Selasa, 26 Januari 2021

Ho Wan Moy, Kisah Heroik Mata-mata Wanita Zaman Perang Kemerdekaan


Sejak muda, Tika Nuwrwati (Ho Wan moy) telah terlibat perjuangan kemerdekaan di Jawa Tengah. Ia pun mendapat penganugerahan Bintang Gerilya dan Bintang Veteran pasca kemerdekaan. Keberaniannya, diungkap oleh Lisa Suroso dalam Suara Baru edisi Maret-April 2008 berkat pejuang yang datang padanya, Herman Sarens Soediro dari Kompi Tentara Pelajar Siliwangi.

“Kamu jangan takut. Walaupun kamu perempuan dan Tionghoa, kamu harus berani,” ucap pejuang muda itu pada Ho Wan Moy.

Dorongan itulah yang membuatnya ikut berperan dalam gerilya. Ia sempat menjadi para pejuang ke tempat persembunyian senjata di Banjar. Kemudian bergabung Palang Merah Indonesia dan Laskar Wanita Indonesia untuk merawat pejuang yang terluka, mengurusi logistik tentara, dan merangkap sebagai mata-mata.

Kisahnya menjadi mata-mata bermula dari habisnya persediaan singkong dan beras milik keluarganya setelah disumbangkan kepada gerilyawan. Ia terpaksa harus ke kota melewati pos-pos Belanda untuk belanja. Beruntung ia tak dicurigai.

Sesaat melewati pos-pos Belanda, ia juga mencatat jumlah tantara yang berjaga. Ia mengungkapkan bila tentara yang berjaga adalah pasukan Belanda Hitam (sebutan untuk tentara KNIL pribumi saat itu), dan sedikit yang Belanda putih.

Setelah melewati perjalanan yang menegangkan, ia langsung memberikan data-datanya kepada Soediro Wirjo Soehardjo—ayah dari Herman—yang menangani masalah logistik Batalyon IV Resimen XI Divisi III Siliwangi.

Desember 1947, Ho Wan Moy dipercaya oleh Soediro untuk dititipkan rombongan perempuan ketika kampungnya hendak digempur. Ia mendapat kabar bahwa orang Tionghoa di Banjar, Jawa Barat, menjadi sasaran pembantaian di tengah-tengah suasana kacau.

Ia juga menyampaikan kesaksiannya saat nekat ke kota untuk mencari Soediro yang bergerilya. Ia menemukan jasad bapak—panggilannya untuk Soediro—tak bernyawa tak jauh dari jenazah pamannya yang juga turut berjuang. Malam itu juga, keduanya dimakamkan Ho Wan Moy bersama ibu dan neneknya.

referensi : national geograpic indonesia

BACAAN TERKAIT