Rabu, 3 Maret 2021

Sate Maranggi Menjadi Daya Tarik Para Wisatawan


Sate merupakan salah satu makanan khas Indonesia yang mudah ditemui di berbagai daerah di Tanah Air. Makanan berbahan dasar daging yang ditusuk dan dibakar tersebut memiliki beragam varian yang layak untuk dicicipi, salah satunya sate maranggi.

Makanan Sate Maranggi yang memiliki rasa gurih, sedikit manis, serta memiliki aroma rempah yang kuat

Menjadi salah satu daya tarik utama para wisatawan yang berkunjung ke Purwakarta.

finroll sate maranggi haji yetty

Sate Maranggi Punya Filosofi Sendiri

Setiap tusuk sate maranggi biasanya terdiri dari tiga potong daging. Ternyata hal ini memiliki filosofi tersendiri. Dilansir dari gottravelly.com, tiga potong daging tersebut melambangkan tri tangtu dalam bahasa Sunda, yaitu tekad, ucap, dan lampah (tindakan).

Sate Maranggi awalnya terbuat dari daging babi

Seperti beberapa makanan lainnya, sate maranggi lahir dari perpaduan budaya Tiongkok dengan cita rasa lokal.Dikutip dariejurnalpatanjala.kemdikbud.go.id, dahulu sate maranggi merupakan panganan yang terbuat dari olahan daging babi serta dendeng ayam. Namun karena agama Islam yang makin berkembang di Indonesia termasuk Purwakarta, daging yang digunakan diganti domba tanpa meninggalkan cita rasa bumbu aslinya.

Pada 1960-an, seorang pembuat sate bernama Mak Ranggi berhasil menciptakan varian sate dengan rendaman bumbu rempah kuat. Masyarakat setempat banyak yang menyukai cita rasa sate tersebut, sehingga muncul istilah lokal ‘ingin membeli sate mak Anggi’ dan lambat laun bergeser menjadi maranggi agar mudah diucapkan.

Perbedaan Sate Maranggi dan Sate Lainnya

Sate maranggi merupakan salah satu sate yang dikenal tidak menggunakan bumbu kacang di setiap penyajiannya. Bumbu dari sate tersebut diperoleh dari proses perendaman berbagai bahan rempah seperti bawang, jahe, ketumbar, hingga lada.

Selain itu pemberian air cuka serta lahang atau asam jawa membuat sate tersebut memiliki cita rasa sedikit rasa asam gurih yang menggugah selera.Dalam sejarahnya, dahulu Mak Ranggi menambahkan rempah dan perisa asam tersebut untuk mengawetkan daging kurban yang diperolehnya, mengingat saat itu belum tersedia lemari pendingin.

Biasanya varian sate dari Kabupaten Purwakarta tersebut dinikmati dengan beberapa potong lontong, nasi putih hangat, ataupun nasi timbel khas Jawa Barat yang menggugah selera.

( Sumber : Merdeka.com )

BACAAN TERKAIT