Connect with us

Peristiwa

Sosok BJ Habibie Seorang Ilmuwan Penerbangan Berkelas Dunia

Published

on


Finroll.com — Bacharuddin Jusuf (BJ) Habibie, anak bangsa berprestasi di kancah internasional. Sosok BJ Habibie sangat dihormati oleh ilmuan dunia khususnya di bidang penerbangan.

BJ Habibie dikenal sebagai orang paling cerdas di antara ahli penerbangan, Habibie juga merupakan Presiden ke-3 Republik Indonesia (RI).

Prestasi yang begitu banyak telah ditorehkan BJ Habibie dan perannya dalam dunia penerbangan nasional maupun internasional. Dia merupakan sebuah contoh panutan bagi masyarakat bahwa setiap orang dapat berkarya dan diakui dunia.

Sebelum menjadi Presiden ketiga RI, Habibie menjabat sebagai Wakil Presiden ke-7 RI menggantikan Try Sutrisno. Soeharto yang mengundurkan diri dari jabatan presiden pada 21 Mei 1998, kemudian digantikan oleh Habibie.

Dari sekian banyak presiden Indonesia, Habibie merupakan satu-satunya Presiden bukan berasal dari suku Jawa. Dia berasal dari Gorontalo, Sulawesi.

Habibie merupakan anak keempat dari delapan bersaudara, pasangan Alwi Abdul Jalil Habibie dan RA Tuti Marini Puspowardojo. Ayahnya berprofesi sebagai ahli pertanian, sedangkan ibunya dari etnis Jawa yang merupakan anak dari spesialis mata di Yogyakarta yang bernama Puspowardjojo.

Habibie kecil sangat gemar membaca dan olah raga menunggang kuda. Karena kebiasaannya itu dia dikenal sangat cerdas ketika masih berada di sekolah dasar. Beliau kehilangan seorang ayah saat usianya masih 14 tahun karena terkena serangan jantung saat salat Isya bersamanya pada 3 September 1950.

Setelah sang ayah meninggal, kemudian ibunya menjual rumah dan kendaraan lalu pindah ke Bandung bersama Habibie dan saudaranya. Di Bandung, Habibie melanjutkan sekolah di Gouverments Middlebare School, di sekolah ini dia mulai terlihat prestasinya dan menjadi sosok favorit di kalangan siswa lainnya.

Sebagai anak yang gigih dan cerdas, Habibie melanjutkan pendidikannya di Institute Teknologi Bandung (ITB) setelah lulus dari SMA 1954. Pada masa itu namanya masih Universitas Indonesia Bandung. Dia menekuni Teknik Mesin di Fakultas Teknik di sana.

Akan tetapi baru beberapa bulan saja Habibie menempuh pendidikan di ITB, dia mendapatkan tawaran beasiswa dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan untuk melanjutkan pendidikannya di Jerman. Dia mendapatkan beasiswa pada saat itu karena Pemerintahan Indonesia di bawah Presiden Soekarno sedang menjalankan program dengan membiayai ratusan siswa cerdas Indonesia untuk menimba ilmu di luar negeri.

Pada 1955-1965, Habibie menempuh pendidikan di Jerman dengan mengambil spesialisasi konstruksi pesawat terbang (Teknik Penerbangan) di Rhein Westfalen Aachen Technisce Hochschule (RWTH). Semasa kuliah di Jerman dijalani Habibie dengan penuh perjuangan, karena pendidikan di sana bukan hanya sebentar.

Ketika memasuki musim liburan, Habibie tak mau berleha-leha seperti orang kebanyakan. Dia mengisinya dengan ujian dan mencari uang untuk mencari buku guna menunjang pendidikannya.

Setelah masa liburan berakhir kegiatannya hanya belajar dan kegiatan lainnya dikesampingkan oleh Habibie. Berkat kerja kerasnya, Habibie mendapatkan gelar Ing dari Technische Hochschule Jerman pada 1960.

Gelar itu dia dapatkan dengan predikat Cumlaude (sempurna) dengan perolehan nilai rata-rata 9,5. Setelah mendapatkan gelar insinyur, Habibie mengawali karirnya dengan bekerja di industri kereta api Firma Talbot di Jerman.

