Connect with us

Science & Technology

Waaaaah, Kartu Kredit Ini Digunakan Dengan Pemindai Sidik Jari

Published

on


Kartu Kredit

Sebuah Bank di Inggris, Natwest, dikabarkan tengah mempersiapakan uji coba penggunaan kartu kredit dengan pemindai sidik jari. Yang akan dimulai April mendatang dengan melibatkan sekitar 200 pelanggan.

Melansir The Verge, Senin (11/3), Kartu kredit dengan pemindai sidik jari buatan tersebut memungkinkan penggunanya melakukan pembayaran tanpa harus memasukan kode PIN.

Kartu kredit tersebut diklaim tidak berisi informasi keamanan yang dapat dicuri peretas. Namun, hanya menyimpan sidik jari pengguna secara langsung di dalam kartu.

Kendati demikian hal tersebut tidak menutup kemungkinan adanya risiko pencurian oleh peretas. Otentikasi biometrik seperti sidik jari telah menjadi komponen standar pembayaran mobile.

Gemalto, perusahaan di belakang teknologi biometrik kartu, telah melakukan uji coba dengan pemindai sidik jari pada 2017. Namun, mereka tidak menemukan tempat di bank-bank tradisional.

Natwest dinilai tidak menyelesaikan permasalahan tersebut. Peserta yang terlibat dalam uji coba tetap harus mengunjungi cabang dari bank kartu kredit tersebut. Hal tersebut menimbulkan pertanyaan mengapa kartu biometrik diperlukan ketika pembayaran mobile dapat dengan mudah dilakukan pada ponsel pintar dengan pemindai sidik jari dan wajah. (Akurat)

Advertisement Valbury

Science & Technology

Keamanan Siber AS Sebut Peretas China Kian Aktif Kala Corona

Published

on

By

Perusahaan keamanan siber Amerika Serikat, FireEye mengklaim telah mendeteksi lonjakan aksi peretasan dari mata-mata siber yang dilakukan oleh kelompok peretas asal China, yakni APT41. FireEye mengatakan aktivitas dari APT41 dimulai pada akhir Januari dan berlangsung hingga pertengahan Maret 2020.

FINROLL.COM — FireEye mengatakan APT41 menargetkan 75 organisasi dari sejumlah industri yang berbeda, di antaranya telekomunikasi, kesehatan, pemerintah, pertahanan, keuangan, petrokimia, manufaktur, dan transportasi. Kelompok itu juga menargetkan organisasi nirlaba, hukum, real estate, perjalanan, pendidikan, dan media.

Melansir Tech Radar, peneliti FireEye menjelaskan bahwa aktivitas kelompok tersebut merupakan salah satu kampanye spionase online paling luas yang pernah terjadi.

“Kegiatan ini adalah salah satu kampanye paling luas yang kami saksikan dari para pelaku spionase Tiongkok dalam beberapa tahun terakhir,” ujar laporan FireEye.

Sementara APT41 sebelumnya telah melakukan kegiatan dengan entri awal yang luas dan eksploitasi ini berfokus pada sekelompok pelanggan kami, dan tampaknya mengungkapkan tempo operasional yang tinggi dan persyaratan pengumpulan yang luas untuk APT41.”

Para peneliti mengatakan APT41 menggunakan kerentanan pada Aplikasi Pengiriman Pengendali (ADC) Citrix, router Cisco, dan Zoho ManageEngine Desktop Central dalam meluncurkan serangan pada organisasi yang ditargetkan.

Kerentanan Citrix diketahui telah diumumkan kepada publik sebulan sebelum spionase APT41 dimulai. Sedangkan kerentanan eksekusi kode jarak jauh zero-dayi di Zoho ManageEngine Desktop Central diungkapkan hanya tiga hari sebelum kelompok peratas China itu memanfaatkan kelemahan keamanan.

Meskipun tidak memiliki salinan malware yang digunakan APT41 saat memata-matai router Cisco, FireEye percaya bahwa APT41 merancang malware custom (buatan sendiri) untuk meluncurkan serangan terhadap mereka.

