.

Setidaknya ada 80 jiwa yang harus merenggut nyawa. Kerugian material akibat lumpuhnya perputaran bisnis saat itu mencapai triliunan rupiah dan warga yang mengungsi sekitar 320.000 ribu jiwa.

Curah hujan yang cukup deras menyebabkan tanggul jebol di Banjir Kanal Barat (BKB) aliran Kali Sunter. Akibatnya, kawasan Jatibaru-Tanah Abang dan Petamburan tergenang air setinggi 2 meter.

Era Sutiyoso pun berakhir, banjir besar lagi-lagi menerjang Jakarta tahun 2015. Saat itu, curah hujan masuk kategori ekstrem, (diatas 150 milimeter (mm) per hari) yakni 170 mm.

Curah hujan tinggi ini terjadi di Jakarta Barat, Jakarta Pusat, Jakarta Utara, Jakarta Timur bagian utara, Tangerang, dan Pasar Minggu di Jakarta Selatan.

Empat tahun berselang tepatnya saat malam pergantian tahun 2020, Jakarta kembali diguyur hujan lebat tanggal 31 Desember 2019 sekitar pukul 17.00 WIB sampai 1 Januari 2020 sekitar pukul 11.00 WIB. Curah hujan yang mengguyur tercatat 377 mm per hari. BMKG menyebut curah hujan ini tertinggi sejak 1996.

Akibatnya ada 169 titik banjir di seluruh wilayah Jabodetabek dan Banten, seperti disampaikan Kapusdatin dan Humas BNPB Agus Wibowo. Titik banjir terbanyak berada di Provinsi Jawa Barat 97 titik, DKI Jakarta 63 titik dan Banten 9 titik.

Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa wilayah yang paling terdampak banjir adalah Kota Bekasi (53), Jakarta Selatan (39), Kabupaten Bekasi (32), dan Jakarta Timur (13).

Advertisement Valbury

Nasional

LIPI Respons Wilayah Indonesia Tiga Kali Gempa dalam Sehari

Published

on

By

Ilustrasi gempa bumi. (Istockphoto/ Enot-poloskun)

Finroll.com, Jakarta – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengatakan tiga gempa bumi di Indonesia yang terjadi dalam waktu yang dekat di hari yang sama merupakan hal yang normal.

Pernyataan tersebut dikatakan Kepala Geoteknologi LIPI Eko Yulianto untuk merespons gempa bumi di Yogyakarta, Aceh, dan Maluku dengan kisaran 5 magnitudo pada Senin (13/7). Sehari sebelumnya, wilayah Sumatera Selatan juga turut diguncang gempa.

“Secara teori saya kira normal saja,” ujar Eko saat dihubungi CNNIndonesia.com, Senin (13/7).

Eko mengingatkan Indonesia rawan gempa karena terletak di atas empat lempeng yakni Lempeng Eurasia, Lempeng Pasifik, Lempeng Hindia dan Lempeng Indo-Australia.

Belum lagi Indonesia merupakan kawasan ring of fire atau cincin api.  Cincin api ini adalah lokasi lebih dari 75 persen gunung api yang ada di dunia, setidaknya ada sekitar 450 gunung api yang bisa mengakibatkan gempa vulkanik.

Oleh karena itu, Eko mengatakan tiga gempa berurutan yang terjadi di Indonesia merupakan hal yang normal.

Sebagai gambaran, Eko mengatakan gempa dalam skala 2,5 hingga 5,3 magnitudo dalam setahun bisa terjadi 30 ribu kali  di seluruh dunia.

“Jadi sehari di seluruh dunia rata-rata ada lebih dari 80 kejadian gempa dengan kisaran skala itu,” ujar Eko.

Sebelumnya, peneliti Gempa LIPI Mudrik Rahmawan mengatakan Indonesia terletak dalam jalur ring of fire sehingga dipastikan gempa bumi pasti sering terjadi.

Ia mengatakan para peneliti  hingga saat ini masih mempelajari siklus gempa di sesar Indonesia yang bisa terjadi dalam kurun waktu ratusan hingga ribuan tahun.

“Secara prinsip seluruh Indonesia adalah ring of fire dan patahan aktif yang terus-menerus mulai dari Sumatera ada sesar Sumatera, Jawa ada sesar dan di Papua. Secara prinsip di seluruh wilayah itu harus waspada,” kata Mudrik.

BMKG sempat mencatat gempa bumi berkekuatan 5,2 magnitudo yang mengguncang wilayah Yogyakarta dan sekitarnya pada Senin (13/7) pukul 02.50 WIB, gempa ini tak berpotensi tsunami.

BMKG menyatakan pusat gempa berada di laut dengan kedalaman 10 kilometer, dan berjarak 105 kilometer barat daya Bantul, Yogyakarta.

Di hari yang sama, gempa bumi berkekuatan 5,5 magnitudo mengguncang wilayah Banda Aceh, Aceh pada pukul 07.58 WIB. BMKG menyatakan, pusat gempa berada di kedalaman 10 kilometer, dan berada 121 kilometer barat daya Banda Aceh.

Gempa bumi turut mengguncang Maluku Tenggara Barat atau Kepulauan Tanimbar, Maluku dengan magnitudo 5,2 pada pukul 09.08 WIB. Pusat gempa berada di 6,79 Lintang Selatan, 130,62 Bujur Timur, atau 151 Km Barat Laut Maluku Tenggara Barat.

Sehari sebelumnya, Sumatera Selatan juga mengalami gempa berskala 5.0 magnitudo pada Minggu pukul 13.27 WIB,

Lokasi gempa bumi terjadi pada 5.05 lintang selatan dan 102.52 bujur timur di Pulau Sumatera bagian selatan dengan kedalaman sejauh 10 kilometer.

