Connect with us

News

Tiga Fakta Idham Aziz, Calon Kapolri Baru

Published

on


Kepala Badan Reserse Kriminal Kepolisian Republik Indonesia Komisaris Jenderal Idham Aziz menjadi calon tunggal Kepala Polri (Kapolri). Idham akan menggantikan Kapolri sebelumnya, Tito Karnavian, yang diberhentikan karena menjadi Menteri Dalam Negeri di kabinet Joko Widodo-Ma’ruf Amin.

Sore hari ini, Rabu, 30 Oktober 2019 Idham akan mengikuti uji kepatutan dan kelayakan (fit and proper test) di Komisi Hukum Dewan Perwakilan Rakyat. Pagi harinya, dia akan terlebih dulu menerima kunjungan Komisi Hukum DPR di rumahnya.

“Jika selesai fit and proper test mungkin malam hari kami akan lakukan penetapan calon Kapolri terpilih,” kata Ketua Komisi Hukum DPR Herman Hery di Kompleks DPR RI, Jakarta, Selasa, 29 Oktober 2019. Komisi Hukum juga akan segera mengusulkan penetapan Idham sebagai Kapolri dalam rapat paripurna DPR, besok, Kamis, 31 Oktober.
Ads by Kiosked

Berpengalaman di Bidang Reserse dan Antiteror

Lulusan Akademi Kepolisian 1988, lelaki kelahiran Kendari, Sulawesi Tenggara, 30 Januari 1963 ini dikenal berwawasan di bidang reserse dan antiteror. Jabatan terakhir Idham saat ini Kepala Badan Reserse Kriminal Mabes Polri.

Salah satu terduga teroris yang pernah ditanganinya adalah Dr. Azahari, orang yang diyakini sebagai otak bom Bali I dan II. Azahari tewas di Batu, Malang, Jawa Timur pada 2005 dengan dua versi cerita: meledakkan diri saat diburu Detasemen Khusus 88 atau ditembak petugas.

Pada 2014, Idham didapuk menjadi Kepala Kepolisian Daerah Sulawesi Tengah yang dianggap rawan teror oleh kelompok Mujahidin Indonesia Timur. Mei 2015, pasukan Brigade Mobil menyerbu sekelompok orang yang diperkirakan berjumlah tujuh laki-laki anak buah Santoso, pemimpin MIT. Baku tembak itu mengakibatkan dua orang yang diduga sebagai teroris tewas dan dua polisi luka-luka.

Orang Dekat Tito Karnavian

Kedekatan Idham dan mantan Kapolri Jenderal Tito Karnavian dimulai pada 2005. Kala itu, Tito Kepala Subden Bantuan Densus 88/AT Bareskrim Polri.

Tito meminta Idham menjadi wakilnya dalam investigasi kasus di Poso, Sulawesi Tengah. November 2005, Idham resmi menjadi Wakil Ketua Satuan Tugas Bareskrim Poso mendampingi Tito.

Saat Tito Kapolri, karir Idham terus menanjak. Dari Kapolda Sulteng pada periode 2014-2016, Inspektur Wilayah II Inspektorat Pengawasan Umum Polri (Maret-September 2016), Kepala Divisi Profesi dan Pengamanan Polri (September 2016-Juli 2017).

Kemudian Kepala Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta Raya (Juli 2017-Januari 2019), dan Kabareskrim Mabes Polri (Januari 2019-sekarang). Menurut sumber Tempo, Tito jugalah, bersama Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas), yang mengusulkan nama Idham Aziz sebagai calon Kapolri.

Sumber ini mengatakan ada nama lainnya yang disodorkan Kompolnas, yakni Kepala Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Polri Komjen Arief Sulistyanto, Kepala Badan Intelijen dan Keamanan Polri Komjen Agung Budi Maryoto, serta Wakil Kepala Badan Siber dan Sandi Negara Komjen Dharma Pangrekun. “Tapi tiga nama yang menguat di Istana. Dharma dicoret karena masih muda,” kata sumber yang dikutip Majalah Tempo edisi Senin, 28 Oktober 2019v

Arief Sulistyanto dan Agung merupakan lulusan Akpol tahun 1987, keduanya berturut-turut akan pensiun pada Februari dan Maret 2023. Sedangkan Idham lulusan Akpol 1988 yang akan pensiun pada Januari 2021.

