Connect with us

Traveling

Viral Gunung Luhur, Ini 5 Fakta Penting yang Harus Diketahui Sebelum Berkunjung

Published

on


Kabupaten Lebak di Provinsi Banten, memiliki destinasi wisata yang kini ramai dikunjungi ribuan orang, yakni negeri di atas awan Gunung Luhur yang terletak di Desa Citorek Kidul, Kecamatan Cibeber.

Desa tersebut masuk di dalam Kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS). Pesona yang ditawarkan destinasi tersebut yakni panorama hamparan awan yang dapat dilihat dari atas gunung.

Meskipun disebut gunung, sebenarnya ketinggian Gunung Luhur hanya 901 di atas laut (mdpl).

Namun, bagi wisatawan yang ingin menikmati hamparan awan di Gunung Luhur harus sudah berada di lokasi antara pukul 05.00 WIB hingga pukul 08.00 WIB.

Setelah ramai dikunjungi wisatawan baik dari luar provinsi bahkan luar negeri, pemerintah setempat akan membangun masjid di lokasi tersebut.

Berikut lima falta cerita di balik negeri di atas awan Gunung Luhur:

1. Ditemukan pekerja yang tengah memperbaiki jalan
Salah satu pengelola Gunung Luhur, Sukmadi mengatakan, negeri di atas awan pertama kali ditemukan oleh pekerja yang tengah memperbaiki jalan provinsi yang menghubungkan Lebak utara dan selatan pada Bulan September 2018.

Setelah sempat viral di media sosial, satu persatu pengunjung pun mulai datang, dan mereka menjuluki Gunung Luhur sebagai negeri di atas awan.

“Sekitar bulan September 2018, diikuti oleh warga sini yang juga penasaran, kemudian difoto lalu diunggah ke medsos, akhirnya viral,” kata Sukmadi kepada Kompas.com, Minggu (15/9/2019).

2. Ramai dikunjungi setiap akhir pekan
Sejak viral di media sosial, jumlah pengunjung negeri di atas awan Gunung Luhur mencapai ribuan orang setiap akhir pekan.

Sukmadi mengatakan, peningkatan pengunjung mulai terjadi sejak Juni atau setelah Lebaran Idul Fitri.

Pada pekan kedua bulan Juni, tercatat 3.248 orang mengunjungi Gunung Luhur.

“Mulai paling ramai itu memang mulai Juni, Juli hingga September sekarang. Rata-rata pengunjung setiap bulan di atas 10.000 wisatawan,” kata Sukmadi kepada Kompas.com melalui sambungan telepon, Rabu (18/9/2019).

3. Tampak seperti lautan manusia
Masih dikatakan Sukmadi, jika pengunjung membludak, negeri di atas awan Gunung Luhur akan tampak seperti lautan manusia.

Namun tetap tidak mengurangi pesona negeri di atas awan lantaran ada banyak spot untuk melihat hamparan awan di Gunung Luhur.

“Spot utama memang di atas bukit yang sudah kita sediakan. Namun, di sini di sepanjang jalan ke atas bukit juga ada tempat – tempat terbuka untuk menikmati pemandangan, dan tidak kalah indahnya dengan di atas,” katanya.

4. Akan dibangun masjid
Setelah ramai dikunjungi wisatawan, objek wisata negeri di atas awan Gunung Luhur di Desa Citorek Kidul, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak, Banten, akan dibangun masjid.

Gubernur Banten Wahidin Halim mengatakan, Gunung Luhur nantinya akan memiliki masjid seperti Masjid Atta’awun di kawasan Puncak, Jawa Barat.

“Kita sepakat kemarin akan membangun masjid seperti Atta’awun di puncaknya. Minggu depan mulai peletakan batu pertama,” kata Wahidin ditemui di Kawasan Pusat Pemerintahan Provinsi Banten (KP3B) Kota Serang, Rabu (18/9/2019).

5. Tak ingin jadi tempat maksiat
Dikatakan Wahidin, beberapa pekan ke belakang ini, objek wisata Gunung Luhur banyak dikunjungi oleh wisatawan yang penasaran dengan panorama hamparan awan.

Pengunjung tidak hanya datang dari wilayah Banten saja, tapi dari luar provinsi hingga ada wisatawan dari luar negeri yang juga penasaran dengan keindahan negeri di atas awan Gunung Luhur.

