Connect with us
[adrotate group="1"]

Keuangan

Usai Kebijakan BI, Rupiah Terangkat ke Rp14.065 per Dolar AS

Published

on


Finroll – Jakarta, Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.065 per dolar AS pada perdagangan pasar spot Jumat (19/6) pagi. Mata uang Garuda menguat 0,09 persen jika dibandingkan perdagangan hari sebelumnya di level Rp14.077 per dolar AS.

Pagi ini, mayoritas mata uang di kawasan Asia terpantau menguat terhadap dolar AS.  Yen Jepang menguat 0,06 persen, dolar Taiwan menguat 0,01 persenrupee India menguat 0,02 persen yuan China menguat 0,04 persen , baht Thailand menguat 0,05 persen

Sementara itu, dolar Singapura melemah 0,01 persen, won Korea Selatan melemah 0,37 persen, peso Filipina melemah 0,03 persen, dan ringgit Malaysia melemah 0,10 persen. Sedangkan, dolar Hong Kong masih stagnan.

Lebih lanjut, mayoritas mata uang di negara maju masih bergerak variatif terhadap dolar. Poundsterling Inggris tercatat menguat 0,02 persen dan franc Swiss menguat 0,04 persen. Sebaliknya, dolar Australia melemah 0,06 persen dan dolar Kanada melemah tipis 0,01 persen.

Kepala Riset Monex Investindo Ariston Tjendra mengatakan pemangkasan suku bunga acuan BI memberikan sentimen positif untuk rupiah karena dianggap bisa membantu meningkatkan aktivitas ekonomi Indonesia.

Namun, faktor penggerak rupiah bukan BI saja. Rupiah masih sangat rentan dengan faktor dari luar. Saat ini, dari luar masih ada tarik menarik antara sentimen positif dan negatif, sehingga rupiah belakangan ini bergerak tipis.

“Pembukaan ekonomi kembali di tengah pandemi memberikan sentimen positif ke pasar, termasuk ekonomi new normal di Indonesia,” ucap Ariston, Jumat (19/6).

Di sisi lain, pasar masih mewaspadai peningkatan penyebaran virus covid-19 dan gelombang kedua (second wave) yang bisa menurunkan kembali aktivitas ekonomi. Ketegangan geopolitik regional di Asia antara dua Korea serta China dan India, juga bisa menahan penguatan rupiah thd dollar AS.

Ariston memprediksi hari ini rupiah akan kembali mengalami penguatan tipis seperti kemarin, dengan potensi di kisaran Rp14.000-14.100 per dolar AS.

Sumber : CNN Indonesia

Keuangan

DPR Minta BI Tiru Gaya Bank Sentral Dunia “Cetak Uang” Hadapi Krisis Covid-19

DPR meminta Bank Indonesia mencari terobosan baru untuk membantu pembiayaan penanganan pandemi Covid-19 di luar skema burden sharing yang sudah ada.

Published

on

Dewan Perwakilan Rakyat meminta Bank Indonesia mencari terobosan baru untuk membantu pembiayaan penanganan pandemi Covid-19. Pembagian beban atau burden sharing antara pemerintah dan BI dalam pembiayaan pandemi Covid-19 dinilai masih memberikan beban besar pada utang pemerintah.

FINROLL.COM – Anggota komisi XI DPR Dolfie OFP meminta Bank Indonesia untuk mempertimbangkan skema lain di luar burden sharing dalam pembiayaan Covid-19. Ia menilai skema burden sharing yang saat ini dijalankan pemerintah dan BI tetap meningkatkan beban utang pemerintah.

“Karena ketidakpastian ini berlanjut apakah 2021 atau 2022. Vaksin memang memberi harapan, tapi kita belum tahu seberapa efektif? Apakah akan terus burden sharing dan bertumpu pada utang,” ujarnya.

Ia khawatir porsi pembayaran bunga utang akan terus meningkat hingga mencapai 25% dari total APBN pada 2020. Hingga Agustus 2020, pembayaran bunga utang naik 14% dibandingkan periode yang sama tahun lalu menjadi Rp 196,5 triliun atau mencapai 13% dari total belanja.

Salah satu opsi yang sempat disebut Dolfie adalah kemungkinan BI mencetak utang seperti yang dilakukan oleh sejumlah negara lain. DPR pun siap menyesuaikan regulasi sesuai kebutuhan.

Banyak bank sentral yang kini membiayai defisit anggaran pemerintah yang tengah tertekan akibat Pandemi Covid-19. Beberapa bank sentral negara maju bahkan memberikan pinjaman ke pelaku usaha langsung dengan membali surat berharga atau obligasi.