Jalan Mulus Menjadi Tri Brata-1

Nama Idham Aziz diusulkan oleh Presiden Joko Widodo atau Jokowi menjadi calon Kapolri. Langkah Idham pun cenderung mulus untuk menjadi Tri Brata-1. Sejumlah fraksi di DPR menilai Idham merupakan sosok mumpuni untuk menjadi Kapolri. “Saya menilai Presiden tidak salah menunjuk figur yang bersangkutan,” kata Herman.

Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad mengatakan hal senada. Menurut dia, sejauh ini belum ada penolakan terhadap sosok Idham Azis. “Saya enggak bisa mewakili seluruh DPR, tapi kalau menurut saya sosok Pak Idham itu dari segi kapasitas sudah memenuhi sebagai calon Kapolri,” kata Dasco

Nasional

Update Corona : 1.046 Kasus, 87 Meninggal, 46 Sembuh

Published

on

Jumlah pasien positif terinfeksi Virus Corona (Covid-19) di Indonesia bertambah signifikan. Pada Jumat (27/3), angkanya mencapai 1046 kasus. Dari jumlah itu, korban meninggal mencapai 87 orang, dengan jumlah yang sembuh 46 orang.

“Ada penambahan kasus cukup signifikan ada 153 kasus baru yang kita dapatkan,” kata Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto dalam keterangan persnya, di gedung BNPB, Jakarta, Jumat (27/3).

“Sehingga total kasus menjadi 1046,” ia menambahkan.

Yuri melanjutkan kasus kematian akibat Covid-19 hingga saat ini mencapai 87 orang.

“Ada sembilan kematian baru sehingga totalnya menjadi 87 orang,” ungkap dia.

Selain itu, jumlah pasien Corona yang sembuh menjadi 46 orang.

“Ada 11 pasien dinyatakan sembuh sehingga total sembuh 46,” ucap Yuri.

Pada Kamis (26/3), jumlah pasien positif sebanyak 893 orang, dengan korban meninggal 78 orang, dan pasien yang sembuh 35 orang.

Yuri menyebut peningkatan kasus positif Corona ini terjadi akibat ketidakpatuhan masyarakat terhadap anjuran jaga jarak atau social distancing, baik di luar maupun di dalam rumah, hingga tidak disiplin mencuci tangan.

Continue Reading

International

Calon Dokter AS Dipercepat Lulus demi Tangani Pasien Corona

Published

on

By

Hampir seluruh sekolah kedokteran di Amerika Serikat berencana meluluskan mahasiswa tingkat akhir lebih cepat, untuk membantu menangani pasien wabah virus corona yang jumlahnya terus bertambah.

FINROLL.COM — Asosiasi Sekolah Kedokteran Amerika (AAMC) menuturkan beberapa universitas sudah menawarkan pilihan kepada para mahasiswa kedokteran tingkat akhir supaya lulus lebih awal.

“Kami sadar bahwa hampir setiap sekolah (kedokteran) mempertimbangkan kelulusan dini sebagai opsi dalam tanggapan berkelanjutan kami terhadap pandemi ini,” ucap Kepala Petugas Pendidikan Medis AAMC, dr. Alison Whelan, kepada CNN melalui surat elektronik.

Universitas New York (NYU) menjadi kampus pertama yang menawarkan pilihan tersebut kepada para mahasiswa sekolah kedokteran yang mereka kelola. Tawaran itu diumumkan NYU sejak Selasa pekan ini.

Sementara itu, empat sekolah kedokteran di Massachusetts juga tengah berdiskusi untuk menerapkan opsi jalur cepat kelulusan.

Kepala Dinas Kesehatan dan Pelayanan Kemanusiaan Massachusetts, Marylou Sudders, menuturkan keempat sekolah itu terdiri dari Sekolah Kedokteran Universitas Tufts, Sekolah Kedokteran Universitas Massachusetts, Sekolah Kedokteran Universitas Boston, dan Sekolah Kedokteran Harvard.

“Kami tengah bekerja sama dengan para dekan sekolah medis universitas di Massachusetts untuk meluluskan para mahasiswanya lebih cepat,” ucap Sudders pada Kamis (26/3).