Lantaran banyak pengunjung, maka fasilitas di Gunung Luhur harus dibuat lengkap.

Salah satunya adalah dengan pembangunan masjid.

“Karena di sana butuh masjid. Jangan sampai di sana jadi tempat maksiat. Akan sangat indah ada suara azan di puncak gunung itu,” katanya.

Advertisement

Traveling

Candi Sumber Tetek, Situs Kuno yang Dipercaya Bisa Bikin Awey Muda

Published

on

By

Bicara tentang destinasi wisata Jawa Timur, kamu pastinya akan dengan mudah merujuk pada Kota Malang yang populer sebagai tujuan liburan. Padahal sebenarnya, ada banyak destinasi menarik yang bisa kamu temukan di sekitarnya.

Candi Sumber Tetek di Pasuruan adalah salah satu di antaranya. Dilansir dari berbagai sumber, Candi Sumber Tetek berlokasi di Desa Belahan Jowo, Wonosunyo, Kecamatan Gempol, Pasuruan. Candi ini merupakan salah satu peninggalan Majapahit yang dibangun pada 1049, tepatnya pada abad 11 masa Kerajaan Kahuripan.

Candi yang dikenal pula sebagai Candi Belahan itu terletak di kawasan hutan yang dikelola Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Pasuruan. Menurut situs yang ada di sekitarnya, hadirnya Candi Sumber Tetek didahului oleh Candi Patirtan Jolotundo.

Candi Patirtan Jolotundo merupakan situs kuno yang didirikan oleh Sang Ratu Maruhani Sri Dharmodayana Warmadewa, seorang raja penguasa Pulau Bali dari Wangsa Warmadewa yang lebih populer dikenal sebagai Udayana. Candi Patirtan Jolotundo atau Petirtaan Jolotundo berlokasi di Gunung Bekal, Desa Seloliman, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur.

Udayana mendirikan Petirtaan Jolotundo ketika permaisurinya, Mahendratta, putri Raja Sri Makutawangsawardhana dari Kerajaan Medang melahirkan Airlangga pada 997 Masehi. Ketika Airlangga telah dewasa dan menjadi raja, ia kemudian mendirikan Candi Sumber Tetek sebagai lokasi pemandian bagi para permaisuri dan juga selir-selirnya.

Kisah sejarah inilah yang menjadi alasan, bahwa walaupun kini kedua situs tersebut berada di kabupaten yang berbeda, tapi masih sama-sama berada di kawasan Gunung Penanggungan. Candi Patirtan Jolotundi di sebelah selatan, sementara Candi Sumber Tetek berada di lereng utaranya.

Di dalam kompleks Candi Sumber Tetek, kamu akan menemukan dua buah patung wanita, yakni Dewi Laksmi dan Dewi Sri yang dipahat menggunakan batu andesit. Kedua patung ini ditempatkan bersampingan dan menempel pada dinding candi yang terbuat dari batu merah. Kedua dewi ini dipilih karena melambangkan kesuburan serta kemakmuran.

Di dinding candi, kamu akan menemukan ukiran relief yang eksotik dan berbagai pesan moral. Sementara di bagian bawah patung, kamu akan menemukan sebuah kolam berukuran 4×5 meter yang memiliki kedalaman sekitar selutut orang dewasa.

Kolam tersebut dialiri air pegunungan melalui pipa kecil yang berada di sisi kanan kolam dan juga payudara (dalam bahasa Jawa dikenal sebagai (“Tetek”) patung Dewi Laksmi. Konon, air yang mengalir dari Candi Sumber Tetek atau yang dikenal pula sebagai Petirtaan Belahan ini dapat membuat kamu menjadi awet muda.

Karenanya, jangan heran jika banyak pengunjung yang datang ke tempat ini untuk mandi, membasuh wajah, hingga minum dari sumber air tersebut. Sebelum pulang, mereka bahkan mengisi wadah yang sebelumnya telah disiapkan untuk dibawa ke rumah masing-masing.

Selain digunakan sebagai tempat pemandian, Candi Sumber Tetek juga diyakini menjadi lokasi pertapaan Prabu Airlangga. Masyarakat sekitar juga percaya bahwa Airlangga merupakan perwujudan Dewa Wisnu. Karena ia merupakan salah satu pengikut Dewa Wisnu yang setia dan semasa hidup dikenal taat dalam menjalankan ajaran Dewa Wisnu.

