Connect with us

Entertainment

The Grand Signature Piano gelar Heritage Concert

Published

on


Finroll.com — The Grand Signature Piano gelar Konser “Heritage Concert” dengan menampilkan duo pianis asal Perancis, Pascal Roge dan Ami Roge, di Gedung Kesenian Jakarta Senin (15/7/2019).

Executive Director The Grand Signature Piano Helen Gumanti mengatakan, konser ini merupakan kali pertamanya dimana kehadiran duo pianis asal Perancis Pascal Roge dan Ami Roge seakan menjadi sebuah momen yang tepat untuk merayakan keindahan asimilasi budaya timur dan barat,” ujarnya.

Konser kali ini akan mengetengahkan karya Claude Debussy, Maurice Ravel dan Colin McPhee. Berbagai elemen tekstur, irama, wama suara dan filosofi dari gamelan akan hadir melalui musik tradisi barat yang mereka bawakan,” tambahnya.

Menurutnya, Heritage Concert Series ini merupakan sebuah rangkaian pertunjukan dengan dua keluaran. Selain konser itu sendiri, kegiatan ini akan selalu diikuti oleh sebuah video dokumenter yang membahas kajian berkenaan dengan tema dan situs warisan budaya yang sedang dijadikan sorotan.

Seluruh rangkaian kegiatan ini akan diunggah sebagai sebuah saluran dokumemer yang dapat diakses oleh publik dari berbagai penjuru dunia.

Helen Gumanti berharap, semoga debgan adanya Konser ini, anak negeri dapat lebih mengenal kekayaan warisan budaya bangsanya dan semoga dengan Heritage Concert Series ini, Indonesia lebih mendapatkan sorotan di mata dunia.

“lnilah dedikasi kami bagi Indonesia,” pungkasnya.

Perlu diketahui Pascal Roge adalah gambaran dari pianis terbaik di Perancis. Lahir di Paris, beliau adalah mantan murid dari Paris Conservatory dan pernah dimentori oleh Julius Katchen dan The Great Nadla Boulanger.

Sebagai salah satu artis rekaman ternama, Pascal Roge telah memperoleh banyak penghargaan bergengsi, mulai dari Gramophone Awards, 3 Grand an du Dlsque and Edison Award atas interprestasinya dari karya The Ravel dan Saint-Saens Concerti bersamaan dengan karya penuh dari Ravel, Poulenc dan Satie.

Pascal Roge menikmati permainan piano empat-tangan/dua -piano bersama istri tercintanya Ami Roge. Mereka berkeliling dunia dan tampil pada berbagai macam festival dan konser musik temama.

Saat ini beliau menjabat sebagai Ketua dan Kompetisi Piano Genewa dan mengajar berbagai Masterclass di Perancis, Jepang, Amerika dan Inggris.

Advertisement

Entertainment

Gundala, Era Baru Superhero Tanah Air

Published

on

By

Finroll.com – Bioskop-bioskop di Tanah Air harus mulai bersiap diramaikan dengan film pahlawan super edisi lokal. Setelah sekian lama memampang poster dan film-film adiwira alias superhero rekaan Hollywood, sebentar lagi akan dimulai gelombang serbuan para jagoan dari dalam negeri.

Pada Ahad (18/8), sehari selepas perayaan HUT ke-74 Republik Indonesia, Jagat Sinema Bumilangit Jilid I diluncurkan. Ini seperti satu seri panjang superhero made in Indonesia. Dalam jadwal, mereka bakal dibuat tujuh film adiwira yang akan berada dalam jalinan film yang berada di dalam satu cerita.

Jagat Sinema Bumilangit dibuka dengan Patriot pertama, yaitu Gundala, yang filmnya akan tayang pada 29 Agustus 2019. Film besutan sutradara Joko Anwar ini berdasarkan komik Gundala Putera Petir yang digarap Harya Suraminata (Hasmi).

Ini bukan film Gundala yang pertama. Sebab, pada 1981 pun sudah tayang film serupa dengan judul Gundala Putra Petir. Kala itu film Gundala dibintangi oleh Teddy Purba dan disutradari oleh Lilik Sudijo. Film ini bukan kelanjutan maupun awal dari film tersebut. Djoko Anwar dan timnya membangun Gundala dari awal lagi dengan konteks kekinian.

Film ini diproduksi oleh Screenplay Films, Legacy Pictures, bekerja sama dengan pemilik hak cipta Gundala, Bumilangit Studios. Bumilangit Studios yang berdiri sejak tahun 2003 telah mengelola sekitar 1.000 lebih karakter ciptaan komikus legendaris Indonesia. Filmnya akan bercerita tentang Sancaka (Abimana Aryasatya), anak jalanan yang dikaruniai kekuatan super.