Selain di Massachusetts dan New York, Sekolah Kedokteran Cooper Universitas Rowan di New Jersey juga mempertimbangkan langkah serupa. Perguruan tinggi itu dikabarkan telah mengirim surel kepada setiap mahasiswa tingkat akhirnya pada pekan ini untuk menawarkan kelulusan lebih cepat.

Rencana para sekolah kedokteran ini muncul di saat jumlah kasus virus corona di AS telah menjadi yang tertinggi di dunia per Jumat (27/3).

Jumlah kasus infeksi Covid-19 di AS mencapai 85.377 orang dan sudah melampaui China yang menjadi awal penyebaran.

Jumlah kematian pasien virus corona di AS juga telah mencapai 1.295 orang. Sementara itu, China tercatat memiliki 81.340 kasus Covid-19 dengan 3.292 orang meninggal.

Jumlah kasus corona di AS melonjak sangat tinggi setelah Negeri Paman Sam menemukan 17.166 kasus positif corona baru dan 268 kematian dalam sehari kemarin.

Kasus virus corona terbanyak terdapat di Negara Bagian New York dengan total 37.877 kasus dan 385 kematian per hari ini.

Lonjakan besar kasus corona ini membuat rumah sakit di AS kewalahan karena jumlah pasien yang terus meningkat, sementara tenaga dan alat medis terbatas.

Salah satu rumah sakit di New York, Rumah Sakit New York Bellevue, bahkan terpaksa membangun kamar mayat darurat menggunakan tenda dan truk pendingin lantaran keterbatasan kapasitas ruangan.

Salah satu perawat di Rumah Sakit Long Island menuturkan jumlah pasien yang masuk sudah melebihi kapasitas yang bisa ditangani petugas, sehingga mengancam kondisi kesehatan para perawat dan dokter. (CNN/GPH)

Continue Reading

Nasional

Peneliti Inggris: Ribuan Kasus Corona RI Tak Terdeteksi

Berdasarkan data, angka kematian akibat Covid-19 di Indonesia merupakan yang tertinggi di dunia dengan persentase mencapai 11,4 persen atau 78 kematian dari 893 kasus per Kamis (26/3). Namun, angka pengetesan Covid-19 di Indonesia termasuk yang terendah di dunia.

Published

on

Peneliti Inggris menyatakan jumlah kasus Covid-19 yang tidak terdeteksi di Indonesia sebenarnya bisa mencapai puluhan ribu hingga ratusan ribu kasus. Namun, kasus-kasus infeksi virus corona SARS-COV-2 ini tidak terdeteksi karena rendahnya tingkat pengetesan oleh pemerintah.

FINROLL.COM — Hal ini diungkap peneliti Pusat Pemodelan Matematika Penyakit Menular (CMMID) London, Inggris. Mereka yang mengembangkan pemodelan matematika untuk memprediksi secara kasar kemungkinan jumlah kasus penyebaran Covid-19 di suatu negara berdasarkan jumlah kematian.

Menurut pemodelan tersebut, satu kematian yang dikonfirmasi di suatu negara seperti Indonesia, sebenarnya bisa digunakan untuk menghitung beban kasus yang sebenarnya.

Pemodelan ini mempermasalahkan soal tingginya persentase tingkat kematian Covid-19 di Indonesia. Mereka memperkirakan tingginya angka kematian ini disebabkan pemerintah kurang agresif melakukan pengetesan para terduga Covid-19.

Berdasarkan data, angka kematian akibat Covid-19 di Indonesia merupakan yang tertinggi di dunia dengan persentase mencapai 11,4 persen atau 78 kematian dari 893 kasus per Kamis (26/3). Namun, angka pengetesan Covid-19 di Indonesia termasuk yang terendah di dunia.

Pekan lalu, Indonesia baru melaksanakan 1.727 tes. Jika dibandingkan dengan total penduduk, baru satu orang di tes dari 156 ribu orang. Dengan demikian, diperkirakan masih banyak penderita Covid-19 yang belum teridentifikasi. Pembelian 150 ribu alat tes dari China diharapkan bisa mempercepat identifikasi mereka yang terduga terinfeksi virus corona.