Salah satu buktinya adalah keberadaan arca Dewa Wisnu yang digambarkan menurut rupa Airlangga yang tengah mengendarai Garuda di dalam komplek candi ini. Namun kini, kamu tidak dapat menemukan arca prasasti tersebut karena telah dipindahkan ke Museum Purba Trowulan di Mojokerto.

Menurut cerita dari masyarakat sekitar, dahulu di Candi Sumber Tetek juga terdapat patung Wisnu menunggangi burung garuda, Wisnu merupakan perwujudan Airlangga, karena semasa hidupnya menganut ajaran Dewa Wisnu. Saat ini patung tersebut tersimpan di museum Purbakala Trowulan Mojokerto, Jawa Timur.

Situs kuno yang telah berusia lebih dari 1000 tahun tersebut sejauh ini belum pernah disentuh oleh proyek pemugaran, sehingga masih membawa bentuk aslinya. Pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah daerah biasanya dilakukan di sekitar candi, seperti di kawasan pagar pembatas.

Bagi kamu yang berencana datang ke kawasan Candi Sumber Tetek, ada satu aturan yang mesti diketahui, pahami, dan taati. Yaitu tidak datang ketika tengah berhalangan atau saat menstruasi, karena bisa menimbulkan kesialan bagi dirimu sendiri.

Menarik sekali, ya. Berminat memasukkan Candi Sumber Tetek dalam daftar destinasi wisatamu saat berlibur di Jawa Timur?

Continue Reading

Traveling

5 Kegiatan Wisata Seru di Garuda Wisnu Kencana Park

Published

on

By

Garuda Wisnu Kencana (GWK) yang berada di kawasan GWK Cultural Park, Bukit Ungasan, Kabupaten Badung, Bali, menjadi salah satu objek wisata wajib yang dikunjungi wisatawan saat berwisata ke Bali.

Sejak diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada September 2018, objek wisata yang memajang patung karya I Nyoman Nuarta terus menarik perhatian banyak wisatawan baik lokal maupun mancanegara.

Untuk bisa masuk ke kawasan GWK Cultural Park, pengunjung dewasa dikenakan tiket seharga Rp125 ribu. Sedangkan anak-anak dan lansia dikenakan tarif tiket Rp100 ribu. Jam buka mulai pukul 08.00 – 20.00 WITA.

Berikut lima hal yang menarik yang bisa dilakukan saat berkunjung ke GWK Cultural Park:

1. Pertunjukan seni

Pengelola GWK Cultural Park telah menyediakan berbagai pertunjukan seni yang dapat disaksikan pengunjung di amfiteater yang lokasinya berada tak jauh dari pintu masuk.

Setidaknya ada tujuh jadwal pertunjukan seni yang bisa disaksikan pengunjung pada pukul 10.00 – 18.30 WITA.

Pertunjukan seni tersebut antara lain Balinese Dance, Barong Keris Dance, Garuda Wisnu Ballet, Nusantara Dance, Barong Keris Dance, Balinese Dance, dan Kecak Garuda Wisnu.

2. Naik segway

Bagi yang ingin merasakan pengalaman berbeda berkeliling GWK Cultural Park, maka bisa mencoba menyewa segway dan skutis yang disediakan di beberapa lokasi, seperti di Festival Park.

Penyewaan segway dibuka mulai dari pukul 10.00 – 18.00 WITA. Harga sewa segway dan skutis Anoa Rp60 ribu / 15 menit, sedangkan untuk skutis smart Rp80 ribu / 15 menit.

3. Tur keliling

Jika ingin menatap sudut Bali dari ketinggian, maka wajib mencoba paket tur keliling patung Garuda Wisnu Kencana.

Untuk dapat menikmati tur itu, pengunjung dikenakan biaya tambahan Rp150 ribu. Pengunjung bisa ikut tur keliling di lantai sembilan dan lantai 23 selama 45 menit.

Lantai sembilan berisi galeri tentang sejarah pendirian GWK Cultural Park, sedangkan lantai 23 merupakan lokasi yang sesuai untuk menyaksikan pemandangan di sekitar kawasan GWK Cultural Park,.

