Connect with us
[adrotate group="1"]

Nasional

Tingkatkan Konsumsi Ikan, KKP Segera Gandeng Generasi Millenial

Published

on


Tingkatkan Konsumsi Ikan, KKP Segera Gandeng Generasi Millenial

Finroll.com – Kementerian Kelautan dan Perikanan akan segera menggandeng generasi millenial untuk meningkatkan konsumsi ikan sebanyak 54,49 kg per kapita pada 2019.

Ikan menjadi salah satu sumber protein yang sangat besar. Dengan makan ikan kita bisa lebih sehat, dan turut serta dalam mencerdaskan generasi penerus bangsa,” ujar Dirjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan KKP, Rifky Effendy dalam keterangan tertulisnya, Jumat (23/11).

Untuk memenuhi target konsumsi ikan 54,49 kg di tahun 2019 itu, Rifky menegaskan jika pihaknya akan melibatkan millenial agar lebih mengenal dan mencintai menkonsumsi ikan.

Hal ini sesuai dengan tema Hari Ikan Nasional 2018 yang mengangkat “Dengan Protein Ikan, Kita Membangun Bangsa”.

“Nah ini yang membedakan Hari Ikan Nasional 2018 dengan tahun sebelumnya. Karena kita ingin membangun budaya makan ikan ke arah yang lebih modern. Makanya kami ingin libatkan kaum millenial,” paparnya.

Baca Lainnya: 9 Wisata Kuliner di Jakarta yang Rasanya Bikin Ketagihan

Dengan potensi media sosial dan media massa berbasis internet, ia yakin jika langkah ini bisa menjadi pelopor gerakan makan ikan yang lebih dikenal masyarakat.

Pihaknya juga telah menggagas Seafood Lovers Millenial, karena data dari Kementerian Pariwisata mengetahui jika 45 persen kunjungan wisata di Indonesia berasal dari sektor kuliner.

Konsumsi Ikan per Kapita Tiap Tahun Bertambah

Rifky menyebutkan, dalam lima tahun terakhir target konsumsi ikan per kapita selalu meningkat. Misalnya 38,14 kg/kapita di tahun 2014, 40,9 kg/kapita di tahun 2015, 43,88 kg/kapita pada tahun 2016, 47,12 kg/kapita di tahun 2017, dan 50 kg/kapita pada 2018.

“Ini bukti kalau masyarakat kita sudah mulai sadar akan pentingnya mengkonsumsi ikan bagi kesehatan,” imbuhnya.

“Tapi kita juga jangan sampai kalah dengan dengan Malaysia yang 70 kg/perkapita per tahun, atau Singapura 80 kg/kapita per tahun, atau Jepang yang mendekati 100 kg/kapita per tahun,” sambungnya.

Source: Antara

Nasional

Luhut Bicara Pilkada: Laksanakan, Amankan

Published

on

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan menyatakan bahwa Pilkada Serentak 2020 tetap perlu dilanjutkan meski pandemi virus corona (Covid-19) belum usai.

“Laksanakan, amankan,” kata Luhut dalam program Mata Najwa yang ditayangkan secara live di Trans7, Rabu (23/9) malam, ketika ditanya mengapa Pilkada tetap dilanjutkan di tengah pandemi.

Luhut mengadopsi cara kerjanya dulu saat menjadi prajurit TNI. Dia mengatakan bahwa perintah harus dijalankan apapun konsekuensinya.

Termasuk pula Pilkada Serentak 2020 kali ini. Jika Presiden Jokowi sudah memberi perintah, maka harus dilaksanakan.

“Itu yang saya dapat dari para senior saya dulu. Jadi saya sebagai tentara, laksanakan. Amankan,” katanya.

Presiden Jokowi, lanjutnya, tentu memiliki pertimbangan sendiri ketika memutuskan untuk melanjutkan Pilkada Serentak 2020 ini. Luhut tidak membeberkan.

“Walaupun bisa saja kamu setuju tapi kami tidak setuju, tapi sudah diputuskan, buat saya hanya dua, laksanakan, amankan,” kata dia.

Menurut Luhut, yang perlu diperhatikan saat ini adalah memitigasi pelaksanaan pilkada yang digelar di tengah wabah Covid-19. Jangan sampai penyebaran virus corona makin masif akibat ada pelanggaran di pilkada.

