Connect with us

Pasar Modal

Usai Rusuh 22 Mei, IHSG Dibuka Zona Hijau

Published

on


Finroll.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka hijau pagi ini. Kondisi aksi 22 Mei di depan Bawaslu dan sejumlah titik di Jakarta yang mulai kondusif tampaknya direspons positif oleh pasar. IHSG dibuka naik 14,76 poin (0,24%) ke 5.954,396.

Sementara nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) pagi ini berada di level Rp 14.494. Angka ini lebih tinggi dibanding posisi pembukaan perdagangan Rabu (22/5) pagi, namun lebih rendah dibanding penutupan yang berada di level Rp 14.500-an.

Pada pra perdagangan, IHSG naik 4,3 poin (0,07%) ke 5.944,032. Kemudian indeks LQ45 bertambah 1,42 poin (0,15%) ke 923,163.

Membuka perdagangan Kamis (23/5/2019), IHSG melanjutkan penguatan 14,76 poin (0,24%) ke 5.954,396. Indeks LQ45 naik 1,42 poin (0,15%) ke 925,969.

Pada pukul 09.05 waktu JATS, IHSG kian menguat, naik 45,51 poin (0,76%) ke 5.985,15. Indeks LQ45 naik 9,2 poin (1%) ke 930,937.

Sementara itu, Bursa Amerika Serikat ditutup Melemah. Dow Jones ditutup 25,776.61 (-0.39%), NASDAQ ditutup 7,750.84 (-0.45%), S&P 500 ditutup 2,856.27 (-0.28%).

Wall Street ditutup melemah merespon kembali memanasnya perang dagang antara Amerika Serikat dan China. Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin mengatakan bahwa kunjungan ke Beijing untuk memulai lagi nego dagang belum direncanakan hingga saat ini. Hal itu menurunkan harapan pasar bahwa penyelesaian perang dagang AS-China akan tercapai dalam waktu dekat. Pasar juga mencerna rilis risalah rapat bank sentral Federal Reserve. Dokumen itu mengindikasikan bank sentral tidak akan membuat perubahan suku bunga untuk beberapa waktu.

Perdagangan bursa saham Asia sendiri mayoritas bergerak negatif pagi ini. Berikut pergerakannya:

  • Indeks Nikkei 225 turun 185,43 poin ke 21.097,94
  • Indeks Hang Seng berkurang 384 poin ke 27.321,94
  • Indeks Komposit Shanghai melemah 35,97 poin ke 2.855,73
  • Indeks Strait Times minus 30,92 poin ke 3.152,22
sumber: d’finance

Pasar Modal

Bahaya! IHSG Keluar dari 6.000, Pertama Kali Sejak Mei 2019

Published

on

By

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan hari ini, Kamis (3/10/2019), dengan koreksi sebesar 0,37% ke level 6.033,03. IHSG kemudian berangsur-angsur memperlebar kekalahannya hingga sempat meninggalkan level psikologis 6.000. Titik terendah IHSG pada hari ini berada di level 5.997,69. Untuk diketahui, kali terakhir IHSG menutup perdagangan di bawah level 6.000 adalah pada 22 Mei silam.

Pada pukul 09:20 WIB, indeks saham acuan di Indonesia tersebut terkoreksi 0,63% ke level 6.017,34.

Kinerja IHSG senada dengan seluruh bursa saham utama kawasan Asia yang sedang kompak ditransaksikan di zona merah: indeks Nikkei turun 2,2%, indeks Hang Seng jatuh 0,75%, dan indeks Straits Times melemah 0,85%.

Untuk diketahui, perdagangan di bursa saham China diliburkan guna memperingati 70 tahun lahirnya Republik Rakyat China, sementara perdagangan di bursa saham Korea Selatan diliburkan guna memperingati National Foundation Day.

Perang dagang AS-Uni Eropa menjadi faktor yang memantik aksi jual di bursa saham Benua Kuning. Kemarin (2/10/2019), Kantor Perwakilan Dagang AS merilis daftar produk impor asal Uni Eropa yang akan dikenakan bea masuk baru. Pesawat terbang, kopi, daging babi, hingga mentega termasuk ke dalam daftar produk yang disasar AS.

