Senin, 18 Januari 2021

Biksu Pertama Putra Indonesia : Biksu Ashin Jinarakhita (1923-2002)


Setelah keruntuhan keprabuan Majapahit, Biksu Ashin Jinarakkhita (Bhante Ashin)-lah biksu pertama putra Indonesia. Wafat 18 April 2002 di Rumah Sakit Pluit Jakarta dalam usia 80 tahun, biarawan Buddhis dengan latar belakang dan pengalaman kerohanian yang sangat beragam itu diperabukan di krematorium Yayasan Bodhisattva, Lempasing, Bandar Lampung.

Biksu Ashin pertama kali dibaptis sebagai samanera (calon biksu) dalam tradisi Mahayana, kemudian memperdalam agama Buddha di Myanmar dan sekali lagi ditahbiskan sebagai samanera dan sekaligus biksu dalam tradisi Hinayana (Theravada).

Banthe Ashin dilahirkan di Bogor 23 Januari 1923; dan menyelesaikan sekolah dasarnya di sana, lalu melanjutkan sekolah menengahnya di PHS Jakarta, kemudian HBS B di Jakarta. Lalu, melanjutkan pendidikan tingginya di THS Bandung (sekarang ITB) Jurusan Ilmu Pasti Alam.

Awal 1946, Sang Biksu meneruskan pendidikannya di Belanda sebagai pelajar pekerja, kuliah di Fakulteit Wis en Naturkunde pada Universiteit Gronigen, mendalami ilmu kimia sebagai pelajaran favoritnya.

Semasa kecil, beliau hidup prihatin. Untuk membantu meringankan beban orang tua, Ashin muda bekerja sebagai loper. Namun, jiwa sosialnya sudah terlihat, ia sering membagikan makanan kecil yang dibeli dari jerih payahnya kepada teman-teman sepermainan.

Ketika masih belasan tahun, Ashin sudah vegetarian dan tertarik pada dunia spiritual. Dia sering belajar kepada para suhu di kelenteng-kelenteng, haji, pastur, dan tokoh-tokoh teosofi. Agama Buddha dikenalnya dari tokoh-tokoh teosofi dan dari perkumpulan Tiga Ajaran.

Filsafat modern ataupun kuno menjadi makanan sehari-harinya. Jika anak-anak senang bermain-main, Bo An, demikian nama kecil beliau, lebih suka mengembangkan kehidupan batinnya, misalnya bertapa di Gunung Gede. Menjelang dewasa, Bo An aktif memberantas buta huruf dan ikut kegiatan dapur umum untuk menolong rakyat sekitar yang kelaparan.

Di Belanda, Bo An juga mengikuti kuliah filsafat, belajar bahasa Pali dan Sansekerta, dan mendalami ilmu kebatinan. Di sana pula minatnya pada Buddha Dharma makin kuat. Dan sebelum menyelesaikan pendidikannya, dia memutuskan mengabdikan diri sepenuhnya kepada Buddha Dharma.

Sekembali ke Indonesia, Biksu Ashin menjadi Anagarika. Semasa itulah mendiang aktif menyebarkan agama Buddha kendati terbatas di perkumpulan teosofi dan Tiga Ajaran.

Saat itulah beliau mencetuskan ide brilian menyelenggarakan upacara Tri-Suci Waisak secara nasional di Candi Borobudur. Akhirnya, 22 Mei 1953 acara dilaksanakan. Inilah momen penting kebangkitan Buddha di Indonesia.

infimas Mulia

Beliau mendalami Dharma dari seorang mahabiksu yang berdiam di Wihara Kong Hoa Sie. Pada Juli 1953, beliau ditahbiskan menjadi sramanera dengan nama Ti Chen. Penahbisan dilakukan menurut tradisi Mahayana di bawah bimbingan Y.A. Sanghanata Arya Mulya Mahabhiksu (Pen Ching Lau Ho Sang).

Atas anjuran guru mendalami Dharma di luar negeri, Banthe Ashin belajar ke Burma, menjalani vipassana di Pusat Latihan Meditasi Mahasi Sasana Yeikhta, Rangoon. Kurang sebulan, beliau mendapat kemajuan pesat dengan bimbingan khusus Y.A. U Nyanuttara Sayadaw.

Pada 23 Januari 1954, Sramanera Ti Chen ditahbiskan sekali lagi menjadi sramanera menurut tradisi Theravada, dan sorenya diupasampada menjadi biksu. Y.A. Agga Maha Pandita U Ashin Sobhana Mahathera; lebih terkenal dengan nama Mahasi Sayadaw menjadi guru spiritual utamanya (Upajjhaya).
Gurunya pula yang memberi nama Jinarakkhita. Kata Ashin sendiri merupakan gelar yang diterimanya sebagai biksu yang patut dihormati secara khusus. Beliau tinggal di Burma selama beberapa saat untuk lebih mendalami Dharma dan meditasinya.

Pada 17 Januari 1955, pulang ke Indonesia. Seketika ada kegairahan bagi simpatisan Buddhis di Indonesia. Dialah putra pertama Indonesia yang menjadi biksu sejak keruntuhan Kerajaan Majapahit. Di Jakarta beliau tidak berdiam diri. Beliau segera merencanakan mengadakan tur Dharma ke berbagai daerah di Indonesia.

Akhir 1955, dimulai tur Dharma ke pelosok Tanah Air. Jawa Barat menjadi daerah pertama. Tiap daerah yang ada penganut Buddha dikunjungi, tidak peduli kota besar atau desa terpencil. Kunjungannya memberi arti tersendiri bagi umat Buddha Indonesia di berbagai daerah yang baru pertama kali melihat sosok seorang biksu. Tur Dharma tidak terbatas di Jawa. Bali, Sulawesi, Sumatera, Kalimantan, dan pulau lain juga dikunjungi. Hutan diterobosnya, gunung didaki, laut diseberangi.

Setelah kian banyak umat Buddha dan makin banyak murid yang ditahbiskan menjadi upasaka, Bhante Ashin mendirikan Persaudaraan Upasaka-Upasika Indonesia (PUUI), Juli 1955, di Semarang. Pada 1979 PUUI berganti nama menjadi Majelis Buddhayana Indonesia.

Dalam setiap kesempatan berkunjung ke berbagai daerah tersebut Bhante Ashin selalu mengingatkan umatnya untuk tidak bertindak masa bodoh terhadap kebudayaan dan ajaran agama Buddha. Galilah yang lama, sesuaikan dengan zaman dan lingkungan. Begitu pesannya.

Beliau menegaskan usaha mengembangkan agama Buddha tidak dapat lepas dari upaya meningkatkan taraf hidup bangsa Indonesia secara keseluruhan. Banthe Ashin mendorong umatnya terus menggali warisan Buddha yang tertanam di Indonesia. Karena bagaimanapun, secara kultural ajaran yang pernah membawa bangsa kita pada zaman keemasan Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit itulah yang akan lebih bisa diterima bangsa sendiri. n

BIODATA

Nama: Biksu Ashin Jinarakkhita (Bhante Ashin)
Lahir: Bogor, 23 Januari 1923
Wafat: 18 April 2002

Pendidikan:

  • SD di Bogor
  • Sekolah Menengah di PHS Jakarta
  • HBS B di Jakarta
  • THS Bandung (sekarang ITB) Jurusan Ilmu Pasti Alam
  • Fakulteit Wis en Naturkunde pada Universiteit Gronigen, 1946

BACAAN TERKAIT