Luhut merinci ada beberapa aspek yang akan diubah dalam aturan Pilkada Serentak 2020. Misalnya pada masa kampanye nanti.

Jika sebelumnya kampanye melibatkan banyak massa, maka kampenye saat ini akan dilarang mengumpulkan massa.

Pihaknya kata Luhut bahkan telah mengusulkan kepada Bawaslu, KPU juga Kapolri agar pelaksanaan kampanye dibatasi. Malah akan lebih baik jika tak ada kampanye terbuka yang digelar dalam Pilkada Serentak ini.

“Tidak ada kampanye apa namanya terbuka. Mungkin hanya terbatas atau daring juga dan sebagainya,” kata dia.

Luhut memastikan, dengan rambu-rambu dan aturan yang jelas pelaksanaan Pilkada Serentak 2020 yang digelar di tengah pandemi tak akan menimbulkan klaster penularan baru.

“Dengan kita memberi rambu-rambu jelas, aturan main jelas ya mestinya bisa. Mestinya bisa. Saya yakin bisa,” kata dia. (Cnn Indonesia)

Continue Reading

Nasional

Klaster Baru Corona Jakarta: Hiburan Malam, Hotel, Pernikahan

Published

on

Penyebaran virus corona (Covid-19) di Jakarta kian masif. Klaster-klaster baru penyebaran virus corona di ibu kota juga mulai bermunculan, sehingga kasus positif meningkat meningkat tinggi.

FINROLL.com – Ketua Bidang Data dan Teknologi Informasi Satgas Penanganan Covid-19 Dewi Nur Aisyah mengatakan setidaknya ada tujuh klaster baru penyebaran Covid-19 di Jakarta sejak pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) transisi 4 Juni hingga 12 September 2020. Hal itu berdasarkan analisis Tim Satgas dari data Dinas Kesehatan DKI Jakarta.

“Di sini ada beberapa yang baru yang sebelumnya tidak ada. Contohnya klaster hotel sudah mulai ada, pesantren, hiburan malam,” kata Dewi dalam dialog Covid Dalam Angka di Youtube BNPB, Rabu (23/9).

Dari data yang dipaparkan Dewi, tercatat klaster hotel sebanyak 3 kasus. Menurut dia, hal ini ditemukan setelah Dinas Kesehatan DKI Jakarta melakukan contact tracing atau pelacakan.

“Dilihatnya memang dari hotel itu tiga orang ini punya kontak di sana sebenarnya. Ini yang masih dalam penyelidikan sebenarnya, tapi muncul tempat baru yang ternyata berpotensi penularan,” jelas Dewi.

Selain klaster hotel, muncul juga klaster pesantren dengan 4 kasus, klaster hiburan malam 5 kasus, serta klaster pengungsian 6 kasus. Kemudian klaster sekolah 19 kasus, klaster kegiatan pernikahan 25 kasus, dan klaster panti asuhan 36 kasus.

“Kegiatan pernikahan juga mulai muncul. Ada 25 orang terinfeksi, walau kecil, tapi ini berpotensi jadi tempat penularan. Ini harus diperketat kembali,” tuturnya.

Kemunculan klaster-klaster baru di Jakarta ini menandakan agar masyarakat untuk tetap mematuhi aturan dan protokol kesehatan pencegahan Covid-19. Dewi juga meminta agar masyarakat untuk lebih mewaspadai penyebaran Covid-19.

“Ini beberapa contoh bermunculan klaster baru yang sebelumnya belum ada. Artinya kita harus lebih waspada lagi,” tuturnya.

Dewi juga mengatakan, sampai saat ini masih ada tiga klaster besar di DKI, yakni rumah sakit, komunitas, dan perkantoran.

Klaster rumah sakit merupakan kasus-kasus yang dicatat dari pasien atau laboratorium di mana warga aktif memeriksakan diri sendiri. Jumlah kasus positif dari klaster ini berjumlah 24.400 kasus atau menyumbang 63,46 persen kasus di Jakarta.
Lihat juga: Tiga Besar Klaster Covid DKI: RS, Komunitas dan Perkantoran

Kemudian, klaster komunitas yang termasuk di dalamnya klaster keluarga. Menurut Dewi, klaster komunitas menyumbang 15.133 kasus atau 39,36 persen dari kasus positif Covid di Ibu Kota.