Saat bekerja di perusahaan tersebut Habibie dapat menyelesaikan permasalahan perusahaan Firma Talbot yang sedang membutuhkan sebuah wagon untuk mengangkut barang-barang ringan bervolume besar. Habibie memecahkan permasalahan tersebut dengan mengaplikasikan prinsip-prinsip kontruksi sayap pesawat terbang.

Setelah itu, BJ Habibie melanjutkan kembali pendidikannya untuk gelar doktor di Technische Hochschule Die Facultaet Fuer Maschinenwesen Aachen. Habibie mendapatkan gelar doktornya pada tahun 1965, dengan predikat Summa Cumlaude dengan nilai rata-rata 10.

Habibie kemudian melanjutkan karir di Messerschmitt-Bolkow-Blohm, sebuah perusahaan penerbangan yang berpusat di Hamburg, Jerman. BJ Habibie atau yang biasa disapa Rudy oleh teman temannya semasa pendidikan di Jerman, kemudian menikahi seorang wanita bernama Hasri Ainun Besari pada 12 Mei 1962.

Setelah menikah, Habibie kemudian membawa istrinya untuk tinggal di Jerman. Dari pernikahannya ini Habibie dan Ainun dikaruniai dua anak yang diberi nama Ilham Akbar dan Thareq Kemal.

Pada 1973, Habibie memilih kembali ke Tanah Air atas permintaan Presiden ke-2 RI, Soeharto. Sekembalinya ke Indonesia, Habibie kemudian dipercaya mengisi jabatan Menteri Negara Riset dan Teknologi (Menristek) atau Kepala BPPT.

Tak tanggung-tanggung, posisi itu diembannya sejak 1978 sampai Maret 1998. Tak hanya itu, beliau juga memimpin perusahaan BUMN Industri Strategis selama 10 tahun. Gebrakan Habibie saat menjabat Menristek diawalinya dengan keinginannya untuk mengimplementasikan “Visi Indonesia”.

Habibie berpandangan lompatan-lompatan Indonesia dalam “Visi Indonesia” bertumpu pada riset dan teknologi, khususnya pula dalam industri strategis yang dikelola oleh PT IPTN, PT Pindad, dan PT PAL.

Targetnya, Indonesia sebagai negara agraris dapat melompat langsung menjadi negara Industri dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pada 1995, Habibie berhasil memimpin proyek pembuatan pesawat yang diberi nama N250 Gatot Kaca. Pesawat tersebut ialah pesawat pertama buatan Indonesia.

Pesawat yang dirancang oleh Habibie selama lima tahun itu merupakan satu satunya pesawat di dunia yang menggunakan teknologi Fly By Wire. Dengan teknologi tersebut, pesawat itu mampu terbang tanpa guncangan berlebihan. Bisa dibilang teknologi tersebut merupakan teknologi terdepan dan canggih pada masa itu.

Pada saat pesawat N250 Gatot Kaca mencapai masa jayanya dan selangkah lagi mendapatkan sertifikasi dari Federal Aviation Administration. Presiden Soeharto saat itu menghentikan industri PT IPTN karena alasan krisis moneter.

Pada zamannya, PT IPTN telah membangun pabrik di Eropa dan juga Amerika, namun sangat disayangkan hal itu harus terhenti dan 16.000 karyawan terpaksa harus mencari pekerjaan ke luar negeri.

Yang menarik dari kisah inspiratif Habibie adalah ditemukannya rumus untuk menghitung keretakan atau crack propagation on random sampai ke atom oleh Habibie.

Untuk menghargai kecerdasannya dan kontribusinya, persamaan tersebut diberi nama Faktor Habibie. Tidak hanya itu, Habibie juga dijuluki sebagai Mr Crack oleh para spesialis penerbangan. Pada 1967, beliau mendapatkan gelar Profesor Kehormatan atau Guru Besar di ITB .

Tidak hanya itu, BJ Habibie juga mendapatkan gelar tertinggi di ITB yaitu Ganesha Praja Manggala. Dengan segala kecerdasan yang dimilikinya, Habibie mendapatkan banyak pengakuan dari lembaga kelas internasional seperti Gesselschaft fuer Luft und Raumfahrt (Lembaga Penerbangan Jerman), The Royal Aeronautical Society London dari Inggris, The Academie Nationale de l’Air et de l’Espace dari Prancis, The Royal Swedish Academy of Engineering Sciences dari Swedia dan yang terakhir dari The US Academy of Engineering Amerika Serikat.

