Selasa, 20 Agustus 2019

KEK Tanjung Lesung Sudah Pulih 60% Pasca Tsunami Selat Sunda


Finroll.com — Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tanjung Lesung berangsur mulai bangkit, pasca bencana tsunami Selat Sunda delapan bulan lalu. Pihak pengelola, Banten West Java (BWJ) Tourism Development menyatakan bahwa upaya perbaikan terus dilakukan.

Direktur Operasional BWJ Tourism Development Kunto Wijoyo menjelaskan, saat ini kondisi kawasan wisata yang terletak di ujung barat pulau Jawa tersebut, secara keseluruhan sudah pulih sekitar 60%.

“Pasca bencana tsunami yang terjadi pada 22 Desember 2018 lalu, sekarang ini sesuai data yang kami punya Tanjung Lesung sudah recovery sekitar 50% sampai 60%. Kami terus upayakan recovery-nya,” ungkap Kunto di Pandeglang, Banten, Selasa (20/8/2019).

Saat ini pembangunan infrastruktur terus dilakukan untuk memperbaiki beberapa titik bangunan yang rusak akibat tsunami. Selain terus berbenah secara fisik, KEK Tanjung Lesung juga terus berupaya mengembalikan kepercayaan dan minat para wisatawan serta warga sekitar.

“Membangun infrastruktur bukan masalah besar buat kami. Yang paling sulit adalah mengembalikan kepercayaan masyarakat dan juga wisatawan bahwa saat ini kawasan wisata Tanjung Lesung sudah aman untuk dikunjungi kembali,” ujar Kunto.

Sementara untuk mengembalikan kepercayaan tersebut pihak pengelola terus melakukan berbagai upaya. Salah satunya dengan menggelar berbagai acara yang melibatkan masyarakat sekitar. Selain itu, promosi wisata juga gencar dilakukan.

Promosi dilakukan sambil memberikan pemahaman kepada masyarakat dan wisatawan bahwa pasca tsunami kawasan wisata tersebut tetap aman dikunjungi.

Pihak pengelola juga mempererat kerja sama dengan pemerintah dan para pelaku usaha di bidang pariwisata. “Pemerintah turut membantu kami, terutama dari Pemerintah Kabupaten Pandeglang. Para pelaku usaha pariwisata juga ikut berpartisipasi memulihkan wisata Tanjung Lesung,” tutur Kunto.

Demi memulihkan kepercayaan para wisatawan dan masyarakat, Kunto mengatakan, pihak pengelola tengah membangun teknologi/ alat peringatan dini di bibir pantai. Alat tersebut digadang-gadang mampu mendeteksi perubahan permukaan air laut dengan parameter sejauh 200 kilometer (km).

“Alat pendeteksi itu sangat canggih. Namanya radar wera, berasal dari Jerman persembahan dari PT Terindo. Radar ini merupakan satu-satunya dan pertama yang digunakan di Indonesia. Shelter untuk radar itu masih dalam pembangunan, kira-kira dua pekan lagi selesai,” jelas Kunto.

Jababeka industrial Estate

Kunto melanjutkan, setelah shelter tersebut selesai dibangun, sejumlah tenaga ahli dari Jerman akan memberikan pelatihan (training) tanggap bencana kepada SDM di Indonesia, khususnya bagi para pegawai Tanjung Lesung, masyarakat sekitar, dan para wisatawan.

Sebagai informasi beberapa waktu yang lalu, Poernomo Siswoprasetijo, Direktur Utama PT Banten West Java Tourism Development menargetkan jumlah wisatawan di Tanjung Lesung tahun ini mencapai 800.000 pengunjung.

Target tersebut tumbuh 33% dibandingkan realisasi tahun lalu yang sebanyak 600.000 kunjungan wisatawan.

Demi mencapai target tersebut, anak usaha Jababeka itu melancarkan beberapa strategi untuk menarik wisatawan.

Strategi tersebut antara lain menggulirkan program promosi luar negeri. Selain itu, pengelola Tanjung Lesung telah melakukan nota kesepahaman kerjasama dengan beberapa investor dari China.(red)

BACAAN TERKAIT