Sumber : CNN Indonesia

Continue Reading

Nasional

Tiga Dokter di Jatim Meninggal Akibat Covid-19

Published

on

By

Ilustrasi tenaga medis. (ANTARA FOTO/Novrian Arbi).

Finroll.com, Jakarta – Setidaknya lima dokter di Provinsi Jawa Timur meninggal dunia dalam kurun sehari pada Minggu (12/7). Tiga orang di antaranya meninggal akibat virus corona (Covid-19).

Lima dokter yang meninggal itu, yakni dr Deni Chrismono Raharjo, dr Budi Luhur, dr Arief Agoestono, dr Djoko Wijono, dan dr Paulina Karuntu.

“Ada tiga dokter yang meninggal karena Covid-19, dr Deni Chrismono Raharjo, dr Budi Luhur, dan dr Arief Agoestono,” kata Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Jawa Timur dr Sutrisno, Senin (13/4).

Sedangkan dr Paulina Karuntu dan dr Djoko Wijono, kata Sutrisno meninggal bukan karena Covid-19, tapi penyakit lain.

Sutrisno menambahkan, dr Deni merupakan dokter di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Menur, Surabaya dan sempat mendapat perawatan sebelum dirujuk. Ia meninggal di RSUD dr Soetomo Surabaya setelah dua pekan mendapatkan perawatan.

“Dokter Deni ini sempat dirawat di RSJ Menur, terus dirujuk ke RSUD dr Soetomo. Beliau sudah mendapat perawatan intensif selama dua minggu, tapi tidak tertolong,” kata Sutrisno.

Sedangkan dr Budi dan dr Arief diketahui merupakan dokter yang bertugas di Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas), di Gresik dan Lamongan.

Ia menuturkan, Budi mulanya dirawat di rumah sakit di Gresik. Ia lalu sempat akan dirujuk ke salah satu rumah sakit di Surabaya, pada Minggu siang.

Namun rencana itu terkendala karena kapasitas RS di Surabaya yang penuh. Budi pun meninggal dunia. Hal serupa juga dialami Arief di Lamongan.

Keduanya meninggal dalam kondisi terinfeksi Covid-19.

“Meninggal di Gresik, karena (RS) di Surabaya penuh. Mulai siang sudah akan dibawa ke Surabaya, tapi penuh, tidak ada tempat,” ujarnya.

Dengan tambahan tiga dokter ini, maka total sudah 19 dokter di Jatim meninggal akibat Covid-19 hingga saat ini.

Sutrisno mengatakan, banyaknya dokter dan tenaga kesehatan yang meninggal akibat Covid-19 ini, membuat IDI Jatim berusaha keras melakukan evaluasi untuk meningkatkan keamanan dan perlindungan di rumah sakit, puskesmas, serta instansi kesehatan lainnya.

“Jadi usaha-usaha untuk meningkatkan keamanan terhadap dokter dan tenaga kesehatan harus ditingkatkan,” katanya.

Sumber : CNN Indonesia

Continue Reading

Nasional

Akibat Banjir Rob di Aceh Barat, 42 Rumah Rusak dan Ratusan Warga Mengungsi

Published

on

Finroll – Jakarta, Ratusan warga korban banjir rob atau gelombang pasang laut akibat purnama di empat desa Kecamatan Johan Pahlawan, Meulaboh, Kabupaten Aceh Barat masih mengungsi, hingga Minggu (12/7) malam. Mereka mengungsi sebab setidaknya 42 warga terendam air hingga 80-100 sentimeter.

“Kami masih berupaya mendata kerusakan akibat bencana alam akibat banjir rob,” kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Barat Mukhtaruddin, dilansir dari Antara.

Dalam catatan pihaknya, sementara ini warga terdampak banjir rob tersebar di di Desa (Gampong) Pasir sebanyak 512 jiwa (121 KK), Desa Kampung Belakang 450 jiwa (120 KK), Desa Suak Indrapuri 317 jiwa (98 KK), dan Desa Ujung Kalak 362 jiwa (98 KK).

Sedangkan puluhan pondok atau kafe wisata kuliner di Desa Suak Ribee juga ikut rusak akibat diterjang gelombang pasang purnama.

“Saat ini, titik pengungsian masyarakat terbagi di beberapa lokasi. Sebagian korban mengungsi di kantor desa, karena rumahnya rusak dan terendam pasang air laut,” kata Mukhtaruddin.

Sedangkan titik pengungsian masyarakat, kata dia, masing-masing di Kantor Desa Suak Indra Puri dihuni oleh masyarakat dari 16 kepala keluarga, serta masyarakat di Desa Ujong Kalak, Pasir dan Kampung Belakang sebagian mengungsi ke rumah sanak saudara.

Mukhtaruddin menambahkan, dampak dari meluapnya air laut tersebut mengakibatkan sepanjang jalan di empat desa tidak bisa dilalui kendaraan.

Karena air laut naik ke daratan dengan ketinggian air berkisar antara 80 sentimeter hingga satu meter di atas permukaan jalan.

“Untuk sementara itu aktivitas masyarakat masih terganggu karena air memasuki rumah warga,” kata Mukhtaruddin.

Adapun 42 rumah warga yang terendam banjir berada di Desa Pasir. Rinciannya di Dusun I 14 rumah rusak sedang dan di Dusun II dua rumah warga rusak berat serta 26 rumah warga rusak ringan.

Selain itu, kata Mukhtaruddin, pihaknya juga terus melakukan evakuasi warga yang bermukim di pinggir laut untuk di bawa ke Posko Darurat BPBD Aceh Barat di Lapangan Teuku Umar, Meulaboh.

Sumber : CNN Indonesia

Continue Reading
Advertisement

Advertisement
Advertisement

Trending