Daftar produk tersebut dirilis pasca AS memenangkan gugatan di World Trade Organization (WTO). AS menggugat Uni Eropa ke WTO lantaran Uni Eropa dianggap telah memberikan subsidi secara ilegal kepada Airbus, pabrikan pesawat terbang asal Benua Biru. Dampak dari subsidi ilegal tersebut adalah pabrikan pesawat asal AS, Boeing, menjadi kurang kompetitif.

WTO memberikan hak kepada pemerintahan Presiden Donald Trump untuk mengenakan bea masuk baru terhadap produk impor asal China senilai US$ 7,5 miliar. Melansir CNBC International, hingga kini belum jelas berapa nilai dari produk impor asal Uni Eropa yang akan dikenakan bea masuk baru oleh AS, apakah itu US$ 7,5 miliar atau kurang dari itu.

Dengan langkah pemerintah AS yang galak terhadap Uni Eropa, peluang terjadinya resesi di AS tentu bertambah besar. Sebelumnya, kekhawatiran bahwa AS akan masuk ke jurang resesi telah sangat terasa seiring dengan rilis data ekonominya yang begitu mengecewakan.

Pada hari Selasa (1/10/2019), Manufacturing PMI AS periode September 2019 versi Institute for Supply Management (ISM) diumumkan di level 47,8, jauh di bawah konsensus yang sebesar 50,4, seperti dilansir dari Forex Factory.

Sebagai informasi, angka di atas 50 berarti aktivitas manufaktur membukukan ekspansi jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya, sementara angka di bawah 50 menunjukkan adanya kontraksi.

Kontraksi yang terjadi pada bulan September merupakan kontraksi terburuk yang dibukukan oleh sektor manufaktur AS dalam satu dekade terakhir. Perang dagang dengan China terbukti telah sangat menyakiti perekonomian AS.

Continue Reading

Pasar Modal

Terimbas Sentimen Perang Dagang, IHSG Melemah ke 6.228,43

Published

on

By

Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG tercatat melemah usai dibuka pada pukul 10.15 WIB ke level 6.228,425 pada perdagangan pekan pertama Senin, 23 September 2019. Tercatat indeks acuan melemah sebesar 0,05 persen, meski sempat dibuka menguat pada awal perdagangan.

Berdasarkan RTI, sebanyak 192 emiten mencatatkan pelemahan, 152 saham tak bergerak dan 143 saham menguat. Sebanyak 151.468 kali transaksi terjadi dengan volume saham mencapai 5,5 miliar lembar saham. Dengan jumlah ini, RTI mencatat total saham yang diperdagangkan senilai Rp 2,29 triliun.

Direktur Anugerah Mega Investama Hans Kwee mengatakan pada perdagangan pekan ini pasar saham masih akan fokus pada perkembangan negosiasi perang dagang antara Amerika Serikat dan Cina. Pertemuan ini bakal memberikan gambaran perkembangan negosiasi dagang kedua negara ke depan.

“Pasar nampaknya akan fokus kepada perkembangan negosiasi perang dagang antara AS dan China. Pasar menanti hasil pertemuan awal para negosiator kedua negara yang sudah di mulai dari kamis pekan lalu,” kata Hans dalam keterangannya di Jakarta, Senin 23 September 2019.

Menurut Hans, sejumlah data ekonomi dari beberapa negara yang keluar pekan lalu menunjukkan kondisi data yang bercampur. Sebagian diantaranya, menunjukkan adanya indikasi perlambatan ekonomi. Meski begitu, pasar juga mulai mempertimbangkan akselarasi ekonomi dunia menyusul pelonggaran kebijakan moneter oleh beberapa bank sentral.

Hans memperkirakan, pasar pekan ini akan bergerak cukup mix atau bercampur, dengan potensi positif. Adapun, support di level IHSG akan berada pada rentang 6.193 sampai 6.022 dan resistance level 6.282 sampai 6.318.