Namun selama ikut tur, pengunjung dilarang membawa telepon seluler dan kamera karena manajemen GWK sudah menyiapkan tim foto di lantai 23.

4. Berburu spot Instragram-able

Kawasan GWK Cultural Park memiliki berbagai lokasi-lokasi foto yang menarik untuk diunggah di media sosial.

Beberapa diantaranya seperti titik foto tebing batu yang terdapat di kawasan Lotus Pond dengan latar patung-patung tinggi yang sangat menarik.

Ada juga Indraloka Garden dan Plaza Kura-kura, Plaza Wisnu, hingga Plaza Garuda dengan pemandangan yang tidak kalah cantik.

Titik foto utama tentu saja berfoto dengan latar patung raksasa Garuda Wisnu Kencana yang memiliki ketinggian 120 meter.

5. Belanja cendera mata

Anda juga dapat berbelanja cendera mata untuk dibawa pulang. Lokasinya berada di Street Theater yang merupakan titik awal dan akhir kunjungan ke GWK Cultural Park.

Usai berbelanja, bisa juga makan dan minum di berbagai berbagai restoran yang berada di kawasan GWK Cultural Park.

Continue Reading

Kuliner

Restoran Ala Spanyol, Txoko Jakarta Jadi Magnet Bagi Para Pencinta Kuliner

Published

on

Finroll.com — Spanyol memiliki beragam jenis makanan daerah yang memanjakan lidah. Variasi menu hidangan yang mewah dan unik menjadi magnet bagi wisatawan untuk merapat, demi sekadar mencicipi kuliner khas Negeri Matador.

Namun, publik Tanah Air tak perlu jauh-jauh terbang ke Spanyol untuk wisata kuliner. Masyarakat bisa mengunjungi restoran ala Basque Country di selatan Ibu Kota, yakni Txoko Jakarta.

Txoko Jakarta menyajikan berbagai menu makanan Basque yang langsung dibuat dengan tangan koki ternama Spanyol, Oskar Urzelai. Dia meramu berbagai makanan jenis tapas dan pintxos dengan bahan-bahan lokal dan impor berkualitas tinggi.

Hidangannya pun dimasak menggunakan teknik tradisional dan modern. Sejumlah hidangan tapas dan pintxos seperti Beef Striploin Salad, hingga Grilled Octopus with Boletus Cream terlihat mewah berkat sentuhan Urzelai.

“Kami memahami sebagian besar kebutuhan tamu. Kami lantas menawarkan makanan Spanyol yang unik,” kata Executive Chef Txoko Jakarta, Oskar Urzelai, di Jakarta, Kamis (10/10).

Txoko Jakarta tidak hanya menyajikan makanan. Restoran yang dibuka pada Maret 2019 itu juga menghadirkan konsep ruangan artistik bergaya mediterania yang memanjakan mata.

Mural beragam warna yang dikelilingi kaca menghiasai dinding ruangan. Lampu-lampu neon dengan rona temaram memberikan nuansa sejuk dan menenangkan.

Dekorasi modern plus sentuhan klasik membuat Txoko Jakarta punya banyak spot foto yang instagramable. Para tamu pun semakin rileks menyantap hidangan karena ditemani alunan musik Negeri Matador.

Txoko Jakarta menyediakan ruangan pribadi untuk beragam acara di lantai kedua. Pengunjung pun bisa mengadakan pertemuan bisnis tertutup, pesta perpisahan, hingga acara ulang tahun sembari menikmati hidangan yang anti-mainstream.

Selain itu, Txoko Jakarta juga punya tempat penyimpanan anggur kelas dunia. Para tamu pun dapat menikmati 50 anggur pilihan dari berbagai negara, antara lain Australia, Prancis, Argentina, hingga Amerika Serikat.

“Kami memahami sebagian besar kebutuhan tamu kami. Mereka menginginkan privasi, tetapi pada saat yang sama juga menginginkan pelayanan personal dari pihak kami. Kami pun dapat memenuhi kebutuhan ini tanpa masalah sama sekali,” ujar Urzelai.

Untuk urusan harga, Txoko Jakarta menghadirkan set menu hidangan dengan banderol bervariasi. Manajemen restoran mematok harga per orang berkisar Rp220.000 saat hari kerja. Adapun pada akhir pekan sebesar Rp350.000.(red)

Continue Reading
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Trending