Selain pengakuan dari banyak lembaga luar negeri, Habibie pun mendapatkan beberapa penghargaan bergengsi yaitu Edward Warner Award serta Award von Karman dimana penghargaan ini hampir setara penghargaan Nobel. Selain itu, Habibie juga peraih penghargaan Theodore van Karman Award yang bergengsi di Jerman.(red)

Advertisement Valbury

Nasional

Corona 19 Maret: 309 Kasus, 25 Meninggal, 15 Sembuh

Published

on

Jumlah pasien positif Virus Corona, per Kamis (19/3), bertambah menjadi 309 orang, dengan 25 orang di antaranya meninggal dunia. ujar juru bicara pemerintah khusus penanganan Virus Corona, Achmad Yurianto, dalam konferensi pers, di Jakarta, Kamis (19/3).

FINROLL.COM — Kasus-kasus itu berasal dari Bali (1 kasus), Banten (27), DIY (5), DKI Jakarta (210), Jawa Barat (26), Jawa Tengah (12), Jawa Timur (9), Kalimantan Barat (2), Kalimantan Timur (3), Kepulauan Riau (3).

Selain itu, Sulawesi Utara (1), Sumatera Utara (2), Sulawesi Tenggara (3), Sulawesi Selatan (2), Lampung (1), Riau (2).

Dari angka itu, Yuri menyebut ada pula peningkatan jumlah korban yang meninggal dunia. Korban terbanyak berasal dari DKI, yakni 17 orang.

Di samping itu, Jateng menyumbang 3 kasus, serta Bali, Banten, Jabar, Jatim, dan Sumut masing-masing satu kematian.

“Total kematian 25 person, atau 8 persen dari kasus yang kita rawat,” ungkapnya.

Ia juga menyebut ada 15 orang yang sembuh dari Corona setelah menjalani dua kali tes Corona.

“Total yang sudah sembuh keseluruhan 15 orang,” tandasnya.

Sehari sebelumnya, Pemerintah menyebut kasus positif Corona mencapai 227 orang, dengan 19 orang meninggal dunia, dan 11 pasien sembuh.

Sumber Berita : CNN INDONESIA

Continue Reading

Nasional

Pasien Positif Corona Indonesia Bertambah Jadi 134 Orang

Published

on

Juru Bicara Penanganan Corona COVID-19 Achmad Yurianto menjelaskan perkembangan terkini wabah virus Corona COVID-19 di Indonesia. Dia mengatakan bahwa orang positif Corona bertambah hingga total menjadi 134 orang.

Per hari ini, bertambah 17 orang yang kena Corona.

“Ada penambahan kasus sebanyak 17,” kata Achmad Yurianto di Jakarta, Senin 16 Maret 2010.

“Dari DKI 14 dan rincian lain silakan dilihat lebih lengkap di website yang ada di www.kemenkes.go.id,” kata Achmad Yurianto lagi.

Rinciannya, pasien terbaru positif Corona dari Jawa Barat 1 orang dari Banten 1 orang, dari Jawa Tengah 1 orang dan 14 orang dari DKI Jakarta.

Spesimen yang didapatkan dari kemarin hingga siang tadi. Pemerintah kata dia akan terus memperbaharui data mengenai virus Corona.

Sementara hari ini diumumkan bahwa pasien 01, pasien 02 dan pasien 03 sudah sembuh. Tiga pasien itu adalah orang pertama dengan virus Corona di Indonesia dan dinyatakan sembuh. (VIVA.co.id)

Continue Reading

Peristiwa

Kisah Marsda TNI DR. Umar Sugeng Hariyono Orang Pertama Yang Menerbangkan Pesawat CN-235 Buatan Indonesia

Published

on

Finroll.com — Asisten Operasional Kepala Staf TNI Angkatan Udara (Asops Kasau) Marsekal Muda TNI DR. Umar Sugeng Hariyono menjadi orang pertama yang dipercaya untuk menerbangkan pesawat Sandi Tetuka atau yang lebih dikenal dengan pesawat CN-235.

