5 Aturan di Desa Wisata Arborek Raja Ampat, Jangan Loncat dari Dermaga

  • Bagikan
5 aturan di desa wisata arborek raja ampat, jangan loncat dari dermaga
5 aturan di desa wisata arborek raja ampat, jangan loncat dari dermaga

Sebagian besar tempat wisata memiliki aturan tersendiri yang wajib dipatuhi wisatawan. Salah satunya adalah Desa Wisata Arborek di Pulau Arborek, Distrik Meos Mansar, Kabupaten Raja Ampat, Provinsi Papua Barat. “Ada aturan di jembatan dermaga, yakni tidak boleh melompat ke air saat turun untuk snorkeling,” kata Ketua Pokdarwis Desa Wisata Arborek Ronald Mambrasar kepada Kompas.com di Desa Wisata Arborek, Kabupaten Raja ASebagian besar tempat wisata memiliki aturan tersendiri yang wajib dipatuhi wisatawanmpat, Rabu (27/10/2021).

Ia menjelaskan, aturan ini diberlakukan tidak hanya untuk wisatawan, tetapi juga masyarakat Desa Arborek. Pasalnya, perairan di sekitar desa merupakan habitat berbagai macam ikan. Selain larangan untuk loncat dari dermaga menuju air, terdapat sejumlah aturan yang perlu diperhatikan yakni sebagai berikut, Selasa (9/11/2021):

  1. Jangan loncat dari

    Jika ingin snorkeling di area dermaga Desa Wisata Arborek, Ronald mengatakan bahwa wisatawan dapat melakukannya. Namun saat hendak turun ke perairan, mereka dilarang untuk loncat dari dermaga. Mereka harus turun secara perlahan. Selain merupakan habitat dari berbagai macam ikan, namun area sekitar dermaga desa juga habitat bagi beragam terumbu karang. Selama pandemi Covid-19, deretan terumbu karang ini dalam keadaan sehat.

“Kalau kita lompat, habitat akan terganggu dan berujung stres. Kalau mau, turun pelan-pelan dari dermaga silakan. Asalkan jangan loncat. Aturan ini ada alasannya dan sebaiknya diikuti,” tegas Ronald.

  1. Tidak menginjak terumbu karang

    Aturan kedua yang wajib dipatuhi adalah wisatawan dilarang menginjak terumbu karang. Ronald mengatakan, banyak terumbu karang di Desa Arborek rusak akibat ulah wisatawan sebelum pandemi Covid-19.

“Justru mereka yang bikin banyak terumbu karang rusak karena saat menyelam, banyak yang belum bisa kontrol keseimbangan,” ungkap dia. Ronald melanjutkan, wisatawan yang snorkeling namun tidak bisa menjaga keseimbangan kerap menggunakan terumbu karang sebagai tumpuan kaki. Hal ini membuat terumbu karang di Desa Arborek menjadi rusak setelah sebelumnya dalam keadaan sehat. “Saat Covid, banyak terumbu karang yang tumbuh lagi. Adanya pandemi ini, plusnya ada di sisi alam. Tapi minusnya di sisi ekonomi yang menjadi minus. Tujuan kita selama Covid ini, karena tidak ada tamu, kita tanam kembali terumbu karang,” jelasnya.

  1. Dilarang memancing di area tertentu

Selanjutnya, seluruh pengunjung yang ingin memancing dilarang melakukannya di area dermaga. Aturan ini juga berlaku untuk warga setempat yang masih berprofesi sebagai nelayan.

  1. Jangan buang sampah sembarangan

Desa Wisata Arborek berhasil menjadi Juara 1 dalam lomba Kampung Terbersih di Papua Barat pada 2017 lalu. Pada saat itu, persiapan mengikuti lomba dilakukan selama berbulan-bulan. Hingga saat ini, Ronald mengatakan bahwa Desa Wisata Arborek selalu dalam keadaan bersih. Hal inilah yang membuatnya mengimbau agar wisatawan tidak membuang sampah sembarangan saat berkunjung.

“Sampah juga jadi hal yang paling menantang bagi kami. Kami sendiri di sini sedang mencari bagaimana untuk mengatur sampah,” ucap Ronald.

“Untuk sementara, kami masih belum dapat jaringan bank sampah di Waisai jadi kami amankan satu area di Pulau Besar untuk pembuangan sampah,” imbuh dia.

  1. Jaga sopan santun

Saat berkunjung ke suatu tempat, baik itu tujuan wisata atau bukan, orang-orang tetap diimbau untuk menjaga sopan santun. Hal ini juga wajib dilakukan saat wisatawan sedang berlibur ke Desa Wisata Arborek. Desa Wisata Arborek berlokasi di Pulau Arborek, Distrik Meos Mansar. Saat ini, harga tiket masuk Desa Wisata Arborek adalah sukarela.
Desa ini dapat ditempuh dari Kota Waisai di Pulau Waigeo. Perjalanan menuju ke sana adalah sekitar 1 jam dengan kapal cepat. Sementara untuk menuju Kota Waisai, wisatawan dapat menggunakan pesawat atau kapal dari Kota Sorong. Jika naik pesawat, waktu tempuh dari Bandara Domine Eduard Osok di Sorong menuju Bandara Marinda di Waisai adalah sekitar 30 menit naik pesawat perintis Cessna milik maskapai penerbangan Susi Air. Sementara jika naik kapal, waktu tempuhnya berada pada kisaran 2 jam. Harga tiketnya sekitar Rp 100.000 untuk Kelas Ekonomi dan Rp 215.000 untuk Kelas VIP. Informasi lebih detail bisa langsung ditanya ke pihak penjual tiket di pelabuhan karena jadwalnya tidak menentu akibat pandemi.

Sumber : Kompas.com

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

-->