FireEye pertama kali memberi nama pada kelompok peretasan China tahun lalu, tetapi APT41 telah melakukan spionase yang disponsori negara beberapa waktu belakangan.

Dalam sebuah pernyataan, FireEye menjelaskan bahwa motif di balik kampanye terbaru APT41 tidak diketahui. Namun, mereka menduga spionase berkaitan dengan hubungan dagang antara China dengan Amerika Serikat yang memanas hingga saat ini.

“Berdasarkan visibilitas kami saat ini, sulit untuk mengaitkan motif atau maksud kegiatan dengan APT41. Ada beberapa penjelasan yang mungkin menjadi alasan peningkatan aktivitas, di antaranya perang dagang antara Amerika Serikat dan Cina, serta pandemi Covid-19 yang mendorong China mengintai perdagangan, perjalanan, komunikasi, manufaktur, penelitian, dan hubungan internasional,” kutip FireEye.

Melansir CSO Online, APT41 adalah aktor spionase siber canggih yang disponsori China dan telah beroperasi sejak 2012. Tindakan yang dilakukan oleh APT41 tampak selaras dengan rencana pembangunan ekonomi lima tahun China.

Dikenal sebagai Barium atau Winnti, APT41 telah terlibat dalam pengumpulan intelijen strategis dari organisasi di banyak sektor.

Selain itu, mereka juga melancarkan serangan dengan motif finansial yang sebagian besar menargetkan industri game online. Beberapa ahli percaya bahwa APT41 beroperasi sebagai kontraktor dan memiliki banyak tim dengan tujuan yang berbeda.

Di masa lalu, APT41 memiliki spesialisasi dalam serangan rantai pasokan perangkat lunak. Grup ini meretas ke lingkungan pengembangan perangkat lunak dari beberapa vendor perangkat lunak dan menyuntikkan kode berbahaya ke alat yang disetujui secara digital untuk didistribusikan ke pelanggan melalui saluran distribusi perangkat lunak normal.

Peneliti FireEye menyarankan perusahaan melakukan mitigasi sesegera mungkin agar tidak kembali disusupi oleh APT41. Sistem yang rentan juga harus diisolasi internet atau digunakan secara offline. APT41 diketahui pernah menyerang CCleaner hingga ShadowPad. (CNN/GPH)

Continue Reading

Science & Technology

Redmi Note 9 Pro Vs Note 9 Pro Max, Canggih Mana?

Published

on

By

Xiaomi resmi telah meluncurkan produk terbarunya yakni Redmi Note 9 Pro dan Note 9 Pro Max pada hari Kamis, (12/3/2020) di India. Ini pertama kalinya sub-brand milik Xiaomi ini membuat produk dengan label “Pro Max”.

FINROLL.COM — Secara sekilas, kedua ponsel ini memiliki desain dan tampilan yang sama. Namun perbedaannya jelas bisa terlihat dari spesifikasi yang diusung. Berikut spesifikasi keduanya :

Redmi Note 9 Pro

Dilansir dari Gsmarena, (12/3/2020), ponsel Redmi terbaru ini akan mengadopsi layar IPS LCD berukuran 6,67 inci dengan resolusi FHD+ serta perlindungan Corning Gorilla Glass 5. Layarnya juga didukung dengan HDR10.

Dapur pacu pada Note 9 Pro telah disematkan prosesor Qualcomm Snapdragon 720G yang ditemani dengan dua varian RAM dan ROM sebesar 4GB/64GB dan 6GB/128GB serta menjalankan Android 10 dan MIUI 11.

Untuk kebutuhan fotografinya, ponsel ini memiliki empat kamera belakang yang terdiri dari kamera utama 48MP, kamera ultrawide 8MP, kamera makro 2MP, dan depth sensor 2MP. Sedangkan kamera depannya beresolusi 16MP.

