Tangis Dul Jaelani dalam Konser Reuni Dewa 19 di Malaysia

  • Bagikan

Menyaksikan video rekaman saat Dul, bontotnya Ahmad Dhani dan Maia, bermain keyboard mengiringi suara merdu Ari Lasso yang membawakan lagu “Cinta Kan Membawamu Kembali”nya Dewa 19, emang bikin merinding. Dia menahan tangis. Itu tangis seorang anak laki-laki yang berusaha menelan pil pahit atas terpenjaranya sang ayah. Dul tegar. Setegar sang ayah. Kalau boleh jujur, dari ketiga jagoan Ahmad Dhani, saya paling suka ya si Dul itu. Dia mewarisi banyak hal dari ayahnya.

Wajah Dul Plek Mirip Ahmad Dhani Saat Muda

Coba deh kamu iseng-iseng gugling poto-poto waktu mudanya Ahmad Dhani! Kalau kamu masih bilang Dul enggak mirip sama ayahnya, segera periksakan mata kamu ke dokter! Sudah pasti ada yang enggak beres dengan indera penglihatanmu. Selain cakep untuk ukuran laki-laki, wajah Dul menyiratkan kesan “angkuh”, persis kayak ayahnya. Mencerminkan pribadi yang idealis, percaya diri, dan berani untuk enggak disukai. Keren!

Serius Bermusik

Saya enggak bilang Al enggak serius bermusik, kiprahnya di dunia per-DJ-an enggak bisa dipandang sebelah mata. Tapi jelas itu bukan tipikal Ahmad Dhani. Namun Dul, ia berguru langsung ke salah satu maestro gitar di negeri ini, Pay. Generasi X yang enggak kenal Pay, bisa dipastikan, enggak pernah nongkrong dan gitaran di pinggir jalan, kelakuan khas anak-anak muda di jaman itu. Dan sudah pasti enggak suka Slank, band fenomenal yang sampai saat ini masih eksis dengan segala warna-warni perjalanannya. Nah langkah Dul memutuskan untuk belajar musik dari Pay adalah langkah yang cukup matang untuk ukuran anak muda seusianya. Pay tegas, enggak neko-neko, itu dibuktikan dengan hengkangnya ia dari Slank, karena sebuah prinsip. Meskipun menurut saya, lengkingan gitar Pay enggak tergantikan di lagu-lagu Slank. Hatta, Slank sekarang mengawinkan dua gitaris keren, Abdee dan Ridho.

Memiliki Aura Bintang yang Sulit untuk Disangkal

Kamu yang enggak suka dengan karakter Ahmad Dhani yang terkesan arogan, angkuh, si pahit lidah, tapi masih baper kalau dengar lagu Kangen, itu salah satu indikasi, seberapapun bencinya, sekuat apapun menyangkal nurani, Aura kebintangan Ahmad Dhani tak gontai diamuk badai.

~ Buset. Bahasa lu lebay amat Bang!

Jaman sekarang jangankan gua, menteri, anggota dewan, sampai presiden dan calon presiden sekalipun, semuanya lebay. Buktinya, pade demen banget cari sensasi. Ya, enggak?

Kembali ke Dul. Nah Dul ini, walaupun banyak cerita-cerita masa lalunya yang kadang bikin sebagian kita pengen banget jentulin kepalanya. Tapi kalau sudah menyaksikan dia memainkan jemarinya di atas keyboard ataupun gitar, apalagi waktu mengiringi Ari Lasso dalam salah satu konsernya. Beuuuh. Keren pisan itu bocah. Bikin anak-anak muda seusianya kepengen sekeren dia. Dan bikin om-om lucu kayak saya, kepengen masuk ke mesin waktu. Balik ke masa lalu. Terus menggunakan setelan putih-putih lalu duduk di belakang keyboard.

~ Maen keyboard, Bang?

Enggak, bersihin doang. Boro-boro keyboard, nah maen suling aja saya cuma bisa not; doo-re-mi-pa-sool-mi-doo, laa-do-si-la-sool. Tahu lagu apa? Ya betul, lagu Ibu Kita Kartini.

Makanya, saat melihat Dul segitu masygulnya mengiringi Ari Lasso di Konser Reuni Dewa 19 di Malaysa itu, sebagai om (ehm), saya kepengen sedikit ngobrol-ngobrol sama dia. Memberinya keyakinan bahwa sang ayah akan baik-baik saja di sana. Bercerita tentang penjara dan orang-orang yang justru menemukan inspirasi lahirnya karya monumental mereka di kamar kelam yang detak waktu seolah berhenti itu.

Yang masuk bui karena suatu kesalahan yang mungkin benar-benar tak dilakukannya atau tak disadarinya, insya Allah, ada hikmah indah dibaliknya. Roda zaman banyak bercerita, tentang orang-orang hebat yang mendapatkan momentumnya di balik jeruji dingin hotel prodeo. Hamka, Dua Proklamator, Sayyid Quthb, dan sang penulis tetralogi Pulau Buru, Pramoedya Ananta Toer, contohnya.

Yang keluar dari bui, jika ia mendapatkan keringanan karena sikap baiknya, itu sungguh kebebasan. Asal jangan keluar karena satu syarat yang justru memasukkannya lagi ke dalam penjara yang tak kalah kejam. Penjara Jiwa. Badan terlihat bebas, tapi ide, gagasan dan prinsip hidup di intervensi. Bagi kaum cendekia, penjara itu tak kalah mengerikan. Tidak saja merusak dirinya, tapi juga akan merusak tatanan hidup bermasyarakat.

Mohamad Sobary dalam esainya yang diterbitkan Kompas di medio April di tahun 1998, pernah menulis tentang penjara ini. Ketika ia menjenguk temannya yang menjadi rektor di sebuah perguruan tinggi. Seorang rektor yang melarang mahasiswanya berdemo, atas tekanan dari atas. Tubuhnya sehat, rapi berdasi, duduk di kursi empuk nan lembut, tapi sayang jiwanya terkurung. Dan itu, menurut Kang Sobary, tak kalah mengerikan dari penjara badan.

Sepinya malam dalam jeruji besi, bisa melahirkan inspirasi. Tapi sepinya jiwa, sepinya hati, siapakah yang hendak mengobati.

Buat Baladewa di seluruh dunia, mari kita Hadapi (ini) Dengan Senyuman. Anggap saja ini cuma Roman Picisan. Tunjukkan kalau cinta kalian tak pernah Pupus. Lalu dengan lantang bilang ke Mas Dani, “Cintakan Membawamu Kembali Di Sini, Mas!”

  • Bagikan
-->