Prediksi pemodelan CMMID tergantung pada dua variabel kunci, yakni tingkat kematian dan tingkat penularan, serta mengukur berapa banyak orang yang kemungkinan akan terinfeksi oleh satu orang

Mereka lalu membandingkan tingkat kematian di Indonesia ini dengan data kematian Covid-19 WHO sebesar 3 persen (3 kematian per 100 kasus). Meski demikian, para ahli virologi dan epidemologi percaya tingkat kematian virus ini di bawah 1 persen.

Tingkat penularan Covid-19 juga diperkirakan ada di angka 2 dan 3, yang artinya tiap pasien positif, menularkan kepada dua atau tiga orang lain.

Kombinasi dua data ini, digabungkan dengan angka kematian di Indonesia, maka para ahli memperkirakan sebenarnya tingkat infeksi Covid-19 di RI sudah lebih besar.

Perkiraan konservatif, menurut pemodelan CMMID dengan tingkat kematian Covid-19 sebesar 1 persen dan tingkat penularan kepada 2 orang memprediksi telah ada 70.848 kasus virus corona baru di Indonesia.

Sementara jika angka tingkat infeksi ditingkatkan ke angka 3, maka kemungkinan terdapat 251.424 kasus di Indonesia. Di mana satu kematian Covid-19 akan menunjukkan ada 5.238 kasus di masyarakat. Nilai sebenarnya kemungkinan berada di antara keduanya.

Angka ini didapat berdasarkan data kematian Covid-19 pada Senin (23/3). Saat itu, data kematian di Indonesia masih di angka 48 orang.

Associate CMMID profesor Stefan Flasche mengatakan bahwa jumlah kasus virus corona baru akan meningkat dua kali lipat setiap tujuh hari.

“Orang akan berharap bahwa kira-kira enam kematian yang dilaporkan per hari yang Anda lihat saat ini [di Indonesia] akan meningkat menjadi 12 kematian per hari minggu depan  dan 24 kematian per hari setelahnya. [Itu akan berhenti] kecuali ada upaya besar yang bertujuan untuk menghentikan penyebaran melalui misalnya, social distancing,” katanya, seperti dikutip ABC.

Ketika ditanya kemungkinan ada 1 juta kasus di Indonesia pada akhir April, menurutnya hal itu mungkin terjadi. Kemungkinan ini berkaca dari tingginya populasi di Indonesia dengan 270 juta penduduk.

“Mungkin membuat semi-masuk akal, sebagai skenario terburuk,” tuturnya.

Profesor Niall Ferguson dari Imperial College di London, Inggris, juga mendukung perhitungan ini. Menurutnya, satu kematian menunjukkan setidaknya seribu kasus di masyarakat dengan asumsi tingkat kematian 1 persen.

“Kami kira epidemi tanpa adanya pengukuran…mungkin akan naik dua kali lipat tiap lima hari…dan hanya satu dari 100 orang yang terinfeksi akan meninggal,” tuturnya.

“Jika penderita sudah menunjukkan gejala, butuh 20 hari atau lebih hingga mereka meninggal. Sehingga angka kematian hari ini menunjukkan epidemi yang terjadi 20 hari lalu.”

“Epidemi saat itu (20 hari lalu) pasti 10 kali lebih kecil. Jika dikalikan dengan angka 100 angka kematian, maka didapat faktor pengali 1.000 kasus.”

Sebelumnya, Menteri Kesehatan memprediksi kemungkinan 700 ribu kasus di Indonesia. Namun, tidak menjelaskan kapan Indonesia akan mencapai angka ini.

Melansir News, mantan perdana menteri Australia Kevin Rudd memperingatkan bahwa situasi yang ada di Indonesia dapat memiliki konsekuensi serius bagi Australia.

“Teman dan tetangga kita Indonesia, populasi 275 juta, sekarang berada di puncak bencana virus corona yang tinggi. Ini memiliki implikasi keamanan nasional yang besar bagi Jakarta dan Canberra. Ini akan membutuhkan solidaritas dan diplomasi yang sangat terampil di masa depan,” kata Rudd. (CNN)

Continue Reading
Advertisement

Advertisement

Trending