Jagat Bumilangit akan dimulai sejak Letusan Toba ribuan tahun lalu. Jagat itu terbagi atas empat era, yaitu Era Legenda, Era Jawara, Era Patriot, dan Era Revolusi. Era Jawara adalah eranya para pendekar di masa kerajaan nusantara. Jagat Jawara memiliki 500 karakter dengan 50 judul komiknya yang telah diterbitkan, di antaranya Si Buta Dari Gua Hantu dan Mandala.

Sedangkan, Era Patriot adalah eranya para jagoan. Mereka ada pada masa saat ini, terdiri atas 700 karakter dan 110 judul komik yang telah diterbitkan dan dijual. Sepanjang sejarahnya, komik-komik ini telah terjual lebih dari 2 juta eksemplar dan dibaca oleh lebih dari 10 juta orang. Karakter-karakter terkemuka yang termasuk di dalamnya adalah Gundala, Sri Asih (adiwira pertama Indonesia yang diciptakan pada 1954), Godam, Tira, Sembrani, dan masih banyak lagi lainnya.

Aktor dan aktris Indonesia papan dipastikan terlibat di Jagat Sinema Bumilangit. Di antaranya Abimana Aryasatya yang berperan sebagai Gundala dan Pevita Pearce sebagai Sri Asih yang digadang-gadang menjadi film kedua setelah Gundala.

Selain itu, ada Chicco Jerikho sebagai Godam, Chelsea Islan sebagai Tira, Tara Basro sebagai Merpati, Asmara Abigail sebagai Desti Nikita, Hannah Al Rashid sebagai Camar, Kelly Tandiono sebagai Bidadari Mata Elang, Joe Taslim sebagai Mandala, Della Dartyan sebagai Nila Umaya, Ario Bayu sebagai Ghani Zulham, Dian Sastrowardoyo sebagai Dewi Api, Nicholas Saputra sebagai Aquanus, dan lainnya.

“Bila film-film superhero Hollywood berhasil merajai perfilman nasional, maka saya berharap sudah waktunya film-film superhero Indonesia dapat diterima dengan baik di negeri sendiri, bahkan bila memungkinkan di negara lain.” ujar Erick Thohir, salah satu executive producer Jagat Sinema Bumilangit dalam keterangan pers yang diterima Republika, Ahad (18/8).

Menurut dia, film-film Jagat Sinema sudah melalui riset bertahun-tahun, disesuaikan dengan cerita yang sudah lama ada di bumi Indonesia, dipadukan dengan teknologi terkini. “Semoga karya Jagat Sinema Bumilangit dapat diterima, diapresiasi, dan didukung masyarakat Indonesia,” kata Erick.

Saga adiwira

Jagat adiwira dalam perfilman internasional dikapitalisasi oleh perusahaan Disney yang membeli hak untuk banyak tokoh komik Marvel belakangan, seperti Iron Man, Thor, Captain America, Hulk, Black Widow, Hawkeye, Ant Man, dan Black Panther. Sebanyak 23 film yang saling terkait telah diproduksi sejak 2008 hingga 2019. Dengan biaya pembuatan sekitar 4,5 miliar dolar AS, keuntungan dari film-film itu mencapai 22,5 miliar dolar AS atau sekitar Rp 315 triliun.

Film-film adiwira tersebut mengadaptasi tokoh-tokoh komik yang mula-mula muncul di Amerika Serikat pada 1930-an. Fenomena komik adiwira itu dimulai para imigran Yahudi, Joe Shuster dan Jerry Siegel, yang menciptakan tokoh Superman pada 1938 dan kemudian memulai DC Comics. Menyusul kemudian Stan Lee dan Jack Kirby, keduanya juga merupakan pemuda-pemuda imigran Yahudi yang menciptakan Fantastic Four, Iron Man, X-Men, dan banyak lagi adiwira Marvel Comic lainnya.

Di Indonesia, tren komik-komik adiwira dipelopori RA Kosasih yang menggambar tokoh komik Sri Asih pada 1954. Film adiwira pertama juga menampilkan Sri Asih yang diperankan Mimi Mariani dan disutradarai Turino Djunaedy pada tahun yang sama. Film adiwira Indonesia selanjutnya adalah Rama: Superman Indonesia yang dilansir pada 1974.

Komik adiwira Tanah Air mulai kencang berkibar pada 1968, dipelopori Hasmi dan Widodo NS yang menggambar para adiwira, seperti Gundala Putra Petir, Godam, Aquanus, Merpati, dan Kalong. Para adiwira itu sekilas mirip dengan adiwira Amerika Serikat. Gundala, misalnya, punya kemiripan dengan the Flash dan Shazam dari DC Comics, sedangkan Godam mirip dengan Thor dari Marvel Comics. Selain adiwira-adiwira modern, kala itu populer juga tokoh komik silat seperti si Buta dari Gua Hantu.