Demi mendukung kinerjanya, Note 9 Pro ditanamkan baterai jumbo sebesar 5020mAh dengan dukungan pengisian daya cepat 18W. Untuk fitur lainnya, ponsel ini sudah mendukung IR Blaster, pemindai sidik jari disamping bodi, Bluetooth 5.0, dan Wi-Fi 802.11.

Redmi Note 9 A0dijual dengan harga 12.999 Rupee (Rp 2,5 juta, 4 GB/64 GB) dan 15.999 Rupee (Rp 3,1 juta, 6 GB/128 GB) dengan tiga pilihan warna Aurora Blue, Glacier White, dan Interstellar Black dan akan tersedia pada 17 Maret 2020. (GPH)

Continue Reading

Science & Technology

Pemerintah Tetapkan Metode Blokir Ponsel Ilegal

Published

on

By

Pemerintah dan seluruh operator seluler telah sepakat menggunakan metode pemblokiran whitelist (daftar putih) untuk memblokir ponsel ilegal ketika aturan IMEI diberlakukan 18 April 2020.

FINROLL.COM — Menurut Dirjen Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika (SDPPI) Kemenkominfo Ismail, pemblokiran dengan sistem whitelist dipilih agar tak merugikan konsumen. Dengan sistem ini, masyarakat bisa langsung mengetahui apakah nomor IMEI ponsel yang mereka beli sudah terdaftar atau tidak.

“Pemerintah berkomitmen untuk melaksanakan proses pembatasan perangkat bergerak yang tersambung melalui jaringan seluler melalui pengendalian IMEI ini,” kata Ismail saat konferensi pers di kantor Kemenkominfo, Jakarta, Jumat (28/2).

Menurutnya, skema whitelist ini sesuai dengan peraturan tingkat kementerian yang sudah ditetapkan pada 18 April 2010 lalu.

“Skema whitelist yaitu proses pengendalian IMEI secara preventif agar masyarakat mengetahui terlebih dahulu legalitas perangkat yang akan dibeli,” sambungnya.

Oleh karena itu, Kemenkominfo mengimbau kepada masyarakat untuk mengecek nomor IMEI ponsel mereka melalui situs web imei.kemenperin.go.id.

Namun Ismail mengingatkan ponsel yang tidak terdaftar di situs web Kemenperin masih tetap bisa digunakan setelah aturan IMEI berlaku.

Namun, untuk ponsel dari luar negeri atau dikirim dari luar negerii mesti didaftarkan lewat aplikasi khusus setelah 18 April 2020. Saat ini, aplikasi untuk mendaftarkan IMEI ponsel ilegal itu tengah dirampungkan.

“Perangkat yang aktif sebelum masa berlaku (aturan IMEI) 18 April 2020 akan tetap dapat tersambung ke jaringan bergerak seluler sampai perangkat tersebut tidak ingin digunakan lagi,” pungkasnya.

Sebelumnya, pemerintah menguji dua sistem pemblokiran IMEI yaitu skema blacklist dan whitelist. Telkomsel menguji mekanisme pemblokiran dengan whitelist. Sementara XL menguji pemblokiran dengan metode blacklist.

Mekanisme blacklist akan memblokir akses telekomunikasi pada ponsel-ponsel dengan IMEI yang masuk daftar hitam. Sementara mekanisme whitelist akan memberikan akses telekomunikasi hanya pada ponsel dengan IMEI terdaftar di basis data IMEI pemerintah, SIBINA. Ponsel yang ada di luar dafar putih itu akan langsung terblokir.

Sibina merupakan sistem yang akan menyimpan seluruh IMEI dari vendor dan importir resmi di Indonesia. Nantinya, dari pendeteksi IMEI Sibina akan memberikan notifikasi kepada operator seluler, apakah nomor IMEI tersebut whitelist atau blacklist.

Data IMEI yang berada dalam Sibina sebelumnya akan dipasangkan dengan Tanda Pendaftaran Produk (TPP) Kemenperin. TPP ini memiliki data spesifikasi ponsel dari vendor dan importir. Sedangkan data pelanggan seluruhnya berada di operator seluler. (CNN)

Continue Reading
Advertisement

Advertisement

Trending