[gtranslate]

Membangun Daya Tarik Destinasi Wisata dengan Cerita

  • Share
membangun daya tarik destinasi wisata dengan cerita
membangun daya tarik destinasi wisata dengan cerita

PANAS terik sang mentari menyambut kedatangan rombongan kecil wisatawan dari Jakarta di lapangan parkir Bukit Rhema, Karangrejo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang. Seorang petugas yang adalah penduduk setempat menyambut dengan ramah sembari memberikan panduan menuju “Gereja Ayam” yang letaknya di atas bukit. Pemuda pemandu itu menawarkan “transportasi” melintasi jalan naik ke atas bukit yang curam dengan naik kendaraan double garden alias 4×4. Jika mau sedikit menguji kemampuan fisik bisa juga berjalan kaki mendaki bukit yang di sisi kanan jalannya telah dibuat jalan berlapis semen yang di beberapa bagian dibuat berundak. Tawaran ramah nan menarik walau harus membayar ongkos dan dijadikan satu paket untuk memasuki “Gereja Ayam” yang resminya sebagai “Rumah Doa bagi Segala Bangsa” disambut dengan senang hati. Di pagi menjelang siang yang panas itu, untuk menghemat tenaga, mungkin naik kendaraan khusus menjadi pilihan terbaik selain menambah pengalaman baru sebagai bekal cerita untuk dibagikan ke teman dan kerabat. Sesampai di atas bukit, berdiri megah bangunan yang dari depan berbentuk seperti kepala ayam, maka disebut-sebut gereja ayam walau yang dimaksud adalah kepala burung merpati sebagai simbol perdamaian. Bangunan ini aslinya berwarna putih, namun karena pengaruh cuaca, kini malah dominan berwarna hitam gelap, hanya sisa-sisa cat putih yang terlihat membekas. Pengunjung tidak bisa langsung masuk ke dalam gedung, tetapi digilir sesuai dengan nomor antrean. Protokol kesehatan diterapkan cukup tertib.

Sambil menunggu giliran masuk, banyak pengunjung berfoto, menikmati panorama sekitar Bukit Rhema yang cukup memesona dengan latar perbukitan Menoreh yang menawan. “Bapak …. Rombongan dari Jakarta silakan masuk,” suara petugas setengah berteriak dengan bantuan pengeras suara memanggil rombongan untuk memasuki gedung. Di depan gerbang, pemandu wisata menyambut dengan ramah sambil mulai menjelaskan asal usul berdirinya “Gereja Ayam”, ruang-ruang yang ada di dalamnya beserta fungsinya. Rombongan mengikuti dengan antusias sambil mendengar cerita yang seolah memberikan daya magis. Di penghujung tur, rombongan diberi kesempatan untuk menaiki area balkon “kepala merpati”. Sambil menunggu giliran naik yang memang dibatasi maksimal lima orang per grup dan juga dibatasi waktu hanya tiga menit, petugas memutar cuplikan film AADC (Ada Apa dengan Cinta) II. Pengunjung seolah diingatkan bahwa di sinilah Rangga dan Cinta pernah datang juga. Di “kepala merpati” yang adalah puncak “Gereja Ayam” pengunjung dipastikan terpesona melihat panorama di atas sana. Hamparan perbukitan Menoreh yang menghijau dan Candi Borobudur nan megah pun dapat terlihat dari kejauhan. Angin sejuk datang membelai. Panas terik sang mentari seolah terlupakan.

Sayang, waktu yang terbatas membuat kunjungan terasa singkat.

Namun pengalaman mengunjungi “Rumah Doa bagi Segala Bangsa” di Bukit Rhema dengan cerita yang menyertai menciptakan memori yang tidak terlupakan.

Hanya berjarak 1,3 km dari Bukit Rhema tawaran wisata yang tak kalah menarik ada di Punthuk Setumbu, Kurahan, Karangrejo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang.

Di lapangan parkir dekat loket seorang pemandu datang menawarkan diri untuk mengarahkan pengunjung mendaki bukit menuju lokasi.

Eva, sang pemandu itu kemudian bercerita tentang asal-usul Punthuk Setumbu, siapa yang pertama kali menemukan, menyebarluaskan dan kapan mulai dikembangkan.

Di tengah perjalanan menuju puncak bukit, pengunjung ditawarkan berfoto dengan burung hantu milik penduduk sekitar. Kesempatan yang sulit ditemukan di kota-kota besar.

“Nah ini dia kita sudah sampai di Punthuk Setumbu,” seru Eva sambil menunjuk spot untuk pengambilan gambar terbaik dan menunjuk “Gereja Ayam” dan candi Borobudur yang tampak kecil dari atas bukit.