Berikutnya klaster perkantoran muncul sebagai klaster ketiga terbanyak. Dari catatan Dewi, kasus klaster perkantoran di Jakarta mencapai 3.194 kasus atau sekitar 8,31 persen. (CNNIndonesia.com)

Continue Reading

Nasional

Warga Keluhkan ‘Tembok’ Birokrasi Saat Urus Pasien Covid-19 Masuk Wisma Atlet

Published

on

Seorang pria asal DKI Jakarta (IF) viral di twitter setelah menceritakan pengalamannya saat menemani istrinya mencari layanan kesehatan untuk isolasi mandiri di Rumah Sakit Darurat wisma Atlet. Ia harus melewati proses yang panjang dan terbilang rumit.

FINROLL.com – Istri IF dinyatakan positif Covid-19 setelah melakukan swab test di salah satu Klinik di Kemang, Jakarta Selatan pada 18 September 2020.

“Terima kasih doanya teman-teman, istri saya positif Covid-19. Mau cerita sedikit tentang proses dan situasi di lapangan seperti apa. Jaga diri lebih baik dari pada kena Covid, asli lebih ribet dan biaya tak terduga yang benar-benar tidak terduga,” cuit IF di akun twitternya, Minggu (20/9).

Saat dihubungi merdeka.com, IF membenarkan bahwa selama hampir satu hari penuh kewalahan menemani istrinya melewati proses yang rumit sebelum istrinya bisa diisolasi di Rumah Sakit Darurat (RSD) Wisma Atlet.

“Iya, saya harus ke puskesmas dulu. Lalu ke RSUD Tanah Abang, terus ke RS Mitra Keluarga Kemayoran, baru ke Wisma Atlet,” ujar IF kepada merdeka.com, Senin (21/9).

Selain itu, ia juga harus mengeluarkan uang sekitar Rp 7-8 juta untuk membayar biaya scan thorax, ambulans dan Alat Pelindung Diri (APD). Rinciannya, untuk biaya scan thorax di RS Mitra Keluarga Kemayoran Rp 6 juta, kemudian Rp 1,5 juta untuk biaya Alat Pelindung Diri, dan Rp 470.000 untuk biaya ambulans yang mengantarkan istrinya dari RS Mitra Keluarga Kemayoran ke RSD Wisma Atlet.

“Saya keluar uang sekitar sekitar Rp 7-8 juta, sebagian dibiaya asuransi kantor. Saya keluar uang pribadi sekitar Rp 2 juta-an,” ungkapnya.

Ia mengetahui istrinya positif Covid-19 pada Jumat (18/9) pagi. Namun istrinya baru bisa diisolasi di RSD Wisma Atlet pada Sabtu (19/9) dini hari.

Selama 18 jam, IF bercerita bersama istrinya dengan sabar mengikuti semua proses birokrasi yang telah ditetapkan. IF berharap, tidak ada lagi pasien positif Covid-19 yang harus melewati proses yang panjang seperti dirinya itu.

Oleh karena itu, ia menyarankan kepada siapa saja yang ingin diisolasi mandiri untuk langsung ke tempat layanan kesehatan terdekat agar bisa diberikan surat rujukan, karena tanpa surat rujukan, Wisma Atlet tidak akan mau menerima pasien.

“Harus bawa surat rujukan dulu, kalau sudah bawa surat rujukan, baru deh cepat prosesnya. Lalu bisa telepon ke 119, nomor Wisma Atlet dan telepon ke 112 untuk ambulans,” ujarnya.

Dia juga berharap pemerintah bisa membiayai berbagai macam biaya kesehatan para pasien positif Covid-19 yang mau melakukan isolasi mandiri.

“Saya pikir, kalau istri saya harus diisolasi di RS swasta, bisa belasan juta biayanya. Untungnya istri saya bisa diisolasi di Wisma Atlet. Totalnya sekitar Rp 7-8 juta. Tapi bagi sebagian orang mungkin uang segitu besar,” katanya.

Saat ini, IF merasa lega, karena istrinya sudah bisa dilayani dengan baik. Menurutnya, pelayanan yang diberikan oleh RSD Wisma Atlet kepada pasien gejala ringan sangatlah baik. Sehingga lanjut IF, sayang sekali jika proses agar bisa diisolasi di Wisma Atlet harus sesulit yang ia lalui. (Merdeka.com)

Continue Reading
Advertisement

Advertisement
Advertisement

Trending