Senin, 18 Januari 2021

Penglipuran di Bali, Desa Terbersih di Dunia


Kenali Desa Penglipuran Bali yang menyandang predikat sebagai desa terbersih di dunia.

Bali adalah primadona pariwisata Indonesia. Banyak tempat wisata menarik di sana, salah satunya Desa Penglipuran yang dikenal desa terbersih sedunia.

Desa Penglipuran yang berada di Kecamatan Bangli ini pernah meraih predikat sebagai desa terbersih di dunia dan mendapat penghargaan Kalpataru. Desa ini resmi menjadi desa wisata sejak tahun 1993. Desa ini juga terkenal karena menampilkan budaya Bali dengan berbagai bangunan, kerajinan dan makanan tradisional.

Memiliki luas 112 hektar yang terdiri dari area rumah penduduk, ladang dan hutan bambu desa wisata ini masih sangat menjaga kehidupan tradisional.Rumah-rumah bergaya Bali berderet rapi di kanan dan kiri jalan , sementara jalanan di bagian tengah terbuat dari bebatuan, pohon dan bunga juga menghiasi tepian jalan membuat suasana desa ini terlihat menarik .

Di bagian depan rumah juga nampak penjor dipasang bersama bendera merah putih .Kebersihan terjaga karena disetiap sudut terdapat tempat sampah dan ada larangan membuang sampah sembarangan yang dipatuhi. Kendaraan bermotor juga tidak nampak sehingga udara terasa nyaman dan bebas polusi. Untuk memasuki desa wisata Penglipuran , pengunjung dikenakan biaya Rp 15.000 per orang .

Dari pintu masuk, kita bisa berjalan ke arah kiri terlebih dahulu dan menyusuri jalan dengan rumah-rumah khas. Hampir di setiap rumah pemiiknya akan menawarkan kerajinan tangan ataupun makanan dan minuman yang dijual kepada pengunjung. Di arah berlawanan selain rumah penduduk juga terdapat Pura Penataran yang cukup besar, jika pengunjung berjalan terus, di belakang pura terdapat hutan bambu yang cukup luas dan menyejukkan .

Suasana Desa Penglipuran

Kebersihan Desa

Anggapan kebersihan di Desa Penglipuran tidak hanya terlihat dari ketiadaan sampah, tetapi tata ruang yang presisi dan enak dipandang. Semua ini diatur dalam peraturan adat desa yang mengikat seluruh orang di desa termasuk para turis. Aturan desa yang bersinggungan langsung dengan kelestarian alam, seperti dilarang menggunakan kendaraan bermotor.

Bahkan, jauh sebelum menjadi desa terbersih di dunia, Desa Penglipuran sudah lama menyandang status desa lestari. Pada tahun 1995, Desa Penglipuran mendapat penghargaan Kalpataru atas upaya mereka dalam menyelamatkan lingkungan.

Warga Desa Penglipuran

Diikat Adat Istiadat

Warga Desa Adat Penglipuran memegang teguh Tri Hita Kirana. Sebuah filosofi lokal yang dipegang warga Bali pada umumnya. Secara harfiah, Tri Hita Kirana berarti tiga penyebab terciptanya kebahagiaan. Filosofi ini merujuk pada manusia yang harus dapat memiliki hubungan yang baik dengan Tuhan, sesama manusia dan alam.

indonesia mining mineral recovery exhibition 2021

Keteguhan warga Desa Penglipuran dapat dilihat dari bagaimana mereka mengimplementasikan Tri Hita Kirana dengan membina hubungan harmonis dengan tiga aspek sumber sukacita tersebut. Warga Penglipuran menyepakati serangkaian aturan adat yang tidak boleh dilanggar, termasuk kewajiban menjaga lingkungan desa.

Kelestarian alam tersebut ditunjukkan warga dengan tidak membuang sampah dengan sembarangan, mengelola sampah rumah tangga, hingga mengurangi konsumerisme. Di sisi lain, warga Penglipuran juga menjaga kelestarian hutan bambu mereka. Mereka percaya, bambu yang tumbuh adalah warisan dari leluhur yang harus dijaga. Saat ini, luas hutan bambu Desa Penglipuran mencapai 37.7 hektare, sekitar 33% dari total luas wilayah desa.

Keteguhan memegang kultur adat dan kelestarian lingkungan tersebut yang membuat Desa Penglipuran ditetapkan menjadi destinasi wisata oleh Pemprov Bali sejak 1993.

Berkembang Mengikuti Zaman

Setelah menyandang predikat sebagai desa wisata, Desa Penglipuran terus berbenah. Warga yang memegang teguh prinsip monogami ini mempelajari dengan cermat sistem pengelolaan desa secara kolektif. Hal tersebut dilakukan untuk menghindari kapitalisme dan komersialisme secara berlebihan.

Turis yang datang tidak hanya sekedar menikmati keindahan desa, tetapi juga diedukasi agar memahami tradisi dan budaya warga setempat. Sehingga para turis yang memiliki kerabat atau kolega yang hendak mengunjungi Penglipuran memiliki pemahaman dasar terlebih dahulu.

Meskipun memegang teguh prinsip dan adat istiadat, warga Penglipuran terus berbenah agar dapat mengikuti perkembangan zaman dan tetap menarik turis, khususnya dari mancanegara. Salah satunya adalah memperbolehkan turis untuk menginap di desa dengan syarat mengikuti tradisi dan budaya yang berlaku dalam perilaku selama menginap di Penglipuran.

BACAAN TERKAIT