Connect with us

Ekonomi Global

Tri Yanuarti: Pertumbuhan Terjaga, Indonesia Masuk 6 Besar Ekonomi Dunia di 2023

Published

on


Ekonomi

Dana Moneter Internasional (IMF) memprediksi, ekonomi Indonesia akan menduduki peringkat ke-6 besar dunia dari sisi purchasing power parity (PPP) pada 2023. Indonesia juga menjadi satu-satunya negara dari kawasan Asia Tenggara yang masuk dalam 10 besar PDB dunia.

Finroll.com – Melihat posisi Indonesia saat ini yang sudah berada di urutan ke-7, Tenaga Ahli Utama di Kedeputian III Bidang Ekonomi, Kantor Staf Presiden Tri Yanuarti optimistis, proyeksi International Monetary Fund tersebut akan menjadi realita.

“Kami yakin, pertumbuhan 5,4 persen di 2023 untuk mencapai PDB tersebut bisa tercapai,” kata Tri dalam perbincangan Hot Economy.

Konsumsi masyarakat yang semakin membaik menjadi salah satu modal pertumbuhan tersebut. Sebab, konsumsi masih menyumbang lebih dari 50 persen pertumbuhan PDB Indonesia. Selain itu, meningkatnya kemudahan berusaha dan berinvestasi juga menjadi faktor penunjang. Apalagi, banyak proyek infrastruktur yang sudah selesai.

Berdasarkan proyeksi IMF tersebut, PDB (PPP) Indonesia akan meningkat dari US$3,5 triliun pada 2018 menjadi US$ 4,97 triliun. Itu berarti, Indonesia mencuil 2,8 persen dari total ekonomi global.

Reformasi struktural harus terus berlanjut

Setelah dihantam krisis moneter 1997/1998, IMF mencatat, peringkat PDB (PPP) Indonesia sejak tahun 2000 terus membaik. Tercatat, pada tahun 2000, Indonesia berada di peringkat 13. Lima tahun kemudian, posisinya membaik ke posisi 12 dan naik satu peringkat ke posisi 11 pada 2010. Pada tahun 2015, Indonesia sudah berada di peringkat kedelapan dan tahun lalu naik di peringkat ketujuh.

Untuk naik kelas ke posisi 6, menurut Tri, ada persyaratan yang mesti dipenuhi, yakni kondisi global harus kondusif dibarengi dengan proses reformasi struktural di dalam negeri yang terus berlanjut.

Dari sisi kondisi global, ada beberapa hal yang menjadi sorotan Tri. Pertama, proses normalisasi moneter, baik di Amerika Serikat (AS), Eropa, dan Jepang, berlangsung baik. “Artinya, tidak menimbulkan disrupsi di pasar finansial global, sehingga tidak menimbulkan gangguan, baik di perekonomian global maupun di Indonesia,” jelas alumni Sydney University ini.

Kedua, terkait perang dagang AS-China, Tri menyebut, China harus bisa menyerap dampak dari perang dagang itu sehingga ekonominya bisa tumbuh dengan baik. Peran China bagi perekonomian Indonesia cukup strategis mengingat saat ini, China adalah mitra dagang terbesar Indonesia. Syarat ketiga, harga komoditas, termasuk minyak mentah, cukup kondusif sehingga berdampak positif bagi Indonesia.

Dari faktor domestik, Tri menambahkan, pemerintah harus tetap melanjutkan proses reformasi struktural untuk mendorong arus modal, peningkatan produktivitas, serta perbaikan kualitas sumber daya manusia.

Optimisme konsumen

Pertumbuhan ekonomi Indonesia juga seperti mendapat momentum dari keyakinan konsumen yang tinggi. Survei yang dilakukan Nielsen memperlihatkan, indeks keyakinan konsumen Indonesia pada kuartal keempat 2018 menorehkan angka tertinggi ketiga di dunia. Nilainya mencapai 127, hanya kalau dari India (133) dan Filipina (131).

Menurut Tri, tingkat keyakinan konsumen itu tak terlepas dari keberhasilan pemerintah mengelola perekonomian dengan kebijakan yang prudent dan terkoordinasi dengan baik, baik dari sisi moneter, fiskal, maupun sistem keuangan. Hasilnya, Indonesia bisa melalui turbulensi ekonomi global yang cukup keras pada tahun lalu.

“Pertumbuhan ekonomi yang di atas ekspektasi tentu juga memberikan confidence bagi pelaku pasar bahwa ke depan ekonomi kita akan lebih baik,” imbuh Tri.

Ke depan, tingkat konsumsi masyarakat Indonesia diperkirakan masih tinggi. Hal ini sejalan dengan jumlah penduduk Indonesia yang besar. Apalagi, masyarakat kelas menengah di Indonesia tumbuh pesat dalam beberapa tahun terakhir. Mereka inilah yang menjadi motor penggerak perekonomian. Seiring dengan kesejahteraan yang lebih baik, otomatis daya beli masyarakat pun meningkat.

Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Bidang Kebijakan Moneter, Fiskal dan Publik Raden Pardede menambahkan, Indonesia akan mengalami bonus demografi hingga tahun 2035. Artinya, banyak penduduk yang masih aktif bekerja. Sementara, pada saat yang sama, diperkirakan tanggungan mereka menurun. Efeknya, daya beli mereka pun naik.

“Kita senang sekali kalau kelas menengah makin besar, karena permintaan terhadap barang dan jasa itulah yang paling menggerakkan ekonomi. Kalau kinerja perusahaan baik, gaji juga akan naik. Daya beli pekerja juga akan naik. Ini cycle yang positif bagi perekonomian kita,” kata Raden.

Menjaga momentum

Untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi, Tri dan Raden sepakat, konsumsi masyarakat harus diimbangi dengan investasi. Tanpa konsumsi, ekonomi tidak akan bergerak. Namun, tanpa investasi, suatu negara tidak akan punya masa depan.

Dalam dua tahun terakhir, dari semua komponen PDB, sektor investasi (gross fixed capital formation) tumbuh paling pesat, yakni berkisar 6%-7%. Sementara, sektor konsumsi tumbuh sekitar 5% atau setara dengan pertumbuhan PDB. Komposisi ini cukup bagus karena hasil dari investasi akan memperbaiki produktivitas. Apabila produktivitas membaik, gaji serta merta diharapkan naik, sehingga konsumsi juga naik. Sekali lagi, inilah siklus yang menggerakkan perekonomian ke depan.

Untuk mendorong investasi, Tri mengungkapkan, pemerintah telah melakukan berbagai upaya. Di antaranya, terus memperbaiki iklim investasi dan bisnis, yang terlihat dari kenaikan peringkat kemudahan berbisnis atau east of doing business (EoDB), competitiveness index dan peringkat utang dari tiga lembaga dunia.

Ke depan, Tri menyebut, ada tiga jurus andalan yang akan terus dilakukan pemerintah. Pertama, melanjutkan proses reformasi struktural, baik di sektor riil, birokrasi, maupun sumber daya manusia. Kedua, pelaksanaan kebijakan yang prudent dan terkoordinasi antara otoritas moneter, fiskal, dan lembaga keuangan. Ketiga, mengantisipasi kondisi perekonomian global yang penuh ketidakpastian, pemerintah dan Bank Indonesia (BI) menyiapkan bantalan perekonomian.

Ekonomi Global

Jelang Pertemuan OPEC Pekan Ini Harga Minyak Melambung

Published

on

Finroll – Jakarta, Harga minyak dunia melambung pada perdagangan Selasa (2/6), waktu Amerika Serikat (AS). Penguatan terjadi di tengah optimisme perpanjangan pemangkasan produksi oleh Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya melalui pertemuan video conference yang akan dilakukan pada Kamis (5/6) pekan ini.

Mengutip Antara, Rabu (3/6), minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Agustus naik US$1,25 atau 3,3 persen menjadi US$39,57 per barel di London ICE Futures Exchange.

Sedangkan, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juli bertambah US$1,37 atau 3,9 persen menjadi US$36,81 per barel di New York Mercantile Exchange.

Kedua harga tersebut mendekati posisi tertinggi dalam tiga minggu terakhir.

“Ada antisipasi bahwa OPEC+ akan setuju untuk memperpanjang level mereka saat ini selama dua bulan lagi. Dan pada saat yang sama, pasar mengantisipasi bahwa pembukaan kembali ekonomi di seluruh dunia akan meningkatkan permintaan, sehingga pada Agustus, pasar minyak akan seimbang,” terang Presiden Konsultan Lipow Oil Associates Andy Lipow.

Diketahui, OPEC+ tengah mempertimbangkan memperpanjang pengurangan produksi sebesar 9,7 juta barel per hari (bph) atau sekitar 10 persen dari produksi global pada Juli dan Agustus.

Rencana awalnya, pemotongan hanya dilakukan untuk Mei dan Juni yang turun menjadi 7,7 juta bph.

Sementara, persediaan minyak mentah AS turun 483 ribu barel dalam sepekan hingga 29 Mei menjadi 531 juta barel. Namun, masih rendah jika dibandingkan dengan ekspektasi para analis untuk meningkatkan tiga juta barel.

Sumber : CNN Indonesia

 

Continue Reading

Ekonomi Global

Akibat Tarik Menarik Sentimen Harga Minyak Dunia Stabil

Published

on

Finroll – Jakarta, Harga minyak berjangka bergerak stabil pada akhir perdagangan Senin (1/6) waktu AS atau Selasa (2/6) pagi WIB akibat tarik menarik sentimen. Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juli turun tipis lima sen atau 0,1 persen ke US$35,44 per barel.

