Rabu, 7 November 2018

20 Bahasa Ibu di Indonesia Terancam Punah, Apakah Bahasa Betawi Salah Satunya?


“No, no, Rayhan! Don’t touch it!” Seorang perempuan muda berseragam pramusiwi berwarna biru langit terlihat memegang telapak tangan seorang balita berpipi penuh menggemaskan yang sedang asyik memetiki bebungaan serta dedaunan yang tumbuh di sebuah taman yang belum lama ini dibuat oleh Pemda DKI . Si balita berpipi penuh menggemaskan yang saya perkirakan usianya baru tiga tahunan itu tampak meronta-ronta, berusaha melepaskan tangannya dari genggaman si perempuan muda.

Pemandanganseperti itu lazim kita temukan saat ini. Di zaman ketika kanal youtube lebih dirindukan anak-anak ketimbang kidung syahdu orangtuanya, karena ketika si anak menangis, bukan sentuhan tangan ibunya yang mengusap kepalanya, bukan jemari ibunya yang menyuapi makanan ke mulut kecilnya, tapi justru tangan-tangan perempuan seperti perempuan muda berseragam pramusiwi berwarna biru langit tadi. Di zaman ketika sebagian ibu lebih asyik ber-haha-hihi dengan teman-temannya di media sosial ataupun di WAG daripada menyempatkan mendongeng ataupun menembangkan kidung syahdu untuk buah hatinya, sesaat sebelum terlelap.

Makanya ketika suatu hari tanpa sengaja saya menyaksikan seorang tetangga yang sedang asyik menggoda putranya yang belum lagi berusia empat tahun, dengan menggunakan bahasa Jawa yang medhok, kalau kamu melihat ekspresi saya saat itu, kamu akan tahu betapa semringahnya saya.

Saya yang lahir, tumbuh dan besar di Jakarta—meskipun di pinggirannya, sangat iri menyaksikan balita yang tingkahnya begitu menggemaskan itu terlihat asyik ngobrol dan berkelakar dengan orangtuanya dengan menggunakan bahasa ibu alias bahasa daerah asalnya. Buat saya, itu mengesankan sekali. Jauh lebih mengesankan dari balita yang saya ceritakan di alinea pertama tadi, yang meskipun dengan suara yang masih cadel kepandaiannya berbahasa asing jauh lebih baik dari saya.

Bukan saya sok nasionalis, atau sok kedaerahan atau sok kampungan. Kampungan kok, dibilang sok! Tapi percayalah, akan tiba masanya, ketika kita begitu merindukan bahasa leluhur kita, bisa bertutur dengan bahasa itu, atau minimal mendengar orang bertutur dengan bahasa itu. Karena bahasa, adalah juga kekayaan budaya kita. Salah satu anugerah dari sekian banyak limpahan anugerah yang Tuhan turunkan di negeri yang katanya laksana sepenggal firdaus ini.

Lagipula, jika nasionalisme hanya dilihat dari keengganan penduduknya berbahasa asing, orang Jepang juaranya. Kata teman saya yang sudah lama menetap di sana, mereka rata-rata enggak menguasai bahasa asing, kalaupun ada yang mau belajar, bahkan sampai bisa berbahasa Inggris, mereka tetap kesulitan (jika tak mau dibilang buruk) saat melafalkannya.

Saya pernah membaca kisah seorang wanita asal Alaska, Amerika Serikat, Marie Smith Jones, 89 tahun, yang hingga akhir hayatnya pada 21 Januari 2008 lalu, tetap gigih mempertahankan bahasa Eyak, bahasa asli suku Indian yang menempati Teluk Alaska, di tengah dominasi bahasa Inggris yang digunakan oleh hampir seluruh orang Amerika termasuk yang tinggal di Alaska.

Yang membuat miris, ketika Nyonya Jones—yang merupakan penutur terakhir bahasa Eyak yang paling bersemangat di antara lima puluh orang Eyak yang masih tersisa— wafat, ketujuh anaknya sama sekali tak mengerti bahasa Eyak, bahasa ibunya, karena mereka lahir ketika orang-orang di Alaska dianggap harus berkomunikasi dalam bahasa Inggris.

Setelah membaca kisah itu, saya mulai berpikir untuk sedapat mungkin menanamkan kepedulian dan kecintaan saya pada bahasa ibu yang saya miliki, meskipun bahasa ibu anak Betawi tak seunik dan sekhas bahasa ibu dari daerah-daerah lain di Indonesia, karena terlalu familiar, mungkin. Tapi saya tak ingin nasib bahasa Betawi seperti bahasa Eyak.

Apalagi ketika saya mengetahui satu fakta bahwa UNESCO, sebuah lembaga PBB untuk pendidikan, sosial dan budaya, pernah mencatat, bahwa sepersepuluh dari 6000 bahasa di dunia adalah bahasa kita, bahasanya penduduk Indonesia. Iya, beneran, kita punya (kurang lebih) 600 bahasa, luar biasa, bukan? Meski, konon, 20 dari 600 bahasa kita terancam punah.

ina palm 2021

Dan sebuah bahasa akan terancam punah kalau jumlah penuturnya kurang dari seribu orang. Saya yang aseli Betawi jadi penasaran, berapa jumlah penutur bahasa Betawi. Dari wikipedia saya tahu, menurut data terakhir, yang menuturkan bahasa Betawi sebanyak 2,7 juta orang, alhamdulillaah, masih lumayan banyak ternyata. Tapi saya jadi waswas juga, pasalnya, data yang tercatat itu, keluaran tahun 1993 (Setdah, udeh 23 taun). Kalau begitu, kemungkinan berkurangnya jumlah penutur bahasa Betawi sama besarnya dengan kemungkinan seseorang balik kepada mantannya, betul-betul mengkhawatirkan.

Wikipedia juga yang ngasih tahu saya, kalau bahasa Betawi itu turunan dari bahasa Melayu Pasar yang berasimilasi dengan berbagai bahasa, diantaranya; bahasa Bali, Sunda, Cina Selatan, Arab, Belanda dan Portugis. Sayangnya, percampuran bahasa yang membentuk bahasa Betawi itu, enggak serta merta linier dengan paras orang Betawi.

“Ente bayangin! Gimane kalo muke ane campuran dari Cina, Arab, Belanda dan Portugis. Beeuh.. Nicholas aja mah bakal minder deket-deket ane.”

“Nicholas Saputra?”

“Lah iya, masa Nicholas Anelka! Ntu mah pemain badminton! Bukan begitu, Bang Bolot?”

“Hah? Ngopi? Boleh deh, kalo dipaksa mah!”

“Auu aah, gelap!”

Komentar

0 0 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

BACAAN TERKAIT