Namun, Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan skema pembiayaan penanganan Covid-19 dari bank sentral selain burden sharing yang telah ditetapkan membutuhkan proses diskusi lebih lanjut. “Skema lain harus kami kaji. Bagaimana juga bank sentral tidak bisa langsung memberikan pinjaman kepada sektor riil karena bukan bank komersial,” ujar Perry, Senin (29/9).

Perry menjelaskan, penyaluran pinjaman langsung oleh bank sentral ke sektor riil akan membuat utang yang dimiliki negara menjadi dua, yakni berada di bawah pemerintah dan BI untuk tujuan yang sama.

Dalam kesepakatan bersama antara BI dan pemerintah, bank sentral akan membiayai penuh belanja untuk manfaat publik, yang terdiri dari belanja kesehatan Rp 87,55 triliun, perlindungan sosial Rp 203,9 triliun, dan sektoral k/l & pemda Rp 106,11 triliun.

Pembiayaan dilakukan melalui penerbitan SBN khusus atau private placement. Pada skema ini, pemerintah sama sekali tak menanggung beban bunga. Baca Juga Setujui APBN 2021, DPR Beri Catatan soal PMN Jiwasraya Bank sentral juga akan membiayai belanja barang nonpublik seperti bantuan UMKM sebesar Rp 123,46 triliun dan pembiayaan korporasi non-UMKM Rp 53,57 triliun.

Namun, pembiyaan untuk belanja barang non-publik dilakukan melalui penerbitan SBN dengan mekanisme pasar sesuai kesepakatan sebelumnya pada UU Nomor 2 tahun 2020. Ekonom Indef Rizal Taufiqurahman menjelaskan, kebijakan pembiayaan oleh bank sentral di luar opsi burden sharing yang telah ditetapkan pemerintah dan BI dapat berisiko pada pasar keuangan. Apalagi jika skema yang dipilih adalah bank sentral mencetak uang sesuai kebutuhan pemerintah.

“Jika BI tidak siap dan mampu menarik uang yang dicetak sebagai suplai di pasar uang, maka risiko permintaan tidak terkendali, nilai uang terdepresiasi, dan berpotensi menimbulkan hiperinflasi,” kata Rizal.

Kebijakan pembiayaan anggaran pemerintah oleh bank sentral saat ini diterapkan hampir seluruh negara. Beberapa bank sentral negara maju bahkan menggelontorkan pinjaman langsung ke sektor riil dengan membeli obligasi perusahaan. Bank Sentral AS, The Federal Reserve misalnya, telah meluncurkan program pinjaman untuk mendukung usaha kecil dan menengah sejak Mei lalu.

Dikutip dari CNBC, The Fed juga membeli obligasi korporasi yang diperdagangkan di pasar sekunder. Total stimulus yang digelontorkan mencapai triliunan dolar. Berbagai upaya tersebut membuat total aset The Fed membengkak lebih dari 68% sejak Maret menjadi lebih dari US$ 7 triliun atau setara Rp 104.300 triliun.

Bank Jepang dan Bank Sentral Eropa juga melakukan stimulus besar-besaran untuk membantu ekonomi mereka. ECB misalnya, menjalankan program pembelian obligasi krisis senilai lebih dari 1,3 triliun euro atau setara Rp 22.623 triliun.

Adapun BoJ telah berjanji untuk membeli obligasi korporasi dalam jumlah tak terbatas untuk menjaga suku bunga pinjaman tetap rendah. Baca Juga Regulator Tambah Amunisi Penyelamatan Bank di Masa Pandemi Aset BoJ dan ECB telah tumbuh masing-masing menjadi 690 triliun yen atau setara Rp 72.450 triliun dan 6,5 triliun euro atau Rp 48.100 triliun.

Namun, total aset tersebut hanya mereprsentasikan kenaikan sebesar 17,8% untuk Bank Sentral Jepang dan 38,7% untuk Bank Sentral Eropa sejak Maret. Ekonomi AS, Jepang, dan Eropa termasuk yang paling terpukul oleh pandemi Covid-19.

Kontraksi ekonomi yang dialami dua negara dan satu zona ekonomi ini mencapai dua digit pada kuartal II 2020. Sementara OECD memproyeksi ekonomi global akan mengalami resesi meski tak sedalam dugaan sebelumnya.

Tanggapan berbeda dilakukan Tiongkok. Stimulus diberikan People Bank of China dengan memangkas suku bunga pinjaman satu tahun menjadi 3,85% dari 4,15% pada 2019. Aset PBoC tak banyak berubah sejak Maret. Kondisi ekonomi Negara Tembok Raksasa ini jauh lebih baik, bahkan diproyeksi masih akan tumbuh 2% pada tahun ini oleh Bank Dunia.

