Jalan Bijak Sikapi Penutupan TN. Komodo

  • Bagikan

Kebijakan Penutupan Taman Nasional Komodo oleh Gubernur NTT, Viktor Laiskodat memang menciptakan pilihan yang sulit. Meningkatkan populasi komodo itu sendiri atau membunuh masyarakat yang bergantung dari pariwisata bertaraf internasional tersebut.

Meski hingga saat ini kebijakan tersebut masih taraf wacana karena masih dalam tahap pertimbangan antara Kementerian Lingkungan Hidup dan pertimbangan industri pariwisata yang saat ini tengah difokuskan oleh pemerintahan Presiden Jokowi.

Terlepas dari kebijakan tersebut, ketika kita hendak melihat sang Dragon pada habitatnya tentunya memerlukan kocek yang cukup tebal, karena memang akses menuju Pulau Komodo tergolong mahal karena harus menggunakan kapal dengan jarak tempuh yang cukup jauh.

Menjelajahi pulau Komodo 5 tahun yang silam, dengan menggunakan kapal boat, dibawah rintikan hujan menghempaskan diri ini memasuki sebuah kehidupan terpencil yang berisi mahluk melata simbol kehidupan di masa purba.

Membelah lautan selama 1 jam dengan kapal boat atau 2 jam dengan kapal wisata, kita akan disuguhkan punggungan pulau-pulau yang masuk ke dalam zona konservasi, bahkan Pulau Komodo merupakan pulau terbesar yang didiami reptil tersebut di kawasan Taman Nasional Komodo.

Begitu kita merapat maka yang ditemui hanya para pemandu yang menawarkan trek jelajah pulau, dari trek terdekat sekitar 1,5 km berjalan kaki, hingga trek terjauh berkisar 10 km. Artinya wisatawan hanya memasuki pinggiran dari Pulau Komodo yang tergolong besar – Tidak memasuki zona inti konservasi.

Umumnya setelah treking melihat komodo, wisatawan akan kembali ke kapal dan melanjutkan perjalanan kesisi kanan pulau untuk berkunjung ke Kampung Komodo – komunitas manusia yang berasal dari suku Bajo dan hidup berdampingan dengan komodo.

Disini wisatawan bisa beristirahat di warung untuk melepas lelah sekaligus membeli cinderamata khas Pulau Komodo. Perjalanan dapat diteruskan mengunjungi pulau-pulau yang bertebaran di TN. Komodo sepanjang perjalanan pulang kembali ke kota Labuan Bajo – Pintu masuk TNK.

Gambaran itulah ketika wisatawan hendak melihat komodo di habitatnya. Meski demikian, tidak semua wisatawan bisa mengunjungi Pulau Komodo yang tergolong mahal, dapat dikatakan hanya turis mancanegara yang menyambangi pulau ini, bahkan tergolong lebih sepi dibandingkan dengan komodo di Pulau Rinca yang jaraknya lebih dekat dari kota Labuan Bajo.

Tepatkan Kebijakan Penutupan TN. Komodo?

Menjawab pertanyaan tersebut dan hubungan dengan gambaran wisatawan mengunjungi sang dragon, maka kita dapat menganalisisnya dengan kondisi masyarakat Labuan Bajo yang bergantung dengan wisatawan yang berkunjung.

Biar bagaimana pun pemerintah yang telah menyiapkan wisata Komodo menjadi pariwisata alternatif selain Bali, dari infrastruktur Bandara yang kini dapat didarati pesawat berbadan besar, perhotelan, café dan resto, hingga UMKM yang menyediakan souvenir – gantungan kunci hingga kain khas Nusa Tenggara Timur.

Infrastuktur pariwisata yang digenjot pun memaksa masyarakat setempat yang dulunya mata pencaharian bertani dan nelayan, kini menggeluti dunia pariwisata. Tak sedikit sekolah kejuruan pariwisata yang mendidik muridnya melakukan kerja lapangan di Bali.

Lantas adilkah bagi masyarakat, ketika pariwisata sudah menjadi mata pencaharian masyarakat Labuan Bajo harus berhenti lantaran tidak ada tamu yang berkunjung. Tentunya gejolak sosial dan ekonomi akan menjadi pekerjaan rumah bagi pemimpin daerah tersebut.

Ketika kita mengurut kebijakan Gubernur NTT, Viktor Laiskodat yang akan menutup TN. Komodo tak lepas dari wacana sebelumnya yang beredar cukup kencang, dimana tiket masuk TN. Komodo akan naik hingga 500 dollar atau sekitar Rp 7 juta – Sebuah angka ngawang-ngawang dan tidak realistis.

Entah apa yang dalam pemikiran sang Gubernur yang tak searah dengan pemerintah pusat yang mati-matian mempromosikan pariwisata di luar negeri. Ketika untuk tiket harus menghabiskan Rp 7 juta, ditambah sewa kapal hingga jutaan, biaya penginapan, makan, dll tentunya menjadi angka yang sangat mahal hanya untuk melihat sang komodo.

Mendapat tentangan dari dunia pariwisata di Labuan Bajo, seakan ngambek sang Gubernur akan menutup TNK hingga satu tahun dengan dalih populasi rusa yang berkurang ditambah tubuh komodo yang mengecil – sebelumnya beberapa pemburu rusa yang menerobos Pulau Komodo dibekuk.

Hingga muncul pikiran nakal, mungkinkah kebijakan tersebut hanya sebatas uang atau sungguh-sungguh untuk melestarikan hewan yang berada di garis kepunahan tersebut? Karena secara kasat kebijakan tersebut membunuh kota Labuan Bajo secara perlahan-lahan.

Jika benar hendak melestarikan komodo maka data yang didapatkan Kementerian Lingkungan Hidup malah sebaliknya. Meski terjadi perburuan rusa namun populasi rusa masih tetap diatas populasi komodo yang saat ini tinggal 2.762 ekor yang tersebar di P. Rinca 1.410, P. Komodo 1.226, P. Pandar 2 ekor, P. Gili Motang 54 ekor, dan P. Nusa Kode terdapat 70 ekor. Sementara populasi rusa mencapai 3.900 ekor, kerbau 200 ekor.

Dari data tersebut maka dipastikan alasan dari penutupan TNK menjadi sesuatu yang tidak dapat diterima logika. Tak hanya itu, kebijakan penutupan sebuah Taman Nasional berada pada tanggung jawab Kementerian Lingkungan Hidup bukan pada Pemimpin Daerah.

Tak ingin menyalahkan pendapat Viktor Laiskodat, maka jalan bijak yang dapat ditempuh antara lain, menutup Pulau Komodo dan Rinca secara bergantian dalam waktu satu tahun. Pilihan kedua menutup Taman Nasional pada saat musim kawin satwa selama 3 bulan seperti gunung-gunung di Jawa.

Jalan tengah ini tentunya memberikan keuntungan antara masyarakat yang bergantung di sektor pariwisata, sekaligus memberikan kesempatan komodo untuk melangsungkan kehidupannya tanpa terganggu manusia.

  • Bagikan
-->