Beberapa dari tokoh-tokoh tersebut sempat juga difilmkan. Di antaranya Gundala Putra Petir (1981) dan Si Buta dari Gua Hantu (1970). Selepas itu, pada pertengahan 1980-an hingga akhir 1990-an, film-film adiwira dan film-film berkualitas secara umum kian jarang diproduksi di Tanah Air.

Terlepas dari komiknya, sempat muncul film Darna Ajaib (1980) diperankan Lydia Kandaw yang mirip dengan adiwira Wonder Woman di AS. Trio komedian Dono, Kasino, dan Indro pun tak ketinggalan dalam film adiwira kocak Manusia Enam Juta Dollar (1981) yang juga merupakan bikin ulang dari serial Hollywood The Six Million Dollar Man.

Pada pergantian abad, di layar kaca televisi sempat populer “Panji Manusia Milenium” dan “Saras 008” dengan kualitas sinema yang bisa dibilang pas-pasan. Masuk ke dekade kedua tahun 2000, beberapa sineas muda mulai berani bereksperimen dengan tema adiwira ini. Pada 2015 muncul film Garuda Superhero yang merupakan hasil kerja sama Indonesia-India.

Kemudian, tahun lalu muncul film adiwira hawa Valentine yang napasnya hanya sejenak di layar bioskop. Valentine berusaha mengikuti jejak film Hollywood Kickass 1 dan Kickass 2 yang berupaya mereformulasi adiwira anak muda di sana.

Jagoan lokal

Creative Producer Jagat Sinema Bumilangit Jilid I sekaligus sutradara Gundala Joko Anwar menekankan, ia tidak sedang membuat film adiwira layaknya Marvel Cinematic Universe (MCU) dan DC Extended Universe (DCEU). “Kita bikin film jagoan dari komik Indonesia dan tahun 1954. Kalau Marvel, baru-baru ini saja. Kita sudah lama, sebetulnya,” ujar Joko Anwar di Plaza Senayan, kemarin.

Film-film yang masuk dalam Jagat Sinema Bumilangit nantinya, seperti Gundala, Sri Asih, Godam dan Tira, Si Buta dari Gua Hantu, Patriot Taruna, Mandala, Gundala Putra Petir, dan Patriot, kata dia, akan memiliki ciri khas tersendiri dibandingkan dengan adiwira mancanegara.

Latar belakang cerita akan sesuai dengan kondisi Indonesia saat ini, kegelisahan, dan topik yang sedang dihadapi oleh rakyat Indonesia. “Di luar, Marvel sama DC enggak ada (ciri khas itu), berantem (terus). Makan mi ayam enggak ada,” kata dia.

Selain itu, pria kelahiran Medan, 3 Januari 1976, ini mengaku ingin menjadikan Jagat Sinema Bumilangit ini sebagai showcase untuk talenta-talenta terbaik Indonesia, baik di depan maupun di belakang kamera. “Jadi, selain harus cocok dengan karakternya, juga harus punya skill yang tinggi,” ujar Joko.

Production Manager Bumilangit Studios Imansyah Lubis sebelumnya mengatakan, memang masih terlalu awal untuk bisa menandingi film garapan Marvel Studio. “Masih terlalu dini kalau bilang bisa menyaingi pendapatan Avengers: Endgame, tapi kita sudah berusaha bikin film sebaik-baiknya. Semoga Gundala disukai dan ini baru awalnya,” kata Imansyah.

Continue Reading

Entertainment

Makna Foto Emily Ratajkowski Pamer Bulu Ketiak

Published

on

By

Finroll.com –  Ada yang berbeda dalam tampilan Emily Ratajkowski di majalah Harper’s Bazaar AS edisi September mendatang. Dengan berani, ia berpose mengenakan bra berenda hitam dengan tangan di belakang kepala sambil memamerkan bulu ketiaknya.

Pose tersebut bukanlah sembarang pose. Tampilannya ini disertai dengan esai pribadi Emily yang membahas perlakuan masyarakat tentang seksualitas perempuan dan makna menjadi perempuan feminin. Model berusia 28 tahun itu ingin perempuan bisa menjadi apa yang dipilihnya tanpa mendapat penghakiman dari masyarakat.

“Apa artinya menjadi seorang perempuan yang dipengaruhi budaya misoginis? Saya yakin, cara saya untuk menjadi seksi masih dipengaruhi budaya misoginis. Tapi rasanya menyenangkan bagi saya dan ini pilihan saya, kan?” tulisnya di Harper’s Bazaar.