Oxford Business Group menyebut Indonesia sebagai salah satu negara yang terbilang berani melakukan monetisasi utang di antara negara emerging market lainnya. Langkah serupa juga sebenarnya diterapkan oleh beberapa bank sentral di Kawasan Asia Pasifik, tetapi secara lebih terkendali. Bank Sentral Filipina sebenarnya memutuskan untuk membiayai defisit anggaran pemerintah lebih awal dibandingkan BI.

Dikutip dari Nikkei, Bangko Ng Phlipines pada Maret telah membeli surat utang pemerintah melalui pasar primer sebesar 300 miliar peso atau setara Rp 32,1 triliun dalam bentuk repo dengan jangka waktu tiga bulan dan dapat diperpanjang. Pembelian obligasi pemerintah oleh Bangko Ng Phlipines mencapai 800 miliar peso atau Rp 86,6 triliun, setara 45% pinjaman dalam negeri pemerintah hingga Juli.

Sekitar 500 miliar peso dibeli di pasar sekunder. Namun, Bank Sentral Filipina baru-baru ini mengumumkan siap memberikan pembiyaan lebih kepada pemerintah. Baca Juga Sinyal Meredupnya Peluang Pengawasan Bank Kembali ke BI saat Pandemi Reserve Bank of India juga memiliki kebijakan untuk membeli surat utang pemerintah di pasar perdana hingga mencapai 0,5% dari defisit anggaran.

Pembiayaan bank sentral untuk menutup defisit anggaran sebenarnya dilakukan oleh Myanmar. Dikutip dari media lokal The Irrawaddy, pemerintah Myanmar meminjam 1,3 triliun kyat atau setara Rp 13,7 triliun dari bank sentral untuk menutup sebagian defisit anggaran 2019 dan 2020 yang mencapai 6,6 triliun kyat. Namun pinjaman bank sentral kepada pemerintah untuk menutup defisit bukan hal baru di negara ini. Hampir setiap tahun defisit anggaran Myanmar ditutup oleh pinjaman dari bank sentral.

Lembaga pemeringkat utang global, S&P sempat mengingatkan langkah pembiayaan utang pemerintah oleh bank sentral yang dilakukan Indonesia, India, dan Filipina dapat mempertaruhkan reputasi otoritas moneter. Meski saat ini belum ada indikasi hilangnya kepercayaan investor pada ketiga bank sentral tersebut, S&P menilai risiko akan meningkat jika monetisasi utang tetap dilakukan bank sentral usai pandemi berakhir.

“Jika investor mulai melihat ketergantungan pemerintah pada pendanaan bank sentral sebagai fitur struktural ekonomi jangka panjang, otoritas moneter dapat kehilangan kredibilitas,” kata S&P, seperti dikutip dari Reuters. Peringatan serupa juga diberikan Bank Dunia dalam laporan terbaru untuk kawasan Asia Timur dan Pasifik edisi Oktober 2020. Menurut Bank Dunia, pembiayaan utang oleh bank sentral yang dilakukan sejumlah negara di Asia Timur, termasuk Indonesia, dapat menganggu independensi dan pengendalian inflasi. (hdyt/katadata)

Continue Reading

Keuangan

Rabu 22 Juli, Rupiah Unjuk Gigi ke Rp 14.607

Published

on

Finroll – Jakarta, Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.607 per dolar AS pada perdagangan pasar spot Rabu (22/7) pagi. Mata uang Garuda menguat 0,91 persen dari Rp14.741 pada hari sebelumnya.

Rupiah menguat bersama mayoritas mata uang Asia. Won Korea Selatan menguat 0,34 persen, peso Filipina 0,14 persen, baht Thailand 0,16 persen, ringgit Malaysia 0,16 persen, yen Jepang 0,03 persen, dan yuan China 0,19 persen.

Hal yang sama juga terjadi pada mayoritas mata uang di negara maju. Tercatat, dolar Kanada menguat 0,07 persen, dolar Australia 0,13 persen, euro Eropa 0,1 persen, dan franc Swiss 0,11 persen.

Sementara, rubel Rusia minus 0,02 persen dan poundsterling Inggris minus 0,05 persen.

Analis Asia Valbury Futures Lukman Leong memprediksi rupiah kembali menguat hari ini. Optimisme pasar terhadap perkembangan vaksin virus corona memberikan sentimen positif bagi rupiah.

“Secara fundamental, rupiah berpotensi menguat dengan optimisme pasar terhadap vaksin virus corona serta pelemahan mata uang AS,” ungkap Lukman kepada CNNIndonesia.com.