Ditemui diruang kerjanya Marsekal Muda TNI DR. Umar Sugeng Hariyono menyampaikan serta bercerita seputar pengalamannya selama menjadi penerbang di TNI AU. Beliau merupakan salah satu penerbang pertama yang menerbangkan pesawat CN-235 bermesin turboprop yang dirancang bersama antara IPTN Indonesia dan CASA Spanyol yang memiliki type glass cocpit,” ungkapnya di Gedung Pimpinan Mabes AU, Cilangkap, Jakarta (Jumat 13/3/2020).

Umar menjelaskan, CN-235 adalah sebuah pesawat penumpang sipil (airline) angkut turboprop kelas menengah bermesin dua, Pesawat ini diberi nama sandi Tetuka dan menjadi pesawat paling sukses dan canggih dari sisi pemasaran dan tekhnologi dikelasnya pada zamannya.

Dari kurun waktu tahun 1994 sampai dengan 2007, Asops Kasau ini memulai mengawaki pesawat yang dikenal ekpensive dalam hal perawatan ini,

”Awalnya tahun 1994 saat itu kita punya Fokker 27 tapi diperintahkan untuk mengambil pesawat CN-235 dan dikirimlah saya ke Bandung tepatnya PT DI ( PT Dirgantara Indonesia) untuk sekolah mempelajari bagaimana mengawaki pesawat itu, waktu zaman itu pesawat CN 235 termasuk pesawat paling canggih,” jelasnya.

Lanjut Umar, ” Pria yang pernah menjabat sebagai Danlanud Halim dan Panglima Komando Operasinal TNI AU ll Makasar (Pangkoopsau ll) serta dari pengalamannya yang banyak menerbangkan jenis pesawat angkut seperti Fokker 27 yang terkenal sangat binal dan sulit lalu diberi kesempatan untuk mengawaki pesawat CN-235 dirasa sangat mudah sekali.

“Dengan mengikuti training hanya dengan 10 jam, saya sudah bisa jadi kapten pilot lalu dari pengalaman saya itu kemudian saya terapkan juga kepada yunior yunior saya ketika saya jadi instruktur mereka,” jelasnya.

“Yang harus diperhatikan dan penting saat memberikan instruksi kepada junior Personil TNI AU, apa yang harus dipegang dan diperhatikan pada saat take off dan landing sehingga mereka bisa cepat sekali untuk bisa,” elas Umar.

Seperti diketahui pesawat CN-235 itu perawatan nya sangat mahal dari total 8 pesawat yang dimiliki TNI AU sekarang hanya tinggal 3 pesawat yang bisa beroperasi, sisanya 5 buah pesawat jenis ini tidak lagi berfungsi karena kondisinya rusak dan tidak ada anggaran untuk perawatannya dan Umar sangat menyayangkan hal itu karena selain pesawat CN-235 merupakan pesawat yang multifungsi, canggih juga sebagai kebanggaan bangsa karena hasil karya anak bangsa Indonesia.

Umar juga termasuk orang pertama yang menerbangkan CN-235 dan ikut mengirim pesawat ini ke Korea dan ke Pakistan saat negara-negara tersebut membeli pesawat jenis ini dari Indonesia.

Varian CN-235 dari sisi bahan bakarnya juga sangat panjang waktunya, bisa sampai 9 jam penerbangan, karena pernah Asops Kasau ini membawanya dari Ambon ke Halim nonstop dengan jarak tempuh 7,5 jam tidak ada masalah.

Sementara, Jenderal bintang dua yang sebentar lagi memasuki masa pensiun ini masih ingin memberikan pengabdiannya buat negara karena bagi dia apapun siap dilakukan buat NKRI “Pengabdian pantang surut ” disisa masa pengabdiannya Umar ingin mencoba untuk meningkatkan keterampilan personil TNi AU khususnya siswa-siswa Akmil AAU (Sekbang) dengan menambah program simulator, karena selain untuk menjaga Zero Accident harus ada program minimal melaksanakan satu tahun dua kali yang sebelumnya hanya dua tahun sekali ini siswa sekbang melaksanakan uji coba simulator pesawat di luar negeri sesuai negara produsen pesawat.

“Akhirnya saya bersyukur karena apa yang saya coba programkan untuk mereka mulai tahun 2020 dalam setahun dua kali wajib mengikuti program simulator,” pungkasnya.

Continue Reading
Advertisement

Advertisement

Trending