“Wow!” seru pengunjung penuh kekaguman melihat panorama indah di depan mata.

Kekuatan cerita

Wisata di Bukit Rhema, Punthuk Setumbu atau destinasi wisata lainnya, mengandalkan cerita untuk “menghipnotis” wisatawan yang datang, selain panorama alam yang indah.

Wisatawan datang ke destinasi untuk memperoleh pengalaman yang sejatinya cerita untuk disebar ke teman atau kolega, yang kini akrab dengan dunia media sosial.

Makin “magis” cerita yang dibagi, akan mengundang banyak komentar dan mendorong orang untuk datang, tidak cuma melihat foto yang beredar di dunia maya.

Sesungguhnya ada dua istilah yang terkait, yaitu narasi (narrative) dan cerita (story).

Poletta dkk (2011) mendefinisikan narasi sebagai kategori umum dari deskripsi peristiwa yang disampaikan dalam urutan kejadian.

Selanjutnya Moscardo (2018) berpendapat bahwa cerita adalah tipe khusus dari narasi yang didesain secara eksplisit untuk menghibur, melibatkan emosi dan mengubah audiens.

Maka sebuah cerita harus mencakup deskripsi, tidak hanya sekelompok rangkaian sebab akibat dari kejadian, namun juga memuat deskripsi karakter, bagaimana merespons dan konsekuensi atas reaksi itu.

Cerita sebagai daya tarik destinasi wisata sedikit banyak dipengaruhi oleh tiga kekuatan (Moscardo, 2020).

Pertama adalah pengalaman yang telah melekat sebagai fokus inti dari wisatawan dan pelaku wisata.

Cerita telah menjadi konsep utama dalam pengalaman wisatawan ketika melakukan perjalanan.
Kedua, kekuatan media sosial sebagai media interaksi yang terbangun di sekitar cerita. Tak dapat dimungkiri lagi, media sosial telah digunakan sebagai sarana untuk berbagi cerita dan pengalaman. Media sosial mengambil peran utama itu.

Ketiga, “gelombang Asia” dalam turisme. Sebelum pandemi, gelombang turis dari China dan India, mendominasi kunjungan wisatawan ke seluruh dunia.

Turis China biasa menggunakan cerita destinasi sebagai pertimbangan utama sebelum memutuskan ke mana akan pergi dan apa yang dikerjakan di destinasi tujuan, serta membuat koneksi pribadi ke tempat yang dikunjungi (Cui dkk, 2017).

Sementara turis India memperlihatkan sikap responsif terhadap cerita-cerita destinasi (Sinha dan Sharma, 2009).

Rekomendasi

Pemanfaatan cerita biasa digunakan pada saat promosi destinasi. Cerita yang telah dirancang menggoda turis untuk datang, bahkan mendorong mereka untuk mencipta cerita sendiri berdasarkan pengalaman yang dialami masing-masing.

Di sini terjadi keterlibatan langsung turis dengan cerita destinasi yang dibentuk.

Promosi destinasi tidak hanya menggunakan saluran komunikasi biasa tetapi juga mendukung cerita yang terhubung dengan tema khusus suatu destinasi, seperti Korea dengan “Let your story begin” atau Polandia dengan “Move your imagination – come and find your story” (Moscardo, 2020).

Tema itu pun telah diterima oleh komunitas destinasi. Penyusunan cerita akan menjadi elemen penting di dalam perencanaan destinasi wisata.

Pada lingkup yang lebih luas perencanaan destinasi terkait dengan penciptaan cerita yang menghubungkan seluruh pemangku kepentingan dalam cara yang positif.

Jika merujuk pada tren wisata terkini, maka cerita yang diciptakan akan lebih mendukung keberlanjutan (sustainability) komunitas destinasi dan menggunakan pariwisata sebagai cara untuk menyampaikan cerita mengenai keberlanjutan yang dapat diaplikasikan oleh wisatawan (Moscardo, 2020).

Di Punthuk Setumbu, ketika hari menjelang sore deretan warung-warung penjual makanan, minuman, dan cendera mata sebagian telah tutup.

Tenang, para pengunjung telah siap membawa pulang sepaket cerita. Tentang indahnya panorama alam. Tentang mega karya ciptaan Tuhan bagi umat manusia. Tentang cerita yang tak pernah habis untuk dibagi. (Frangky Selamat, Dosen Tetap Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi & Bisnis).

Sumber : Kompas.com

  • Share

Leave a Reply

-->