Ia optimistis rupiah tetap bergerak di bawah Rp15 ribu per dolar AS hingga sore nanti. Tepatnya, Lukman memproyeksi rupiah berada dalam rentang support Rp14.600-Rp14.700 per dolar AS dan resistance Rp14.900 per dolar AS.

“Saya kira rupiah akan berkonsolidasi di bawah Rp15 ribu per dolar AS,” imbuh Lukman.

Sebagai informasi, PT Bio Farma (Persero) akan melakukan uji klinis tahap ketiga pada vaksin virus corona. Tahapan uji klinis itu dijadwalkan mulai Agustus 2020 dan berjalan selama enam bulan.

Jika sesuai target, uji klinis tahap ketiga akan selesai pada Januari 2021. Kemudian, Bio Farma akan mulai memproduksi vaksin tersebut pada kuartal I 2021.

Sumber : CNN Indonesia

Continue Reading

Keuangan

Pupuk Indonesia Rilis Surat Utang Rp2,5 T

Published

on

By

Pupuk Indonesia menerbitkan surat utang Rp2,5 triliun untuk refinancing obligasi di Petrokimia Gresik. Selain itu, surat tang juga dirilis untuk modal kerja. Ilustrasi. (CNN Indonesia/Andry Novelino).

Finroll.com, Jakarta – PT Pupuk Indonesia (Persero) menerbitkan surat utang (obligasi) senilai Rp2,5 triliun. Penerbitan melalui Penawaran Umum Berkelanjutan (PUB) obligasi berkelanjutan II tahap I 2020, yang merupakan bagian dari PUB II senilai Rp8 triliun.

Direktur Utama Pupuk Indonesia Aas Asikin Idat mengatakan tujuan penerbitan surat utang untuk refinancing atau pembiayaan utang kembali, baik utang induk maupun entitas anak. Namun, ia tidak merincikan total refinancing tersebut.

“Dana ini digunakan untuk refinancing obligasi di Petrokimia Gresik, untuk menutup sebagian kredit investasi dan Pupuk Iskandar Muda terkait dengan modal kerja,” ujarnya dalam paparan virtual, Senin (20/7).

Perseroan menerbitkan obligasi dalam tiga seri. Pertama, seri A memiliki tenor 3 tahun dengan kupon 6,25 persen-7,5 persen. Kedua, seri B memiliki tenor 5 tahun dengan kupon 7 persen-8,3 persen.

Ketiga, seri C memiliki tenor 7 tahun dengan kupon 7,5 persen-8,75 persen. Sementara itu, pembayaran bunga dilakukan setiap kuartal.

Aas menuturkan perseroan berharap kupon dalam obligasi ini lebih murah, sehingga perusahaan pelat merah itu bisa melakukan efisiensi pembiayaan.

“Kami harapkan bunga yang diperoleh di sini relatif lebih murah, sehingga kami ada efisiensi dalam pembayaran bunga di Pupuk Indonesia Group,” katanya.

Masa penawaran awal obligasi berlangsung pada 16-30 Juli 2020. Sedangkan penawaran umum dijadwalkan pada 14-18 Agustus 2020.

Dalam hajatan ini, perseroan menunjuk PT Bahana Sekuritas, PT BCA Sekuritas, PT BNI Sekuritas, PT Danareksa Sekuritas, dan PT Mandiri Sekuritas sebagai Joint Lead Underwriters (JLU). Semantara itu, PT Bank Mega Tbk bertindak sebagai wali amanat.

Obligasi berkelanjutan Pupuk Indonesia mendapat peringkat AAA dari PT Fitch Ratings Indonesia.

Kinerja Kinclong

Selama masa pandemi Covid-19, Aas mengklaim Pupuk Indonesia tetap membukukan kinerja yang baik. Bahkan, cenderung mengalami peningkatan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

“Kalau kita lihat performa produksi, penjualan, dan laba ini terpengaruhnya tidak terlalu besar. Performa penjualan, produksi, dan laba Januari-Mei 2020 dibandingkan 2019 periode yang sama ini relatif lebih bagus,” ucapnya.

Data perseroan menyebutkan, penjualan pupuk PSO pada Januari-Mei 2020 sebesar 3,93 juta ton. Sedangkan volume penjualan pupuk komersil melonjak 47,45 persen dari 1,37 juta ton pada periode yang sama tahun lalu, menjadi 2,01 juta ton.

Secara pendapatan, penjualan pupuk komersial meningkat 38,35 persen Rp5,45 triliun menjadi Rp7,54 triliun dari. Sementara itu, laba tahun berjalan tumbuh 11,7 persen dari Rp1,43 triliun menjadi Rp1,6 triliun dari triliun.

Sumber : CNN Indonesia

Continue Reading
Advertisement

Advertisement
Advertisement

Trending