Senada, laporan dari EBS Market mencatat bahwa pekan ini, perang dagang Amerika Serikat dengan Cina, masih akan menjadi perhatian pasar keuangan global dan regional. Selain itu, rilis data kredit perbankan serta penjualan motor dalam negeri juga akan menjadi salah satu sentimen pelaku pasar dalam memantau kekuatan daya beli masyarakat.

Continue Reading

Pasar Modal

Debut Perdana, Saham Bhakti Agung Propertindo Naik 20 Persen

Published

on

By

Bursa Saham Kawasan Asia di Buka Zona Hijau Pada Perdagangan Hari Ini

PT Bhakti Agung Propertindo Tbk (BAPI) resmi mencatatkan sahamnya di lantai Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui skema penawaran umum perdana saham atau Initial Public Offering (IPO).

Perseroan menerbitkan sebanyak 1,67 miliar saham ke masyarakat. Dengan Harga penawaran umum Rp 150 per lembar saham, BAPI mendapatkan dana sebesar Rp 251,62 miliar.

Dalam debut perdananya, saham BAPI naik 20 persen atau 30 poin ke Rp 180 per saham dari harga penawaran perdana.

Direktur Utama Agung Hadi Tjahjanto mengatakan, hasil dari dana IPO tersebut sebesar 80 persen akan digunakan untuk modal kerja, sisanya yang 20 persen untuk pembayaran utang kami ke bank.

“Dengan Bertambahnya modal kerja membuat perseroan optimistis mampu mendongkrak kinerja pada tahun 2020,” ujarnya di gedung BEI Jakarta, Senin (16/9/2019).

Untuk memuluskan rencananya perseroan menunjuk Penjamin Pelaksana Emisi Efek adalah MNC Sekuritas dan NH Korindo. Sedangkan Penjamin Emisi Efek atau Sindikasi adalah Valbury Sekuritas.

Menurutnya, pendapatan maupun laba usaha akan meningkat dibandingkan 2019. Dirinya optimistis hal itu juga ditopang oleh pasar properti yang akan mulai pulih pada 2020.

Sementara itu, masuknya perseroan ke pasar modal sekaligus untuk meningkatkan tata kelola perusahaan (Good Corporate Governance/GCG).

“Kami menjadi lebih transparan dan profesional sehingga lebih kompetitif dalam bisnis properti,” tuturnya.

Sebagai informasi, PT. Bhakti Agung Propertindo Tbk saat ini, sedang mengembangkan proyek Green Cleosa Apartment and Condotel. Proyek yang berdiri di Ciledug, Kota Tangerang tersebut mencakup dua tahap pembangunan, yakni tahap pertama, Tower Berosa dan STIKES. Lalu, tahap kedua, Tower Arcleo dan kondominium hotel (kondotel).

Apartment Green Cleosa merupakan apartemen yang berada di dekat pusat bisnis Kota Tangerang yang berlokasi strategis dekat dengan pusat perbelanjaan dan transportasi umum yang beroperasi 24 jam.

Permintaan apartemen di kawasan itu dinilai masih cukup tinggi dimana hal itu dapat terlihat dari penjualan menara pertama Cleosa yang sudah mencapai separuh dari total unit yang ditawarkan. Untuk tahap ke 2, Perseroan juga telah bekerjasama dengan Horison yang akan menjadi operator hotel, sehingga dapat menjadi Recurring Income bagi perusahaan.

Selain Menerbitkan Saham, BAPI juga menerbitkan Warant Seri 1 sebanyak 1.342.017.600 dengan Harga Pelaksanaan Rp155,- per Lembar yang dapat dilakukan selama masa pelaksanaan, dan dimulai setelah 6 (enam) bulan sejak Waran Seri I diterbitkan, yaitu mulai tanggal 16 Maret 2020 sampai dengan 16 September 2022.

Continue Reading
Advertisement
Advertisement

Asco Global

Trending