Salah satu alasan Emily tak ingin mencukur bulu ketiaknya adalah karena ia merasa seksi. Meskipun banyak pemikiran yang menganggap bahwa perempuan lebih seksi ketika tidak ada bulu ketiak, tetapi pemeran serial tv ‘Easy’ ini justru merasa nyaman dan percaya diri. Menurutnya, mencukur bulu ketiak atau tidak itu adalah hak siapapun dan tidak perlu ada orang yang mengomentari pilihannya.

“Bagi saya, perempuan punya kesempatan memilih untuk mempunyai rambut halus di tubuhnya atau tidak, berdasarkan keinginan mereka sendiri. Pada hari tertentu, saya suka mencukur. Namun terkadang membiarkan bulu di tubuh saya tumbuh membuat saya merasa seksi,” lanjutnya lagi.

Bahkan Emily Ratajkowski tidak peduli jika ia akan dianggap contoh feminis yang buruk karena pilihannya itu. Ia pun meminjam kata dari Roxane Gray, seorang penulis Amerika Serikat dengan penjualan novel terbaik berjudul ‘Bad Feminist’.
“Selama keputusan itu adalah pilihan saya, maka itu adalah pilihan yang tepat. Pada akhirnya, identitas dan seksualitas seseorang tergantung pada mereka dan bukan orang lain.”

Dalam tulisan esai untuk Harper’s Bazaar ini, Emily ingin menegaskan bahwa perempuan bisa memakai apa saja yang menjadi dirinya sendiri seperti yang mereka inginkan, entah itu dalam balutan burqa atau bikini.

“Saya merasa kuat ketika menjadi diri sendiri, terkadang merasa ingin mengenakan rok mini. Terkadang pula ingin mengenakan hoodie besar dan celana training. Terkadang saya merasa sangat kuat dan bebas ketika saya memakai bra dan tank top,” katanya lagi.

Emily menambahkan, “Di era selfie dan media sosial, perempuan cenderung mendapat umpan balik dan kritik langsung. Mereka menjadi ragu dan mempertanyakan identitas mereka. Satu hal yang dapat mereka miliki adalah pilihan mereka sendiri. Berikan perempuan kesempatan untuk menjadi apapun yang mereka inginkan sebanyak mungkin,” tutupnya.

Ladies, setuju dengan pernyataan Emily Ratajkowski?

Continue Reading

Entertainment

Usir Singa Gunung dengan Lagu Metallica

Published

on

By

Finroll.com –  Akhir Juli lalu, seorang wanita bernama Dee Galant dikabarkan berhasil mengusir seekor singa gunung, atau puma, dengan memutar lagu Metallica. Berita unik ini rupanya sampai ke telinga sang vokalis, James Hetfield.

Untuk diketahui, Galant pada 28 Juli lalu diadang oleh seekor puma saat ia sedang berjalan-jalan bersama anjingnya di sebuah kawasan kota Vancouver, Kanada. Ketimbang kabur melarikan diri, Galant malah memutar lagu Metallica yang berjudul ‘Don’t Tread on Me’ lewat ponselnya. Lucunya, sang puma langsung minggat setelah mendengar lagu itu.

Kejadian tersebut pun tentunya sangat berkesan buat Galant. Kepada para wartawan yang mewawancarainya, Galant berharap bahwa satu saat ia bisa berterima kasih langsung kepada Metallica, khususnya Hetfield. “Aku ingin bilang bahwa lagu mereka sudah menyelamatkan nyawa saya,” kata Galant kala itu.

Keinginan Galant terjawab. Hetfield menghubunginya secara langsung.

Dilansir dari Loudwire, Galant tiba-tiba mendapatkan telepon dari seorang yang mengaku pihak manajemen Metallica. Galant diberi tahu bahwa ia akan dihubungi langsung oleh Metallica pada hari itu.

Benar saja, telepon Galant kembali berbunyi setelah ia mengakhiri pembicaraannya dengan manajemen Metallica. Bisa ditebak, bulu kuduknya langsung bergidik ketika mendengar suara Hetfield di ujung sambungan telepon.

Ia kegirangan bukan main.

“Rasanya seperti mimpi. Aku lebih kaget lagi karena Hetfield ternyata seorang yang sangat baik dan rendah hati. Aku tentu sangat bahagia,” kata Galant.

Kejutan tidak berakhir di situ. Tak lama setelah pembicaraan keduanya berakhir, Galant menerima kiriman foto selfie dari Hetfield.

“Hanya untuk meyakinkanmu bahwa yang menelpon barusan betul-betul aku,” tulis Hetfield setelah mengirim foto tersebut.

Aku betul-betul tidak bisa memercayai hal ini. Aku betul-betul girang sekali. Andai saja ada yang meramalkan hal ini kepadaku ketika aku masih berusia 18 tahun dulu, mungkin aku juga tidak akan percaya,” ujar Galant.

Continue Reading
Advertisement

Trending