Sementara itu, minyak mentah Brent untuk pengiriman Agustus naik tipis US$0,48 atau 1,3 persen ke US$38,32 dolar AS per barel.

Minyak pada awal pekan mendapatkan tekanan dari peningkatan ketegangan hubungan antara AS dengan China. Tekanan meningkat setelah China memperingatkan akan melakukan pembalasan atas langkah AS di Hong Kong.

China telah meminta perusahaan milik negara untuk menghentikan pembelian kedelai dan babi dari Amerika Serikat. Langkah itu mereka lakukan setelah Washington mengatakan akan menghilangkan perlakuan khusus AS bagi Hong Kong demi menghukum Beijing.

“Kemungkinan meningkatnya ketegangan memang menimbulkan risiko bagi kenaikan harga minyak baru-baru ini,” kata Harry Tchilinguirian, kepala penelitian komoditas di BNP Paribas seperti dikutip dari Antara, Selasa (2/6).

Namun, di tengah tekanan tersebut, minyak mendapatkan angin segar dari kabar bahwa OPEC dan Rusia hampir mencapai kesepakatan memperpanjang pemangkasan produksi.

Harga minyak mendapat dukungan setelah berita bahwa Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan Rusia, yang dikenal sebagai OPEC+, bergerak lebih dekat ke kompromi pada perpanjangan pemotongan produksi minyak dan sedang membahas perpanjangan pembatasan satu hingga dua bulan.

Aljazair, yang memegang jabatan presiden OPEC telah mengusulkan agar OPEC+ memajukan pertemuan dari yang awalnya akan dilaksanakan pada 9-10 Juni menjadi 4 Juni.

OPEC+ sepakat pada April untuk memangkas produksi sebesar 9,7 juta barel per hari untuk Mei dan Juni karena pandemi COVID-19 merusak permintaan. Cadangan di Cushing, Oklahoma, turun menjadi 54,3 juta barel dalam seminggu yang berakhir 29 Mei, kata para pedagang, mengutip laporan Genscape pada Senin (1/6) kemarin.

Bank of America mengatakan pada Senin (1/6/2020) bahwa mereka percaya bahwa penutupan minyak Amerika Utara memuncak pada Mei. “Harga minyak telah menguat ke tingkat di mana penutupan tidak lagi masuk akal dan seharusnya benar-benar mendorong produsen untuk segera mengembalikan produksi,” menurut laporan BofA Global Research.

Sumber : CNN Indonesia

Continue Reading

Ekonomi Global

Akibat Konflik AS-China Soal Hong Kong Minyak Dunia Anjlok

Published

on

Finroll – Jakarta, Minyak berjangka jatuh pada akhir perdagangan Rabu (27/5) waktu AS atau Kamis pagi waktu Indonesia. Kejatuhan terjadi setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan sedang memikirkan respons kuat terhadap undang-undang keamanan yang diusulkan China di Hong Kong.

Kejatuhan juga dipicu keraguan pasar atas komitmen Rusia memangkas produksi minyak. Dikutip dari Antara, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juli turun US$1,54 atau 4,5 persen jadi US$32,81 per barel.

Sementara itu minyak mentah Brent untuk pengiriman Juli turun US$1,43 atau 4,6 persen ke level US$34,74 dolar AS per barel.

Kelompok yang dikenal sebagai OPEC+ ini memangkas produksi hampir 10 juta barel per hari (bph) pada Mei dan Juni. Presiden Rusia Vladimir Putin dan Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman setuju melanjutkan koordinasi lebih erat dan lanjut dalam membatasi produksi minyak.

Namun banyak yang merasa Rusia mengirimkan sinyal beragam menjelang pertemuan antara Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya dalam waktu kurang dari dua minggu mendatang.

“Kedengarannya hebat di atas kertas, tetapi pasar menahan kegembiraan sampai kami mendapatkan rincian lebih lanjut tentang apakah akan ada pemotongan, berapa banyak barel akan dipotong dan lamanya pemotongan,” kata Analis Senior Price Futures Group, Phil Flynn.

Sementara itu ketegangan antara Amerika Serikat dan China terus meningkat. Peningkatan terjadi setelah China mengumumkan rencana untuk memberlakukan undang-undang keamanan nasional baru di Hong Kong.

Pengumuman itu memicu protes di jalan-jalan. Tak hanya itu, dari AS, Menteri Luar Negeri Negeri Paman Sam Mike Pompeo mengatakan Hong Kong tidak lagi memerlukan perlakuan khusus berdasarkan hukum AS.

Pernyataan itu memberikan pukulan terhadap Hong Kong terkait status mereka sebagai pusat keuangan utama. Selain dua faktor tersebut, penurunan harga minyak juga terjadi akibat dampak ekonomi pandemi virus corona.

Sumber : CNN Indonesia

Continue Reading
Advertisement

Advertisement

Trending